Breaking News:

Tajuk

Tajuk - Belajar Daring dan Sinyal

Ternyata adanya wabah ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa belajar di ruang kelas dengan guru secara langsung tidak dapat tergantikan oleh apapun.

Editor: Syaiful Akhyar

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sudah beberapa bulan siswa-siswi di Indonesia melakukan sistem belajar online, namun tak sedikit terdengar beragam keluhan, terutama masalah perangkat, kuota dan sinyal internet yang tidak memadai.

Bagi siswa yang tinggal di kota besar, akses internet mungkin tidak masalah, tapi tak sedikit orangtua yang harus berjuang mencari biaya untuk membeli tambahan perangkat hingga pengeluaran untuk kuota.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan bahwa dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) serta Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD dan pendidikan kesetaraan di masa pandemi dapat dipakai untuk mendukung kesiapan satuan pendidikan.

Dana dapat digunakan untuk pembelian pulsa, paket data, dan/atau layanan pendidikan daring berbayar bagi pendidik dan/atau peserta didik dalam pembelajaran dari rumah.

Hal ini sudah dilakukan di Kabupaten Kotabaru, yang mengalokasikan Dana BOS untuk kuota internet peserta didik.

Meski demikian, kendala anak-anak di kabupaten, di pinggiran kota, desa terpencil, adalah akses internet yang kurang bersahabat.

Mereka harus mencari sinyal hingga ke atas gunung agar bisa mengikuti pelajaran daring, tanpa memedulikan keselamatan diri sendiri.

Adapula siswa-siswi yang berkumpul di suatu tempat belajar bersama, karena hanya di tempat itu mereka bisa mendapat sinyal yang lebih baik.

Sinyal jadi salah satu keluhan sulitnya menerima pelajaran daring.

Kebijakan pemerintah menginstruksikan siswa belajar daring memang tak bisa disalahkan di tengah situasi pandemi ini.

Namun disayangkan, kebijakan itu tidak disertai dengan kesiapan lainnya, sulitnya jaringan hingga biaya tambahan.

Kendala lain belajar daring adalah pemahaman materi yang kurang maksimal dan melawan rasa malas yang semakin meningkat.

Keluhan para orangtua yang kesulitan memberi penjelasan kepada putera puterinya. Pemberian PR terhadap siswa juga tidak menjamin bahwa siswa/siswi akan belajar di rumah.

Ternyata dengan adanya wabah ini memberikan pelajaran untuk kita bahwa belajar di ruang kelas dengan guru secara langsung tidak dapat tergantikan oleh apapun. (*)

Editor: Syaiful Akhyar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved