Breaking News:

Jendela

Dua Mata Melihat Dunia

Hari ini, Jakarta akan kembali melaksanakan PSBB, yang didukung oleh dua provinsi tetangga, yaitu Jawa Barat dan Banten

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Hari ini, Jakarta akan kembali melaksanakan PSBB, yang didukung oleh dua provinsi tetangga, yaitu Jawa Barat dan Banten. Alasannya, jumlah orang yang terkena Covid-19 terus meningkat hingga ribuan. Di sisi lain, kasus positif di Kota Banjarmasin kabarnya sudah menurun (dari 52 kelurahan, 29 zona hijau, 9 kuning dan 14 merah), meskipun jumlah kasus di Provinsi Kalsel per-hari masih tinggi. Bahkan, ada 8 orang bakal calon Pilkada Kalsel terbukti positif. Lantas, bagaimanakah sikap kita?

Kita mungkin sudah lelah dan bosan. Kita bosan dengan berita-berita tentang Covid-19. Ketika jumlah korban masih satu-dua, kita khawatir. Namun ketika angka itu ratusan hingga ribuan, kita jadi ‘terbiasa’ seolah angka itu tidak mewakili manusia. Kita lelah bekerja, belajar dan berkegiatan dari rumah. Kita cape memakai masker dan/atau perisai wajah. Kita tak nyaman dengan jaga jarak dan tanpa salaman dalam pergaulan. Kita sebel harus sering mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun.

Menjaga Asa dalam Pilkada

Perangkap Perlombaan Senjata

Tidak hanya perasaan yang tertekan, tetapi juga penghasilan menurun. Kecuali pegawai pemerintah dan perusahaan besar, mungkin hampir semua bidang pekerjaan mengalami penurunan pendapatan. Sudah tentu, kalangan fakir miskin yang di masa normal saja sudah melarat, apalagi sekarang. Bahkan, kelas menengah yang berduit umumnya menahan diri dari belanja yang tidak perlu, termasuk konsumsi rumah tangga. Singkatnya, roda ekonomi berputar mundur-negatif. Ancaman resesi siap menghadang.

Krisis kesehatan, yang melahirkan krisis psikologis dan krisis ekonomi di atas, tengah dihadapi oleh umat manusia di muka bumi ini. Akankah krisis ini menjadi krisis sosial politik? Akankah orang lapar (hungry man) menjadi orang marah (angry man)? Mungkin saja. Ketika manusia tidak bisa mengatasi masalah yang dihadapinya sendiri, ia akan mudah menyalahkan orang lain. Sasaran empuknya adalah kaum elit yang berkuasa dan/atau yang kaya raya. Keributan, kerusuhan bahkan kekerasan sosial, bisa saja terjadi.

Seburuk itukah? Ya, kalau kita berpangku tangan atau malah nekat melawan kenyataan, tak peduli dengan bahaya yang tengah mengancam. ‘Kita’ adalah semua kita. Tentu saja, para pemimpin lebih bertanggungjawab atas keadaan ini dibanding rakyat biasa. Namun, rakyat pun turut bertanggungjawab. Percuma saja anggaran Covid-19 yang besar itu, jika tidak digunakan tepat waktu dan tepat sasaran.Tak ada guna kebijakan pembatasan sosial, jika masyarakat tidak mentaati protokol kesehatan.

Karena itu, kita harus belajar dari kebijaksanaan yang berasal dari akal budi manusia ataupun wahyu agama. Pertama, terimalah kenyataan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita impikan. Kenyataan bahwa kini dunia dalam ancaman Covid-19 harus diterima. Tak ada guna berandai-andai tentang masa lalu. Sudah maklum, banyak hal dalam hidup ini berada di luar kendali kita. Kaum beriman menyebutnya takdir Tuhan. Tak ada yang terjadi kecuali atas kehendak dan kuasa-Nya.

Kedua, berusaha mencari jalan keluar dari berbagai kesulitan yang dihadapi. Tidak ada yang seratus persen positif atau negatif di dunia ini. Kenyataan, seburuk apapun, selalu memiliki dua sisi, negatif dan positif. Secara filosofis, hal ini suatu keniscayaan karena kita dan seluruh semesta bukanlah Tuhan yang Maha Sempurna. Karena itu, tugas kita adalah memaksimalkan peluang positif. Kita harus berikhtiyar, memilih keputusan-keputusan yang tepat menurut akal sehat, lalu melaksanakannya sepenuh usaha.

Ketiga, kita tidak boleh putus asa. “Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan,” kata Alqur’an. Bagi kaum beriman, harapan itu justru lahir dari kepasrahan dan kesadaran akan kekurangan dan kelemahan diri di hadapan Tuhan. Covid-19 mengajarkan kepada kita betapa sedikit ilmu manusia dan betapa rapuh dirinya. Tugas manusia di dunia ini bukanlah untuk menjadi abadi, melainkan berjuang mewujudkan kebaikan. Ketika segalanya telah dikerahkan, maka hasilnya kita serahkan kepada Tuhan.

Alhasil, kita tak perlu menjadi seorang pesimis yang memandang hidup ini sebagai penderitaan belaka, atau seorang hedonis yang melihat hidup sebagai arena mengejar kenikmatan saja. Kita harus melihat kenyataan dengan dua mata: kelebihan dan kekurangan, kesenangan dan kesedihan, positif dan negatif. Dunia bukanlah surga, bukan pula neraka. Dunia adalah kenyataan dua sisi, yang harus diterima sekaligus diubah sebatas kemampuan kita. (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved