Breaking News:

Jendela

Harapan Tak Pernah Sirna

Mungkin sudah tabiat hidup, kadangkala kita bergairah menggebu pada sesuatu dan kadangkala sebaliknya, kita bosan hingga kelihangan harapan

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Mungkin sudah tabiat hidup, kadangkala kita bergairah menggebu pada sesuatu dan kadangkala sebaliknya, kita bosan hingga kelihangan harapan. Rasa yang berubah-ubah semacam itu amat tergantung pada penilaian kita tentang jarak antara harapan dan kenyataan serta kemampuan kita untuk mempertemukan keduanya. Namun ada kalanya pula, gairah justru memuncak pada saat kita ketakutan kehilangan seluruh harapan, lalu kita terjun berjuang sampai titik darah penghabisan.

Gairah dalam dunia politik tampaknya demikian. Pada saat satu kelompok sangat dominan dan secara realistis tak terkalahkan, lawan-lawannya akan kehilangan gairah, bosan hingga apatis. Biarlah mereka yang kuat itu selamanya berkuasa karena kita tak berdaya. Namun, ketika keadaan mulai berubah, dan pihak lawan mulai goyah, gairah oposisi bangkit kembali. Harapan kembali tumbuh. Selain itu, yang jarang disadari oleh penguasa yang kuat adalah, lawan yang lemah, tertindas dan terpojok, bisa pula bangkit untuk melawan habis-habisan.

Hubungan antara harapan dan kenyataan di dunia politik memang sangat dinamis. Ada ideologi, nilai-nilai moral, undang-undang, hukum, peraturan yang dianggap sebagai pandu bagaimana kekuasaan seharusnya didapatkan, dijalankan dan dipertahakan. Namun, seringkali kenyataan tak sesuai harapan. Seorang tokoh yang semula diagung-agungkan, ternyata tidak jauh beda dengan yang lain. Partai yang dikira bersih, ternyata sama korupnya dengan yang lain. Ideologi, cita-cita, nilai-nilai moral, ternyata sebatas hiasan bibir belaka.

Jika keadaan buruk seperti itu berlarut-larut, masyarakat secara alamiah akan apatis, tak mau peduli lagi. Cita-cita politik sebagai suatu kebersamaan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur semakin hari semakin kehilangan daya pikatnya. Orang makin pragmatis, mengejar keuntungan pribadi dan jangka pendek belaka. Dalam dunia birokrasi, muncullah para penjilat. Kaum cendekiawan melacurkan diri. Pengusaha dan penguasa bersekongkol, sementara rakyat kecil tak mau ketinggalan, memaksa para politisi lima tahun sekali membayar tunai harga suara mereka.

Hanya saja, manusia tak pernah bisa lari dari bisikan nurani, suara moral yang ada dalam dirinya. Manusia juga tak pernah bisa hidup tanpa harapan, sekecil apapun harapan itu. Semakin besar krisis menimpa manusia, semakin besar pula harapan perubahan yang dipicunya. Muncullah tokoh-tokoh kharismatis, yang pandai berpidato dan menjadi penyambung lidah orang-orang yang terpinggirkan. Sang tokoh dianggap dapat membawa rakyat keluar dari krisis, atau paling kurang, sebagai simbol perlawanan terhadap kezaliman.

Selain itu, bagi sebagian orang, melawan tanpa cita-cita bukanlah perjuangan yang menarik. Karena itu, dalam masa krisis, ideologi alternatif biasanya akan laku, khususnya di kalangan anak muda. Pancasila dan demokrasi dianggap telah gagal, lalu mereka menawarkan alternatif. Bagi anak-anak muda itu, ideologi alternatif menarik bukan saja karena memberikan harapan di masa depan, senaif apapun itu, melainkan juga pengobat psikologis agar tidak menyalahkan diri sendiri. Aku gagal bukan karena kesalahanku sendiri, melainkan karena kesalahan orang lain, negara atau ideologi.

Di sisi lain, bosan dan kecewa dengan kenyataan hidup yang pahit, tidak bisa cepat terobati dengan impian ideologis dan perubahan politik. Ibarat sakit kepala, orang perlu obat penghilang rasa sakit. Syukurlah, televisi dan media sosial dapat membantu. Acara-acara komedi, lawakan sekonyol apapun itu, sangatlah digemari. Yang penting bisa tertawa. Kontes dangdut hingga larut malam, juga sangat menghibur. Apalagi para artisnya adalah orang kecil seperti kita, tetapi bernasib baik menjadi bintang. Acara-acara talk show juga ramai, dari yang intelek hingga yang main-main belaka.

Bagi sebagian orang lagi, dunia hiburan takkan mendamaikan hati. Mereka mencari ketenangan dalam ibadah dan ingat kepada Allah. Daripada memikirkan politik yang rumit dan sulit diharapkan, lebih baik mendengarkan pengajian, membaca salawat dan puji-pujian sambil mensyukuri nikmat yang diterima apa adanya. Hidup di dunia takkan lama. Penguasa akan silih berganti, dan semuanya akan mati. Tiap orang akan bertanggungjawab di hadapan-Nya. Yang baik dan jahat akan menerima ganjaran masing-masing. Inilah harapan terakhir.

Alhasil, politik itu nyata sekaligus misterius, memicu harapan sekaligus putus asa. Namun, pada dasarnya harapan tak pernah sirna di hati manusia. Tugas kita adalah menjaga dan membangkitkan harapan itu serta mewujudkannya menjadi kenyataan. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved