Breaking News:

Jendela

Banjir, Gelap dan Cahaya

Meski jari jemari kita sudah letih menulis kata-kata tentang bahaya perusakan lingkungan akibat penebangan hutan, pertambangan batubara

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Rabu malam, 13 Januari 2021, hujan tak henti-henti hingga pagi. Kamis, jam 07.15, saya berangkat ke kampus saat hujan masih deras. Hujan kadang gerimis, tetapi terus-menerus sampai sore.
Ternyata, malam hingga siang Jumat, hujan juga tetap turun, seolah tiada akhir, dua hari dua malam!

Banjir pun melanda beberapa daerah. Semula air mulai menggenangi jalanan semata kaki. Pelan-pelan setengah lutut hingga selutut, sepinggang hingga melebihi kepala. Banjir besar melanda Kabupaten Tanah Laut, Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Banjar. Ada banyak video menunjukkan rumah dan kantor yang tenggelam. Ada jembatan yang putus. Listrik padam. Air bersih sulit. Harta benda rusak bahkan lenyap. Ribuan orang mengungsi, lapar dan haus. Pilu menyayat kalbu.

Banjarmasin akhirnya kena juga. Di depan rumah saya, jalanan semula tergenang hanya sejengkal. Namun, Jumat, Sabtu hingga Minggu, air terus naik sampai selutut. Rumah ibu saya, yang memang agak rendah, akhirnya kemasukan air. Begitu pula kampus UIN. Kantor Rektorat lantai satu, juga tergenang air semata kaki. Namun, secara umum, kampus masih aman. Sejumlah mahasiswa kami evakuasi ke asrama kampus karena rumah kos mereka tergenang. Beberapa karyawan UIN juga diinapkan di Guest House kampus karena rumah mereka diserbu banjir.

Meski mulut kita sudah berbuih-buih membahas perubahan iklim. Meski jari jemari kita sudah letih menulis kata-kata tentang bahaya perusakan lingkungan akibat penebangan hutan, pertambangan batubara dan perkebunan sawit. Ternyata, kita tersentak juga dengan bencana ini. Kita terkejut, seolah tak percaya. Seumur-umur, tidak pernah mengalami banjir yang sedahsyat dan seluas ini, di saat menghadapi Covid-19 pula. Musibah disusul musibah. Inilah bencana kuadrat!

Warganet, khususnya orang Banjar, sempat marah karena tiadanya perhatian media nasional dan pemerintah pusat atas bencana ini di hari-hari awal, sementara musibah di provinsi lain terus-menerus disebut. “Kalsel juga Indonesia” menjadi ungkapan yang ramai di medsos. “Kekayaan alamnya dikeruk. Saat bencana, kita yang menanggung,” kata yang lain. Namun akhirnya, Presiden Jokowi bicara, dan memastikan bantuan akan segera dikirim. Televisi nasional pun mulai meliput!

Selain bantuan pemerintah daerah dan pusat, kita pun terkesan dengan bantuan warga, baik yang dari ormas, aktivis mahasiswa hingga orang perorang. Para relawan berjibaku mengevakuasi korban. Ada pula dapur-dapur umum untuk para pengungsi. Para mahasiswa seolah menemukan momen berharga untuk aktualisasi diri dengan membantu sesama. Kawan-kawan dari berbagai wilayah di Nusantara dengan murah hati berderma. Kebersamaan dan solidaritas sungguh amat terasa.

Memang begitulah hidup. Selalu ada sisi terang di balik sisi gelap. Saya teringat masa kecil, ketika air menggenangi jalan di kampung kami di Amuntai. Kami, anak-anak justru bersuka ria bermain-main dengan air. Kini saya menyaksikan hal serupa. Anak-anak berlarian dan berenang di air seolah di Waterboom. Orang dewasa juga dapat bergembira. Sabtu lalu, Satpam di UIN berhasil menangkap beberapa ekor ikan patin yang berkeliaran di air. Mereka pun makan ikan patin bakar siang itu!

Ada lagi yang sifatnya pribadi. Saya terharu menerima banyak pesan teman-teman dari berbagai wilayah di Indonesia yang dikirim melalui ponsel, menanyakan kesehatan dan keselamatan, menawarkan bantuan dan mendoakan. Rupanya, masih banyak orang yang memperhatikan saya dan keluarga, sementara saya sendiri tidak memperhatikan orang lain. Mereka tak punya kepentingan apa-apa karena mereka tidak bekerja untuk saya. Inilah ketulusan hati yang menggetarkan.

Akhirnya, sembari berduka dan berusaha membantu korban sebatas kemampuan serta mencoba melihat cahaya di balik gelap, akankah banjir besar ini mendorong gerakan penyelamatan lingkungan di Kalsel atau bahkan di Kalimantan dan Indonesia? “Seorang mukmin tidak akan digigit ular dua kali dari lubang yang sama,” kata Nabi. Pengalaman adalah guru yang paling baik, tetapi juga bisa menjadi hakim yang paling kejam, khususnya bagi orang yang buta dan tuli hatinya! (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved