Breaking News:

Jendela

Cina dan Kearifan Lintas Budaya

Betapa penting menyadari universalitas kemanusiaan, yang melampaui identitas apapun. Manusia sebagai manusia adalah sama, apapun warna kulitnya, etnis

Editor: Royan Naimi
UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh : Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari

Pada momen Imlek kemarin, saya mencoba mencari inspirasi dari buku Rita Lauw Fu berjudul Tiongkok Wise Stories, 96 Cerita Bijak Inspiratif (2016). Karena simbol hewan Tahun Baru Cina kali ini adalah kerbau, maka saya memilih salah satu cerita pendek di buku itu berjudul “kerbau air”.

Diceritakan, seorang petani tua dan cucunya berangkat dari kampung mereka ke pasar yang jauh, membawa seekor kerbau air yang kecil untuk dijual. Si cucu melompat-lompat kegirangan sambil memegang tali yang mengikat kerbau itu, sementara si kakek juga turut melompat kecil sampai jenggotnya yang putih berayun-ayun. Mereka pun berjalan bersama kerbau kecil itu, dan dalam perjalanan, tiga kali bertemu orang-orang yang mengomentari mereka.

Kali pertama, mereka bertemu orang yang bilang, mengapa mereka berjalan kaki, padahal kerbau itu bisa ditunggang. Sesuai saran, mereka pun menunggang kerbau itu. Kali kedua, orang bilang, kenapa anak muda juga ikut menunggang, padahal dia masih kuat berjalan. Si cucu pun akhirnya turun dari kerbau. Kali ketiga, orang bilang, si kakek tega sekali membiarkan anak kecil berjalan. Akhirnya, si kakek dan cucu menggendong kerbau kecil itu. Ternyata, mereka malah ditertawakan orang. Saat itulah mereka sadar bahwa komentar dan saran orang tidak selalu harus diikuti.

Bagi kalangan santri, cerita di atas tidaklah asing. Hanya saja, tokoh yang ditampilkan bukan petani Cina, tetapi Nasruddin Hoja, dan hewan yang dibawa bukanlah kerbau kecil, melainkan keledai. Lantas, mana yang paling awal, cerita petani Cina atau Nasruddin? Dalam kebudayaan, yang asli dan tiruan seringkali sulit dikenali karena pada dasarnya kita belajar satu sama lain. Tidak ada satu budaya yang benar-benar unik tanpa kemiripan dengan yang lain. Satu masyarakat, langsung ataupun tidak langsung, mengalami interaksi dengan masyarakat lain. Apalagi di era sekarang, ketika yang lokal dan global beriiringan, sehingga terjadilah glokalisasi.

Selain itu, pesan moral cerita tersebut memang universal, lebih-lebih di era media sosial. Sebagai anggota masyarakat, sulit sekali kita menghindari penilaian negatif, ketidaksukaan dan kritik orang lain kepada kita. Apalagi bagi seorang pemimpin. Jangankan yang salah, yang benar dan baik saja bisa dikomentari macam-macam. Kini, media sosial membuka ruang kebebasan berkomentar yang tiada bandingnya. Jika kita hanya mengikuti komentar orang lain, maka kita akan kacau sendiri. Dalam hiruk pikuk komentar, kita harus mandiri, menjadi diri sendiri.

Cerita pendek lain dari buku Rita Lauw Fu berjudul “Guru dan Murid” juga sangat akrab di kalangan santri. Diceritakan, seorang biksu kepala yang sudah lanjut usia dan merasa tidak lama lagi ajalnya akan tiba, mengumpulkan murid-muridnya, untuk menguji siapa di antara mereka yang layak menggantikannya. Dia mengajukan enam pertanyaan kepada mereka: Apa yang paling dekat? Apa yang paling jauh? Apa yang paling besar? Apa yang paling berat? Apa yang paling ringan? Dan apa yang paling tajam? Ternyata, semua muridnya tidak ada yang bisa menjawab dengan benar.

Bagi kalangan santri, enam pertanyaan di atas biasanya dinisbahkan kepada Sufi ternama, Imam al-Ghazali. Beliau menjelaskan bahwa yang paling dekat adalah kematian, sedangkan yang paling jauh adalah masa lalu. Yang paling berat adalah memikul amanah atau janji, sedangkan yang paling ringan adalah meninggalkan ibadah. Yang paling besar adalah hawa nafsu, sedangkan yang paling tajam adalah lidah manusia. Semua jawaban ini juga kita temukan dalam cerita pendek versi Cina di atas.

Bagi kita, sekali lagi, yang penting bukanlah menyelidiki asal usul yang asli, melainkan pesan yang dikandung dalam anekdot tersebut berupa kebijaksanaan hidup. Orang yang hidup penuh ambisi seringkali lupa akan kematian. Tak sedikit pula orang yang tidak mensyukuri nikmat masa kini karena terpenjara masa lalu. Banyak orang yang gila jabatan, padahal jabatan itu adalah amanah yang paling berat. Ada pula orang yang meremehkan ibadah, memuaskan hawa nafsu dan suka berkata-kata kasar. Semua ini adalah pangkal kehancuran hidup manusia sepanjang masa.

Alhasil, kesamaan anekdot di atas menunjukkan kepada kita betapa penting menyadari universalitas kemanusiaan, yang melampaui identitas apapun. Manusia sebagai manusia adalah sama, apapun warna kulitnya, etnisnya, agamanya, budayanya. Di sisi lain, kita juga tak boleh menyangkal bahwa tiap manusia, tiap etnis dan kelompok, memiliki keunikan tersendiri. Yang sama dan yang berbeda harus dipertemukan, seperti simbol Yin dan Yang dalam ajaran Taoisme.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved