Breaking News:

Jendela

Vaksinasi: Memanfaatkan Ilmu

Vaksin merupakan wujud dari usaha perlawanan manusia melawan pandemi Covid-19 yang sudah lebih setahun mengganas dan melindas kehidupan manusia

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - RASANYA biasa saja, sedikit lebih sakit dari gigitan nyamuk, hanya dalam beberapa detik. Begitulah kurang lebih yang saya rasakan, saat jarum suntik ditusukkan ke bahu saya oleh petugas vaksinasi Covid-19 di Gedung Mahligai Pancasila, Banjarmasin, 3 Maret 2021 lalu. Yang luar biasa memang bukan rasanya saat disuntik, tetapi latarbelakang kehadiran vaksin itu sendiri.

Vaksin merupakan wujud dari usaha perlawanan manusia melawan pandemi Covid-19 yang sudah lebih setahun mengganas dan melindas kehidupan manusia di muka bumi. Bukan hanya jutaan orang tutup usia, tetapi ratusan juta orang kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan yang signifikan. Belum lagi anak-anak dan remaja yang kehilangan kesempatan untuk bertemu dan bergaul dengan teman sebaya di sekolah atau perguruan tinggi. Keharusan menjaga jarak dan menghindari kerumunan, membuat banyak orang dilanda sepi dan depresi.

Vaksin menjadi istimewa karena ia adalah usaha perlawanan yang bersifat ilmiah. Vaksin bukan sihir yang lahir dari mantra tertentu, melainkan hasil usaha nalar-rasional yang telah diujicobakan secara empiris, yakni berdasarkan pengalaman inderawi manusia. Vaksin adalah buah dari kerja keilmuan yang teliti dan terbuka untuk diverifikasi, yakni dicek ulang keampuhannya. Secara lebih luas, vaksin adalah wujud dari keistimewaan manusia sebagai makhluk yang berpikir, yang mengembangkan dan menggunakan ilmu, atau secara khusus, sains dan teknologi, untuk kesejahteraan hidupnya.

Vaksin juga menunjukkan bahwa ilmu bukan untuk ilmu belaka, tetapi ilmu untuk kemanusiaan. Ilmu harus menjadi petunjuk dalam kehidupan manusia laksana pelita di tengah kegelapan. Ilmu harus fungsional dalam kehidupan manusia, yakni senantiasa mendatangkan manfaat. Manfaat itu adalah kebaikan dan kesejahteraan masyarakat. Kemanfaatan itu ditunjukkan oleh fungsi ilmu yang dapat menjelaskan, meramalkan dan mengendalikan keadaan tertentu. Dengan demikian, ilmu tidak hanya membuat hidup manusia lebih mudah, tetapi juga lebih dipahami dan terkendali.

Namun, vaksin juga menunjukkan keterbatasan ilmu manusia. Ada banyak vaksin yang sudah dibuat para ilmuwan, dan hasil ujicoba menunjukkan efektivitas yang berbeda. Menurut laporan Kompas (2 Maret 2021), vaksin dapat mengurangi risiko sakit dan kematian, tetapi orang yang divaksin masih mungkin tertular atau menularkan virus Covid-19. “Virus masih bisa bereplikasi dan bermutasi dalam tubuh yang telah divaksinasi. Bahkan mutasi memungkinkan virus itu lolos dari hadangan antibodi.” Ini tidak berarti bahwa vaksinasi tidak berguna. Yang dimaksud adalah adanya kemungkinan lain.

Dengan demikian, betapapun hebatnya ilmu manusia, ia tetap terbatas. Namun, kita tidak pernah tahu, di manakah batas ilmu itu. Manusia dari generasi ke generasi akan terus mengembangkan ilmu, dengan berpijak pada temuan-temuan keilmuan sebelumnya. Semakin banyak yang diketahui manusia, semakin sadar pula ia betapa lebih banyak yang belum diketahuinya. Tugas manusia bukanlah melampaui keterbatasan—yang mustahil baginya karena dirinya sendiri juga terbatas—melainkan terus mengembangkan diri sampai batas maksimal yang bisa diraihnya.

Persoalan menjadi rumit ketika manusia tidak memperlakukan ilmu sebagaimana seharusnya. Ilmu tidak digunakan untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia, melainkan untuk kepentingan sempit diri sendiri atau kelompok. Beberapa negara kaya telah memborong vaksin, sementara negara-negara miskin dibiarkan tak dapat jatah. Sebagian negara juga menggunakan ‘sumbangan’ vaksin kepada negara-negara yang lemah sebagai alat negosiasi politik. Vaksin bukan lagi menjadi senjata membela kemanusiaan, tetapi senjata yang ditodongkan kepada sesama manusia.

Yang lebih buruk lagi adalah, entah demi kepentingan apa, pihak-pihak tertentu sengaja menyebar berita bohong tentang bahaya vaksinasi atau konspirasi jahat di balik vaksinasi tanpa basis ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan, menurut penelusuran Kompas (2 Maret 2021), narasi Antivaksin di Twitter pada 12 Januari 2021, sehari sebelum program vaksinasi dimulai pemerintah, dengan tagar #TolakDivaksinSinovak, diduga kuat digerakkan secara sengaja oleh pihak tertentu. Boleh jadi, ini adalah upaya politis untuk menggagalkan upaya pemerintah mengendalikan Covid-19.

Alhasil, ilmu itu ibarat pisau bermata dua: ia dapat digunakan untuk kebaikan atau keburukan, atau bahkan dibiarkan tak digunakan. Vaksinasi adalah usaha memanfaatkan dan mengamalkan ilmu demi kebaikan umat manusia. Sebaliknya, mempolitisasi vaksin adalah menggunakan ilmu untuk tujuan sempit bahkan jahat. Di antara keduanya adalah yang tidak mau menggunakan, mengabaikan bahkan meremehkan vaksin. Termasuk golongan yang manakah Anda? (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved