Breaking News:

Jendela

Teror dan Putus Asa Anak Muda

Ada yang berpendapat, tindakan teror itu lahir dari suatu pandangan ideologi Islam politik radikal yang melihat dunia ini hitam-putih, jahiliyah-Islam

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Editor: Eka Dinayanti

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - TEROR kembali menyentak kita. Pada Minggu, 28 Maret 2021, pasangan suami-istri melakukan bom bunuh diri di depan Katedral Makassar, Sulawesi Selatan. Tiga hari kemudian, Rabu, 31 Maret 2021, seorang perempuan berbekal senjata angin menyerang Mabes Polri di Jakarta hingga dia sendiri mati ditembak polisi. Ketiganya masih muda, usia 25-26 tahun.

Mengapa mereka melakukan aksi bunuh diri seperti itu? Inilah pertanyaan yang selalu muncul pasca kejadian teror. Ramailah orang membahasnya. Ada yang berpendapat, tindakan teror itu lahir dari suatu pandangan ideologi Islam politik radikal yang melihat dunia ini hitam-putih, jahiliyah-Islam. Para pelaku teror yakin, mereka berada di posisi putih, Islam yang ‘mahabenar’, sementara orang lain di luar mereka adalah hitam, jahiliyah yang ‘mahasalah’. Mereka merasa ‘mahabenar’ karena mendasarkan diri pada ayat-ayat suci, wahyu yang diyakini bersifat mutlak benar.

Pandangan hitam-putih memang sederhana dan mudah dicerna karena orang tidak perlu berpikir mendalam, menimbang dan menganalisa. Pola pikir hitam-putih memang cocok untuk pertarungan berhadap-hadapan, lebih-lebih jika menyangkut kekuasaan. Karena itu, ketika terjadi pertarungan politik, para politisi sangat suka dengan pandangan hitam-putih, ketimbang sikap moderat. Seolah yang sini malaikat, yang sana setan. Yang sini ahli surga, yang sana ahli neraka. Hal ini makin menjadi-jadi jika disandarkan pada agama yang berasal dari Tuhan Yang Mutlak.

Namun, pandangan hitam-putih itu menyesatkan, karena tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam kenyataan, tidak semua Muslim itu baik dan yang di luar mereka adalah jahat. Dalam kenyataan, baik Muslim atau bukan, tiap orang dan kelompok berpotensi menjadi baik atau jahat. Itulah hakikat manusia sepanjang masa. Ia memiliki kebebasan moral untuk memilih antara yang baik dan yang buruk. Begitu pula, Alquran memang wahyu yang dipercaya berasal dari Allah yang mutlak, tetapi pemahaman dan penafsiran manusia terhadapnya tidaklah mutlak benar.

Ada lagi yang melihat, aksi teror yang terjadi selama ini tiada lain dari akibat ketimpangan sosial, ketidakadilan dan penindasan. Salah satu surat yang dibuat pelaku teror menunjukkan bahwa pelaku merasa dirinya tidak berharga bagi keluarga dan dia khawatir akan masa depan. Dengan menjadi ‘syahid’, dia percaya akan dapat membawa keluarganya di akhirat masuk surga. Ada lagi surat yang menunjukkan kecemasan dan kemarahan terhadap kenyataan sosial. Alih-alih menyalahkan diri sendiri, ia menyalahkan dunia luar yang tidak adil, yang membuat banyak orang menderita.

Alasan sosial dan psikologis di atas sangat penting. Mungkin lebih penting daripada alasan ideologis-keagamaan. Kiranya tidak ada orang yang mau melakukan bunuh diri jika dia merasa hidupnya baik-baik saja, apalagi damai sejahtera. Orang yang ingin mati biasanya karena sudah bosan hidup. Manusia umumnya takut mati. Ia bahkan ingin hidup seribu tahun lagi. Kalau bukan karena penderitaan dan keputusasaan, sangat sulit orang mau melakukan bom bunuh diri. Inilah masalah serius yang wajib kita perhatikan. Terorisme lahir dari dunia kita yang sedang sakit dan timpang.

Karena itu, kita perlu mendengarkan keluh-kesah orang-orang radikal, lebih-lebih teroris. Apa saja ketidakpuasan mereka? Misalnya, mereka menolak demokrasi karena demokrasi politik yang menjanjikan keadilan sosial, ternyata masih jauh panggang dari api. Politik uang masih merajalela, kaum oligark makin berjaya, sementara rakyat seringkali diperdaya. Kekecewaan makin menggunung ketika anak-anak muda mengetahui bahwa sebagian tokoh agama dan cendekiawan, alih-alih menjadi teladan keteguhan moral, justru mendukung dan turut menikmati kekuasaan yang korup.

Alasan lain mengapa seseorang menjadi teroris adalah interaksi di dunia maya, melalui media sosial dan sarana internet lainnya. Anak-anak muda adalah golongan yang sangat mudah terserap ke dunia baru ini. Tuntutan hidup yang berat, dan masa depan yang gamang, membuat mereka mencari-cari jalan keluar yang cepat dan mudah, melalui informasi di dunia maya. Sekali dia membuka informasi yang mengarah kepada radikalisme, maka sistem algoritma akan menggiringnya ke informasi lain yang serupa. Lama-lama, dia terpengaruh dan bergabung dengan kelompok radikal-teroris itu.

Ketika teror terjadi, banyak pihak yang membuat pernyataan mengutuknya. Hal ini wajar sebagai ungkapan kesal dan marah terhadap tindakan melawan kemanusiaan itu. Namun, di sisi lain, saya khawatir, di balik ungkapan kutukan itu terselip perasaan benar sendiri, seolah pelaku teror saja yang salah. Padahal, ideologi Islam politik radikal, ketidakpuasan sosial hingga propaganda radikalisme di dunia maya, semuanya tidak terlepas dari tanggungjawab pemerintah, tokoh-tokoh agama dan masyarakat. Terorisme adalah penyakit yang harus kita cegah dan sembuhkan bersama.

Saya pun teringat, ketika sebagian tokoh mengecam goyang ngebor Inul Daratista, Emha Ainun Nadjib menulis artikel dengan judul menohok: “Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua”. Mungkin, terorisme juga demikian. Jangan-jangan, apa yang kita kutuk itu justru adalah buah dari perbuatan kita sendiri? (*)

“Ketika teror terjadi, banyak pihak yang membuat pernyataan mengutuknya. Hal ini wajar sebagai ungkapan kesal dan marah terhadap tindakan melawan kemanusiaan itu. Namun, di sisi lain, saya khawatir, di balik ungkapan kutukan itu terselip perasaan benar sendiri, seolah pelaku teror saja yang salah. Padahal, ideologi Islam politik radikal, ketidakpuasan sosial hingga propaganda radikalisme di dunia maya, semuanya tidak terlepas dari tanggung jawab pemerintah, tokoh-tokoh agama dan masyarakat. Terorisme adalah penyakit yang harus kita cegah dan sembuhkan bersama.” (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved