Breaking News:

Jendela

Apa Arti Niat karena Allah?

Niat itu letaknya di hati, bukan di lidah, tetapi lidah membantu hati menghayati maknanya

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Editor: Eka Dinayanti

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - MENJELANG Ramadan, anak-anak biasanya diajari oleh orangtua atau guru di sekolah/madrasah melafal dan menghafal niat puasa. Niat itu dilafalkan dalam bahasa Arab dan diiringi terjemahnya ke dalam bahasa Indonesia. Niat adalah menginginkan mengerjakan sesuatu dengan tujuan tertentu. Niat itu letaknya di hati, bukan di lidah, tetapi lidah membantu hati menghayati maknanya.

Menurut Mazhab Maliki, niat puasa Ramadan boleh dilakukan sekali saja, di awal bulan untuk puasa sebulan penuh. Namun, bagi Mazhab Syafi’i, Hanafi dan Hambali, niat puasa harus dilakukan tiap malam. Mungkin karena mayoritas Muslim Indonesia bermazhab Syafi’i, maka niat itu dilafalkan tiap malam. Namun disarankan, untuk di awal Ramadan, sebaiknya kita berniat sebulan penuh, karena khawatir suatu hari nanti terlupa. Agar tidak terlupa itu pula, dalam budaya Banjar, di akhir salat tarawih, imam biasanya mengucapkan lafal niat puasa itu bersama-sama dengan seluruh jemaah.

Dalam setiap lafal niat ibadah Islam, biasanya dinyatakan bahwa ibadah itu dilaksanakan “karena Allah” (lillâhita’âlâ). Ini untuk menegaskan bahwa ibadah dilakukan hanya karena Allah, bukan alasan lain. Bahkan lebih jauh, doa pembuka salat yang diambil dari ayat Al-Qur’an, menegaskan: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku, hanya karena Allah, Tuhan semesta alam.” Penegasan ini tentu bukan sekadar retorika belaka, melainkan suatu komitmen yang harus terus-menerus ditegakkan dalam hidup, yakni hidup dan mati karena Allah, bukan yang lain.

Namun, orang tentu akan bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan “karena Allah” itu? Jawaban sederhana yang sering kita dengar adalah, karena Allah artinya karena menjalankan perintah-Nya. Dalam pengertian ini, manusia siap melaksanakan apapun yang diperintahkanTuhan, meskipun ia tidak benar-benar memahami manfaat dari perintah itu. Sebagai makhluk yang diciptakan-Nya, alangkah sombongnya jika dia berani mempertanyakan dan membantah perintah Sang Pencipta. Di sini, manusia laksana budak yang baik, yang selalu taat dan tunduk kepada perintah tuannya.

Makna kedua, karena Allah artinya karena mengharap ganjaran kebaikan dari Allah, baik dalam kehidupan di dunia ini ataupun kelak di akhirat. Pada saat yang sama, karena Allah juga berarti karena takut akan murka dan siksa-Nya jika seseorang tidak melaksanakan perintah itu. Dalam pengertian ini, seseorang yang beribadah laksana pedagang yang mengharap untung dan menghindari rugi. Dia seolah bertransaksi dengan Allah. Jika dia dapat “menyenangkan” Allah, maka dia akan mendapatkan balasan yang menyenangkan. Jika tidak, maka dia akan sengsara.

Makna ketiga, karena Allah artinya adalah karena cinta kepada-Nya. Cinta lahir dari kekaguman akan pesona dan keindahan yang dicintai. Manusia mencintai orang yang baik (rupa dan perilakunya) dan orang yang berbuat baik kepadanya, apalagi jika kebaikan orang itu sangat menentukan hidup dan matinya. Allah adalah Yang Maha Baik, yang mengalirkan kebaikan tanpa henti kepada manusia, dan bahkan tanpa Dia, manusia takkan pernah ada. Allah itu Maha Indah, yang tercermin dalam alam ciptaan-Nya yang elok. Karena itu, bagi kaum Sufi, kita beribadah terutama karena cinta kepada-Nya.

Tentu saja, tiga penjelasan makna niat karena Allah di atas tidaklah bertentangan satu sama lain. Mungkin bisa dikatakan, yang terakhir lebih tinggi dari yang sebelumnya. Namun, semua penjelasan itu masih terpusat pada Allah sebagai Tuhan yang memerintah, membalas kebaikan dan keburukan hingga mencintai tanpa pamrih. Dalam kehidupan modern, ketika manusia sering kali lupa akan Allah, penghayatan semacam ini tampaknya makin sulit, terutama dalam kehidupan sehari-hari, yang lebih terfokus pada diri sendiri. Apa sebenarnya yang ingin kucapai dalam hidupku?

Karena itu, ada pengertian keempat tentang niat karena Allah itu, yang terkait dengan nilai-nilai moral. Allah adalah sumber nilai-nilai moral. Asmaul Husna, nama-nama Allah yang agung, mencerminkan nilai-nilai moral yang harus kita hayati. Begitu pula, Fazlur Rahman mengatakan, intisari Al-Qur’an adalah hukum moral yang diciptakan Allah. Manusia tidak bisa menciptakan hukum moral, tetapi dia wajib tunduk kepadanya. Ketundukan kepada hukum moral itulah yang disebut Islâm dan manifestasinya dalam kehidupan disebut ‘ibâdah, pengabdian kepada Allah.

Dalam pengertian keempat ini, niat karena Allah artinya adalah karena ingin mencapai ketinggian moral dalam hidup,sehingga dekat dengan Allah. Seseorang berpuasa karena dia ingin menjadi manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsu, jujur dan peduli pada yang lemah, serta senantiasa ingat kepada-Nya. Inilah kiranya yang dimaksud Al-Qur’an bahwa tujuan puasa adalah agar orang mencapai taqwâ. Menurut sebagian ulama, taqwâ berasal dari kata waqâ yang berarti memelihara. Orang yang takwa adalah orang yang berhasil memelihara dirinya dari kejatuhan moral.

Demikianlah empat makna niat karena Allah. Selamat menjalankan ibadah puasa! (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved