BTalk
BTalk, Cerita Warga Sungai Malang Ajari Mengaji pada Warga Binaan Lapas Amuntai
Ustaz Nawawi Abdurra'uf, warga Sungai Malang Kabupaten HSU, pengasuh Ponpes Terpadu At Taubah Lapas Amuntai ajarkan ilmu agama kepada warga binaan.
Penulis: Reni Kurnia Wati | Editor: Alpri Widianjono
Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Memberikan pendampingan terhadap warga binaan Lembaga Pemasyarakatan, tidaklah mudah.
Dengan riwayat kejahatan dan berbagai karakter, menjadikan dakwah kepada narapidana sangatlah memerlukan kesabaran dan pendekatan yang baik.
Dan hal ini sukses dilakukan oleh Ustaz Nawawi Abdurra'uf, SAg, sekaligus merupakan Pembina Pondok Pesantren Terpadu At Taubah, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan (Kalsel).
Hal itu diceritakannya dalam BTalk, program Banjarmasin Post, dipandu Mulyadi Danu Saputra sebagai host, Senin (26/4/2021).
Baca juga: Jaga Ketertiban Ramadhan, Satpol PP Kabupaten HSU Amankan Beberapa Remaja Diduga Mabuk
Baca juga: Jajaran Lapas IIB Amuntai Kabupaten HSU Selenggarakan Peringatan Isra Mikraj
Pondok pesantren (ponpes) dimaksud berada di dalam lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Amuntai, Kota Amuntai, didirikan pada 2016. Tujuannya, meningkatkan kualitas diri para warga binaan.
Diketahui, Ustad Nawawi adalah warga Kelurahan Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten HSU, Provinsi Kalsel.
Pada bulan Ramadhan, ada beberapa kegiatan keagamaan yang dilaksanakan, yaitu takmir Ramadan dan pengajaran menjadi dai. Saat ini, ada 25 Santri Ponpes At Taubah ini yang dilatih menjadi dai.
Berbagai macam jenis warga binaan yang dikelompokkan oleh Ustaz Nawawi.
Baca juga: Operasikan Judi Togel Online, Warga Desa Murung Asam HSU Ditangkap
Baca juga: Lapas Amuntai Canangkan WBK dan WBBM
"Yaitu, warga binaan yang khilaf dengan arti hanya karena kelalaian seperti kecelakaan. Ada pula yang karena lalai dalam tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, meskipun sebenarnya tidak ikut menikmati hasil, seperti korupsi. Kemudian, ada pelaku tindak pidana berat, seperti narkoba dan pembunuhan," urainya.
Untuk memberikan penyadaran kepada tiga jenis golongan warga binaan ini, Ustaz Nawawi menyebut memiliki pendekatan yang sangat berbeda.
Berbagai upaya dilakukan, seperti menggelar pengajian di Ponpes Terpadu At Taubah yang berada di dalam Lapas Amuntai, namun tidak semua warga binaan ikut.
Kemudian, lanjut Ustaz Nawawi, dirinya menyarankan untuk memasang pengeras suara secara terpusat sehingga ceramah yang disampaikan di masjid juga bisa didengarkan melalui kamar masing-masing.
Mengajar membaca Al-Qur'an pun demikian, diharapkan para warga binaan di Lapas Amuntai bisa terketuk hati saat mendengarkannya.
"Untuk menyadarkan mereka, dilakukan secara bertahap. Tidak bisa menggunakan kekerasan lisan, sindiran atau bahkan memvonis. Mereka justru akan berontak," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ustaz-nawawi-abdurrauf-sag-pembina-ponpes-terpadu-at-taubah-lapas-amuntai-kabupaten-hsu.jpg)