Breaking News:

Jendela

Keindahan Misteri

Sains dan teknologi tidak akan bisa menjawab misteri ini, terutama terkait dengan makna dan tujuan hidup

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Editor: Eka Dinayanti

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Suatu hari, Nasruddin Hoja ditanya oleh Timur Lenk, “Sampai kapan manusia melahirkan dan meninggal?” Nasruddin menjawab cerdik, ”Sampai surga dan neraka penuh.” Ketidaktahuan dijawab dengan ketidaktahuan. Siapa pula yang tahu kapan surga dan neraka terisi penuh? Namun, kalau dicermati lebih dalam, pokok soalnya bukan terletak pada kepastian jawaban, melainkan pada misteri hidup dan mati itu sendiri. Dalam misteri terkandung ketakutan sekaligus harapan.

Sudah lebih setahun krisis Covid-19 belum juga berakhir. Ramadan tahun lalu hingga Ramadan kali ini, dunia masih bergumul dengan virus itu. Jutaan orang telah menjadi korban, tetapi lebih banyak lagi yang selamat. Para ilmuwan bekerja keras menemukan vaksin, dan cukup banyak yang berhasil dalam rentang waktu yang lebih cepat dari biasa. Vaksin diproduksi besar-besaran, dan vaksinasi massal dilakukan. Harapan mulai tumbuh. Corona akan dapat dikalahkan. Namun, ketakutan tetap ada. Gelombang ketiga infeksi Corona muncul lagi. Virus itu juga bermutasi menjadi lebih ganas.

Kapan semua ini berakhir? Entahlah. Para ilmuwan paling banter bisa menjawab secara hipotetis: jika begini, maka begitu. Perilaku manusia sulit diprediksi dan dikendalikan. Kebebasan manusia untuk memilih tindakan yang diinginkannya membuat petunjuk ilmu dan moral tidak selalu berdaya. Ada yang sadar, ada pula yang tidak peduli. Inilah yang dikhawatirkan malaikat perihal Adam dan anak cucunya, yang bisa membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Di sisi lain, manusia dianugerahi Tuhan ilmu yang jika diikuti akan menjadikannya lebih mulia dari malaikat.

Jika perilaku manusia itu misteri, demikian juga perilaku alam. Meskipun ilmu manusia sudah sangat maju, dapat meramalkan cuaca dan gempa, masih terlalu banyak yang belum diketahuinya. Karena itu, tak jarang terjadi letusan gunung, gempa atau tsunami, tanpa didahului peringatan dari para ilmuwan. Teknologi transportasi darat, laut dan udara semakin canggih dalam menghadapi aneka tantangan alam, tetapi kadangkala kecelakaan tak bisa dihindari. Ilmu dan teknologi kesehatan berkembang pesat, obat-obatan terus diproduksi, tetapi jenis penyakit juga bertambah.

Mungkin begitulah watak sejati kehidupan ini. Ada harapan, ada pula kecemasan. Ada kenyataan, ada pula misteri. Kita berjalan di antara keduanya. Kita datang ke dunia ini, melalui kedua orangtua kita yang tidak kita pilih. Hidup kita berawal dari misteri. Setelah lahir, tumbuh hingga dewasa, kita mencoba menjalani hidup, bergumul antara harapan dan kenyataan. Kadangkala harapan itu terwujud, kadangkala tidak. Itulah yang kita sebut misteri nasib. Kelak, kita dijemput oleh misteri lagi, yakni maut. Kita tak tahu, kapan maut itu akan datang, dan apa yang akan terjadi setelah itu.

Sains dan teknologi tidak akan bisa menjawab misteri ini, terutama terkait dengan makna dan tujuan hidup. Di sinilah agama berperan sebagai sumber penuntun makna hidup. Bahwa semua yang ada, diciptakan oleh Tuhan Yang Esa. Akal membantu kita untuk menalarnya. Tak mungkin sesuatu ada dengan sendirinya, apalagi tertib dan teratur, tanpa ada yang membuatnya. Agama memberikan arah, bahwa hidup kita yang berasal dari-Nya, akan kembali kepada-Nya. Tugas kita di dunia ini adalah mewujudkan kebaikan (amal saleh) agar kelak kembali kepada-Nya dalam kemuliaan.

Namun, kita seringkali lalai dan lupa akan misteri itu, karena terbiasa dengan keteraturan hidup. Kita terbiasa dengan matahari yang terbit dan terbenam setiap hari, nasi dan lauk yang kita makan, air yang kita minum, dan udara yang kita hirup. Seolah semua itu terjadi begitu saja, teratur tanpa ada yang mengendalikan. Baru ketika terjadi kejutan seperti bencana, kematian atau penyimpangan dari hukum alam, kita terperangah. Kita baru ingat, betapa terbatas pengetahuan dan kekuatan kita, dan betapa terikat hidup kita dalam ruang dan waktu. Pada saat itulah, sang misteri muncul kembali.

Terlepas dari misteri yang seringkali terlupakan itu, manusia harus bekerja dalam menjalani hidup. Misteri pun muncul lagi, ketika ia bertanya, untuk apa aku bekerja? Tiap-tiap orang, sadar atau tidak, memiliki jawaban terhadap pertanyaan ini, yang tercermin dalam perilakunya tiap hari. Ada yang bekerja semata karena ingin membiayai hidup. Ada yang ingin kaya raya dan berkuasa. Ada pula yang bekerja karena ingin mempersembahkan yang terbaik bagi hidup ini. Adapun penghasilan yang didapatkannya tiada lain daripada konsekuensi belaka dari persembahan itu. Inilah orang yang bijak.

Demikianlah, meski kenyataan hidup ini diselimuti misteri, ia harus terus dijalani. Perjalanan hidup itu harus kita isi dengan mempersembahkan yang terbaik semampu kita. Seperti dikatakan Sang Guru dalam karya Paulo Coelho, Manuskrip yang Ditemukan di Accra, “Keberhasilan tidak diukur dari pengakuan orang-orang lain atas karya kita. Keberhasilan adalah buah dari benih yang kau tanam dengan penuh cinta…Kau berhasil mendapatkan rasa hormat atas pekerjaanmu, sebab kau bekerja bukan melulu untuk hidup, tapi untuk menunjukkan rasa cintamu pada sesama.”

Mungkin, itulah keindahan misteri. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved