Breaking News:

Jendela

Kliping dan Persamaan Ilusif

Teknologi digital membantu sekaligus menjebak kita. Persamaan yang diberikannya justru menyimpan bahaya pengikisan standar nilai-nilai etis

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUATU hari, anak saya tampak keheranan menyaksikan saya memotong kertas koran. Sebenarnya pekerjaan itu saya lakukan hampir tiap Senin sore. Saya mengkliping tulisan saya sendiri, kolom Jendela di Banjarmasin Post. Anak saya pun tahu akan hal itu. Namun, kini dia sudah tumbuh dewasa dan akrab dengan dunia digital yang serba elektronik. Mengkliping mungkin mulai terasa aneh baginya. “Ayah mengkliping ini sekadar kenang-kenangan sejarah. Nanti bisa disimpan di perpustakaan atau sekadar dokumen keluarga,” kataku menjelaskan.

Dunia memang sudah berubah, terutama media komunikasi dan informasi. Kini komunikasi hampir semuanya elektronik. Kita semakin tidak menggunakan kertas (paperless). Media cetak makin tegeser oleh media elektronik, terutama akibat media sosial yang makin digemari. Anak-anak muda makin jarang membaca koran dan majalah versi cetak. Mereka lebih akrab dengan media elektronik, yang dapat diakses dengan cepat, mudah dan murah. Buku dan jurnal ilmiah versi cetak juga makin berkurang peminatnya, antara lain karena versi elektroniknya juga bisa dibeli bahkan gratis.

Kebutuhan akan media elektronik makin berlipat setelah dunia dilanda krisis Covid-19. Dalam interaksi tatap muka, demi mencegah penularan, kita diminta untuk menjaga jarak, menghindari kerumunan dan memakai masker. Bagaimanapun, protokol kesehatan ini membuat hubungan tatap muka makin terbatas dan janggal. Bukankah tidak nyaman kalau berbicara harus dalam jarak yang berjauhan dan separuh wajah tertutup? Agar lebih aman dan bebas, orang pun memilih komunikasi elektronik menggunakan video, sehingga seolah terjadi komunikasi langsung seperti tatap muka.

Perubahan yang lebih penting lagi adalah, tiap orang kini dapat menjadi pewarta, penulis, penyiar atau artis melalui media sosial. Media sosial adalah pintu yang terbuka lebar bagi tiap orang untuk memasuki ruang publik dengan kebebasan nyaris tanpa batas. Anda mau menulis satu kata atau jutaan kata, mau mengirim foto atau video apapun, semua bisa dilakukan dengan cepat dan mudah. Tak ada redaksi yang menyeleksi, dan tak ada penyunting yang memeriksa kecuali diri Anda sendiri. Tak ada pula pembedaan berdasarkan jender, kelas sosial, pendidikan, agama, suku atau ras.

Dengan demikian, media sosial telah menegakkan nilai persamaan manusia secara radikal. Tentu saja, kesenjangan tetap ada, terutama dalam kemampuan memiliki fasilitas dan akses komunikasi, yakni apakah seseorang memiliki ponsel atau laptop, dan apakah dia memiliki kuota internet, dan apakah di wilayahnya ada jaringan yang terjangkau. Namun, dengan semakin massifnya produksi ponsel dan perluasan jaringan internet, kesenjangan ini semakin berkurang. Mungkin pula, ponsel pintar dan laptop kelak akan semakin terjangkau harganya bagi seluruh lapisan masyarakat.

Namun, ketika persamaan nyaris menghapus perbedaan, maka persamaan itu menjadi ilusif, angan-angan yang menipu. Bagaimanapun, perbedaan antar manusia itu selalu ada dari segi usia, tingkat pengetahuan, kapasitas intelektual, kekuatan fisik, keterampilan, keteguhan moral dan lain-lain. Masalah muncul ketika setiap orang bebas bersuara, dan seolah suaranya bernilai sama. Keahlian atau kepakaran tidak lagi diperhitungkan. Kejujuran tidak lagi dipersoalkan. Latarbelakang seseorang juga tidak dipertanyakan. Seolah semua sama rata-sama rasa, laksana deretan angka yang setara.

Karena itu, yang menentukan diterima atau tidaknya suatu pesan bukanlah benar-salah atau baik-buruk, melainkan suka atau tidak suka. Suka dan tidak suka adalah selera subjektif, yang ukurannya tidak selalu konsisten. Meskipun subjektif, kita ‘ditipu’ dengan ukuran yang seolah objektif, yaitu jumlah yang suka dan tidak suka. Kuantitas menentukan kualitas. Semakin banyak orang yang menyukai, semakin baik bahkan benarlah sesuatu itu. Lebih parah lagi, semakin banyak yang suka berarti semakin banyak mendatangkan uang. Inilah ukuran yang sebenarnya di zaman ini!

Akankah teknologi komunikasi dan informasi menjadi berhala, yakni sesuatu yang kita ciptakan dan kemudian kita tunduk kepadanya? Seharusnya tidak, karena mesin, betapapun hebatnya, tetaplah di bawah kendali manusia. Teknologi akan manusiawi manakala ia diciptakan dan digunakan dengan tujuan memuliakan martabat manusia. Masalahnya, dunia modern sekuler menganggap manusia tak lebih dari hewan yang berevolusi paling tinggi, dan celakanya, juga paling serakah. Nilai-nilai ruhani seperti cinta kasih, kerelaan berkorban dan keadilan seolah bukan keistimewaan manusia lagi.

Alhasil, teknologi digital membantu sekaligus menjebak kita. Persamaan yang diberikannya justru menyimpan bahaya pengikisan standar nilai-nilai etis (baik-buruk), logis (benar-salah), dan estetis (indah-jelek). Begitu pula, dengan adanya teknologi penyimpanan elektronik, mengkliping koran tampak sebagai pekerjaan sia-sia. Namun, wujud data elektronik dan cetak tetaplah berbeda. Dalam kliping, ada semacam keaslian masa lalu, yang bercerita tentang proses panjang di belakangnya. Paling tidak, inilah romantisme manusiawi selama media cetak masih diproduksi! (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved