Breaking News:

Jendela

Agar Hatimu Damai

Kata-kata adalah simbol yang mengandung makna. Ada simbol berupa suara, dan adapula yang berupa tulisan atau sekadar berupa isyarat.

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUATU hari, saya bertemu seorang pejabat senior, yang bertugas menjaga keuangan negara agar tidak diselewengkan. Meskipun baru kenal, kami gampang sekali akrab. Dalam percakapan itu, dia mengajukan pertanyaan psikologis dan filosofis, “Mana yang lebih banyak kita lakukan, berkata-kata kepada orang lain atau berkata-kata sendirian dalam hati?” Menurutnya, kita umumnya lebih banyak berkata-kata dalam hati. Kata-kata dalam hati itulah yang membentuk pikiran dan perasaan kita, dan pada gilirannya membuahkan bahagia atau derita kita.

Kata-kata adalah simbol yang mengandung makna. Ada simbol berupa suara, dan adapula yang berupa tulisan atau sekadar berupa isyarat. Kata-kata yang digunakan oleh masyarakat tertentu melahirkan bahasa tertentu. Dengan bahasa itu manusia tidak saja dapat berkomunikasi satu sama lain, melainkan juga menyimpan dan mengembangkan pengetahuan dan kesenian. Sungguh tak terbayangkan adanya peradaban tanpa bahasa, tanpa kata-kata. Bahkan, kata-kata bukan sekadar penyimpan pesan, tetapi juga mengandung daya cipta yang dapat menggerakkan kehidupan.

Mungkin itulah sebabnya, kata-kata adalah ciri khas manusia, yang membuatnya lebih istimewa dari malaikat. Tuhan menciptakan alam semesta dengan satu kata “kun” (jadilah), maka jadilah. Ketika Tuhan menciptakan Adam, para malaikat mengkhawatirkan, Adam dan keturunannya akan menumpahkan darah dan berbuat kerusakan. Tuhan mengatakan, Dia lebih mengetahui dari para malaikat. Tuhan kemudian mengajari Adam nama-nama segala sesuatu. Nama-nama adalah kata-kata. Adam mendapatkan ilmu melalui kata-kata, sehingga malaikat tunduk-hormat padanya.

Dalam Injil disebutkan, “In the beginning was the word” (pada mulanya adalah firman atau kata-kata). Seyyed Hossein Nasr meminjam ungkapan ini dan menegaskan bahwa pada mulanya adalah kesadaran. Dalam kesadaran terkandung kata-kata. Sebagai manusia, kita memiliki kesadaran yang asal usulnya tidak kita ketahui, kapan ia bermula dan berakhir. Lebih jauh lagi, E.F. Schumacher mengatakan, manusia tidak hanya memiliki kesadaran tetapi juga kesadaran terhadap kesadarannya (self-consciousness). Dalam kesadaran diri inilah kita seringkali berkata-kata sendirian.

Jika hidup kita terletak pada kesadaran, dan dalam kesadaran kita berkata-kata, kemudian kata-kata itu menghimpun makna, melahirkan ilmu dan mendorong tindakan, maka wajar saja jika kata-kata dianggap sangat penting. Karena itu, kita sering menemukan nasihat bijak dalam berbagai budaya agar kita bisa menjaga kata-kata. Lebih baik diam daripada bicara jika kata-kata kita tak berguna atau memancing bahaya. Orang yang mulia adalah orang yang berbudi bahasa, yang kata-katanya mengandung hikmah, sehingga menyentuh dan mengisi pikiran dan perasaan manusia.

Namun sebagai manusia, kita tidak selalu dapat mengendalikan kata-kata yang meluncur dari mulut kita berupa suara atau dari jemari kita berupa tulisan. Lebih-lebih di era digital ini, ketika tiap orang bebas untuk mengungkapkan kata-kata melalui media sosial tanpa sensor sedikit pun. Kata-kata itu makin pedas dan bebas ketika terjadi perdebatan, khususnya yang menyangkut politik, dan lebih seru lagi jika diberi bumbu agama. Dua pihak bersahut-sahutan, penuh dengan cacian, umpatan dan ujaran kebencian. Tak ada lagi kompromi, apalagi introspeksi. Masing-masing merasa benar sendiri.

Jika kita lebih banyak berbicara dalam hati sendirian dibanding berbicara dengan orang lain, maka debat kusir di media sosial boleh jadi adalah permukaan gunung es belaka. Yang tak tampak di bawah jauh lebih besar. Ini sungguh mengkhawatirkan. Kemarahan dan kebencian yang terungkap itu hanyalah hawa panas dari bara api yang tak terlihat. Diam-diam kita memendam benci dan marah pada orang tertentu atau bahkan pada hidup ini. Mungkin kita sudah muak dengan kemiskinan, kebodohan, persekongkolan, kemunafikan dan pengkhianatan di sekitar kita.

Di sisi lain, mungkin pula debat kusir di medsos itu, terutama yang menyangkut politik, bukanlah permukaan gunung es, melainkan tumpukan busa yang dikira bongkahan es. Ia adalah kepalsuan belaka. Sudah maklum, kini para politisi suka membayar para pendengung (buzzer), yang bertugas memanaskan situasi dan membuat masyarakat terbelah. Dalam politik, posisi tengah, abu-abu, sangat tidak disukai karena dalam pemilu orang harus jelas memilih siapa. Para pendengung dibayar untuk mempertajam garis pemisah itu sekaligus menggiring pemilih kepada calon tertentu.

Saya kembali teringat pejabat senior di atas. “Agar emosi kita terkendali akibat sering bicara sendiri, maka kita harus sering beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Saat emosi kita naik, kebencian merasuki pikiran, segeralah istighfar. Ya Allah, ampunilah dosaku. Mengapa aku membenci makhluk-Mu. Setelah itu, emosi akan reda. Ini yang membuat kita sehat jasmani dan ruhani,” katanya. Saya hanya manggut-manggut. Nasihatnya sungguh mengena. Ini bukan berarti kita tak boleh marah pada kejahatan dan kezaliman, tetapi kita harus marah dengan hati yang penuh kasih.

Sulit memang, tetapi mungkin inilah cara terbaik untuk menciptakan damai di hati dan masyarakat. (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved