Breaking News:

Jendela

Kuasa, Nasib dan Takdir

Kekuasaan itu paling kurang terletak di dalam diri seseorang atas dirinya, atau lebih dalam lagi, kekuasaan atas pilihan suara hatinya

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPST.CO.ID - DALAM Matsnawî karya Jalaluddin Rumi, terdapat cerita berikut ini. Seorang pria muda dengan wajah pucat ketakutan menghadap Nabi Sulaiman.

“Mengapa kau tampak ketakutan?” tanya Sulaiman.
“Aku melihat wajah malaikat Izrail, sang pencabut nyawa, memandangku penuh amarah dan menyeramkan,” kata si pemuda.
“Apa yang bisa kubantu?” tanya Sang Nabi.
“Perintahkanlah angin agar membawaku ke India,” katanya.
Sulaiman pun segera memerintahkan angin, yang membawa orang itu terbang ke India.
Sulaiman bertanya pada Izrail, “Mengapa kamu menampakkan wajah yang menakutkan kepada si pemuda itu?”
“Aku tidak menakut-nakutinya. Aku hanya heran. Tuhan memintaku mengakhiri hidup orang itu di India, sementara dia masih di sini. Ternyata, dia sendiri yang meminta diantarkan ke India dengan angin,” jelas Izrail.

Banyak hal dalam hidup ini terjadi di luar kendali kita. Kita tak bisa mengendalikan kapan lahir dan kapan mati (kecuali kita bunuh diri). Ilmu dan teknologi, sebagai hasil usaha manusia memahami alam dan kehidupan, memang membantunya untuk meningkatkan kesejahteraan dan harapan hidup. Namun bagaimanapun luas dan dalam ilmu manusia, betapa pun hebat teknologi yang diciptakannya, semua itu tetap serba terbatas. Terlalu banyak misteri alam dan kehidupan yang belum diketahuinya. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin sadar dia akan kebodohannya.

Di sisi lain, meskipun berada dalam batasan-batasan ruang dan waktu, kemampuan dan pengetahuan, manusia jelas memiliki kebebasan memilih. Anda bisa memilih memakai baju apa hari ini, seandainya Anda memiliki baju lebih dari satu. Anda dapat memilih untuk menyuapkan makanan ke mulut Anda atau tidak. Anda dapat memutuskan pergi ke undangan walimah teman Anda atau tidak, dan seterusnya. Pilihan-pilihan itu, kadangkala tersedia banyak sekali, dan kadangkala sangat sedikit bahkan tidak ada pilihan sama sekali.

Di antara berbagai pilihan itu, yang paling penting adalah pilihan moral, yakni memilih antara yang baik dan buruk, antara yang benar dan salah. Ukuran moral ditentukan oleh nilai-nilai yang kita serap dan tanamkan dalam diri kita, yang bersumber dari ajaran agama, pemikiran orang-orang bijak, dan hati nurani. Dalam keadaan normal, Anda bebas memilih, apakah mau menjadi jujur atau bohong, adil atau zalim, mengasihi atau membenci. Jika dilihat dari sudut hukum Islam, Anda bebas memilih antara mengerjakan yang wajib, sunnah, makruh, mubah, halal atau haram.

Kebebasan memilih secara moral itulah kiranya yang menjadi ciri khas manusia sebagai manusia, yang tidak dimiliki oleh mineral, tumbuhan dan binatang. Mungkin inilah yang dalam Alqur’an disebut amânah, suatu kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Ketika amânah itu ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung, mereka menolak, tak berani atau lebih tepatnya, tak sanggup menerimanya (QS 33: 72). Hanya manusia yang mau menerimanya. Hal ini karena mineral, tumbuhan dan binatang memang tidak memiliki kapasitas memilih semacam itu.

Dalam kebebasan memilih, meskipun terbatas, terdapat kekuasaan. Kekuasaan itu paling kurang terletak di dalam diri seseorang atas dirinya, atau lebih dalam lagi, kekuasaan atas pilihan suara hatinya. Anda bisa memaksa seseorang mengaku salah atau mengaku percaya pada ajaran tertentu secara lisan atau tulisan, tetapi hati kecil orang itu tak bisa Anda apa-apakan. Kebebasan semakin besar ketika kekuasaan juga besar. Kekuasaan seorang presiden tentu jauh lebih besar dibanding kekuasaan gubernur dan bupati, sehingga cakupan kebebasan presiden juga lebih besar.

Konsekuensi dari kebebasan memilih adalah tanggungjawab. Manusia harus sanggup ‘menangung’ amanah kebebasan itu, sehingga ketika dia ditanya, dia mampu ‘menjawab’. Kata ‘tanggungjawab’ dalam bahasa Indonesia ternyata mirip dengan bahasa Arab dan Inggris. Dalam bahasa Arab, tanggungjawab adalah mas’ûliyyah, yang arti dasarnya adalah sesuatu yang ditanyakan, sedangkan dalam bahasa Inggris adalah responsibility, yang arti dasarnya adalah kemampuan untuk menjawab. Di antara tanggungjawab yang paling utama adalah terhadap kebebasan pilihan moral tadi.

Di luar berbagai kebebasan yang dimilikinya itu, manusia jelas lemah dan terbatas. Manusia hidup dalam taqdîr, yakni batasan-batasan hukum alam dan sosial. Ia menjalani hidup sesuai nasibnya. Kata ‘nasib’ adalah serapan dari kata Arab ‘nashîb’ artinya bagian atau jatah. Masing-masing kita sudah mendapat jatah, berapa lama kita hidup dan ke mana hidup itu mengalir. Orang Inggris menyebutnya ‘destiny’, tujuan akhir yang tak pernah kita ketahui atau pahami sebelumnya. Bagi kaum beriman, yang menentukan nasib itu tiada lain adalah Tuhan.

Alhasil, dalam dunia yang fana ini, masalah yang paling krusial bukanlah apa saja yang kita capai, melainkan bagaimana cara kita mencapainya dan menggunakannya. Yang penting bukan seberapa banyak pengetahuan dan kekayaan yang kau miliki, tetapi bagaimana cara kau mendapatkannya dan menggunakannya. Yang penting bukan seberapa besar kekuasaan yang kau raih, melainkan bagaimana cara kau mendapatkan dan menggunakannya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved