Breaking News:

Jendela

Kebenaran dan Harapan

Jalan lurus, jalan kebenaran dan kebaikan, sebenarnya jelas dan terang benderang. Manusialah yang membuatnya rumit dan samar-sama

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - DALAM suatu kesempatan, cendekiawan Y.B.Mangunwijaya (1929-1999) menggugat slogan terkenal: right or wrong, my country (benar atau salah, ini adalah negeriku). Slogan ini, menurut Mangunwijaya melanggar prinsip moral tentang yang benar dan salah. Karena itu, dia menegaskan bahwa slogan yang tepat adalah: right or wrong is right or wrong (benar atau salah adalah benar atau salah). Artinya, yang benar tetap benar, dan yang salah tetap salah.

Kita memang dapat berdebat soal ukuran atau kriteria tentang sesuatu yang dianggap benar atau salah. Dalam dunia keilmuan, ukuran benar-salah adalah masuk akal (rasional) dan didukung bukti nyata (empiris). Dalam kehidupan beragama, rujukannya adalah teks-teks yang dipercaya sebagai pegangan seperti kitab suci, sabda Nabi serta pendapat para pemikir agama. Dalam hidup bernegara ada norma-norma hukum yang telah disahkan oleh lembaga yang berwenang. Ketika kriteria benar-salah sudah disepakati, maka kita harus menerapkannya, bukan mempersoalkannya.

Masalah benar-salah menjadi rumit ketika berbenturan dengan kekuasaan. Apakah kekuasaan tunduk pada kebenaran yang disepakati atau sebaliknya, mempermainkan kebenaran semaunya sendiri? Ketika Zainuddin MZ (1952-2011) mengumpamakan hukum seperti pisau, tumpul ke atas, tajam ke bawah, dia sedang menjelaskan hubungan kekuasaan dan kebenaran. Dalam tamsil itu, hukum sebagai norma benar-salah, tunduk pada kekuasaan yang selalu merasa benar. Padanannya dalam ungkapan Inggris adalah ‘might is right’ (kekuasaan adalah kebenaran).

Bagaimana dengan kebenaran ilmiah? Para ilmuwan mengatakan, perusakan hutan dan galian tambang dapat membahayakan lingkungan dan kehidupan dalam jangka panjang. Penggunaan bahan bakar minyak yang berlebihan dan pembangunan rumah kaca dapat meningkatkan pemanasan global. Produksi sampah plastik sudah melampaui batas. Akibatnya, terjadi perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Ini semua adalah kebenaran ilmiah. Apakah para penguasa mau mendengarkannya? Para penguasa ternyata banyak yang tidak peduli dengan kebenaran ilmiah ini.

Jika dalam kebenaran berdasarkan norma hukum dan ilmiah saja seringkali dilanggar, apalagi yang berdasarkan agama, yang seringkali dihubungkan dengan sesuatu yang gaib, yang tak terlihat kasat mata. Adakah seorang petualang politik atau gerombolan pengejar kekuasaan ingat bahwa cara dan tujuan dalam berpolitik harus berbasis moral sebagaimana diajarkan agama, tidak boleh menghalalkan segala cara? Berapa banyak orang yang berani menolak tawaran uang dan fasilitas dari penguasa demi menjaga marwah dan integritas dirinya dan lembaga (agama) yang dipimpinnya?

Jalan lurus, jalan kebenaran dan kebaikan, sebenarnya jelas dan terang benderang. Manusialah yang membuatnya rumit dan samar-samar. Hawa nafsu seringkali mengalahkan akal sehat. Keserakahan membutakan hati nurani. Jika ada teman kita atau saudara kita yang berusaha tegar dengan prinsip-prinsip benar-salah itu, kita justru mencemoohnya bahkan memusuhinya. Kita tuduhlah orang itu sebagai ‘sok suci’, ‘sok benar sendiri’ atau ‘terlalu kaku’. Kita sudah tidak peduli dengan kebenaran. Kita hanya sibuk dengan pembenaran terhadap perilaku kita yang tidak benar.

Di sudut meja sebuah warung kopi, seorang kawan mendesah kecewa. “Mungkin inilah maksud sebuah hadis Nabi: ‘Semula agama ini datang sebagai sesuatu yang asing. Kelak ia juga akan asing. Beruntunglah orang-orang asing,’” katanya. Saya mengangguk, dan mencoba membesarkan hatinya. “Tak usah gelisah jika kau diasingkan karena kau orang baik. Tak usah sedih jika kau kalah karena kau berpegang pada yang benar. Justru bergembiralah dan berbanggalah. Kau adalah jiwa yang hidup di tengah jiwa-jiwa kerdil yang sakarat. Kau adalah ikan yang tetap tawar di tengah air laut yang asin.”

Memang tidak mudah bertahan sendirian, menjadi orang aneh di tengah kerumunan. Di sisi lain, jika diselidiki lebih dalam, orang baik seperti kawan di atas sebenarnya jumlahnya lebih besar. Hanya saja, mereka menjelma dalam berbagai bentuk. Ada yang sibuk mengurus diri sendiri dan keluarga saja. Yang penting dia dan keluarga selamat. Ada pula yang berani terjun ke medan laga, berharap dapat memperbaiki yang buruk. Ada lagi yang ragu-ragu, kadang ikut ke sana, kadang ke sini. Yang lain lagi justru ikut-ikutan nakal, tetapi hati nuraninya terus-menerus memberontak.

Alhasil, benar atau salah adalah benar atau salah. Meski manusia kadang kala tergoda mengabaikan kebenaran, hati kecilnya takkan pernah bisa. Sebaliknya, kebenaran senantiasa memberikan harapan, meski manusia kadang kala lelah dan nyaris putus asa. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved