Breaking News:

Fikrah

Tri Tuntutan Rabbul ‘Alamin

kebiasaan apa yang kita ucapkan kebiasaan itu akan muncul di mulut kita secara sepontanitas

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEBAGAIMANA kita maklumi, setiap hari azan dikumandangkan lima kali bersama iqamah untuk shalat juga lima kali. Pada seruan azan dan iqamah tersebut diserukan kalimat “hayya alfalah. Artinya mari merebut kemenangan.” Berarti, sehari semalam umat Islam untuk merebut alfalah yaitu kemenangan sebanyak sepuluh kali. Para pendengar azan menyahut dengan ucapan, ”lahaula walakuata illa billahil aliiyyel adzim. Artinya tidak ada kekuatan dan kemampuan kecuali dengan Allah Swt.”

Kemenangan tersebut diungkapkan di ujung surah Al a’la yang berbunyi: “Qad aflaha man tazakka, wajakaras ma rabbihi fashalla.” Dari ayat ini dapat kita pahami ada tiga rentetan dalam kita menggapai al falah atau kemenangan. Pertama, tazakka yaitu membersihkan diri lahir dan batin. Lahiriyah dengan berwudu dan mandi serta menjauhi najis. Sedang kebersihan batin dicapai dengan ma’rifat mengenal Allah dan menjauhi kesirikan serta kejelakan-kejelekan batin seperti sombong, iri, dengki dan lain-lain.

Kedua, dalam mencapai al falah adalah wajakaras marabbi. Artinya menyebut-nyebut nama tuhan. Maksudnya, mengingat Allah Swt dengan bertasbih (subbahannalah), bertahmit (alhamdulilah), bertahlil (mengulang ulang kalimat tauhid laailahaillallah), sehingga lidah kita diharapkan terbiasa mengucapkan kalimat lailahaillallah. Hal ini merupakan renovasi iman. Nabi Saw bersabda, “jatdidu imanakum. Artinya perbaruilah iman kalian.“ Para sahabat bertanya, “wahai Rasul kaifa an nujaddida imanana. Artinya wahai Rasul bagaimana kami memperbarui iman kami.” Nabi Muhammad Saw menjawab, “fa aksiru minkauli lailahaillallah.”

Pada suatu hari Ali bin Abi Thalif meminta pada Rasulullah Saw, katanya “dullani alla aqrabitturki illallahi taala waassaliha inda abdihi waabdaliha indallah, Artinya wahai Rasul, tunjukkan pada kami jalan yang paling dekat bagi hambanya, paling mudah dan paling abdal atau utama di sisi Allah.” Lalu Rasulullah Saw berkata, “gammit ainaiaika wasma minni salasan. Artinya pejamkan kedua matamu dan dengarkan aku berzikir tiga kali. Lalu beliau berzikir dengan ungkapan: “lailahaillallah”. Ali mendengarkannya. Kemudian Rasulullah Saw menyuruh Ali mengulanginya dan rasulullah Saw mendengarkannya.

Inilah yang kita amalkan sesudah setiap shalat fardu diakhir wirit secara besama-sama sang imam.
Rasulullah Saw berkata, “afduluzikri fa’lam annahu lailahaillallah. Artinya zikir yang paling utama adalah kalimat lailahaillallah. Mudah-mudahan lidah kita terbiasa dengan kalimat ini, sehinga diakhir hayat kalimat ini sepontanitas terucap lidah kita, sehingga tercapai apa yang Rasulullah sabdakan: man kana akhiru kalamihi lailaha illallah dakhalal janah. Artinya barang siapa yang akhir kalimatnya (ketika menghadapi sekaratul maut) lailahaillallah niscaya masuk surga.

Tersebutlah sebuah anekdot, seorang warga Betawi bernama Sailun. Sailun ini pandai berpantun, apa apa saja dalam kehidupannya dibuat pantun. Sailun sudah tua dan sakit. waktu iya sakit anak-anaknya menyuruhnya menebut nama Allah. Ayah katanya ayu berzikir. Sailun menjawab, “nak, nyawa ku mau di cabut bagaimana aku tidak kalang kabut.” Setelah itu Sailun meninggal dunia. Anekdot ini mengajarkan kepada kita bahwa kebiasaan apa yang kita ucapkan kebiasaan itu akan muncul di mulut kita secara sepontanitas, seperti halnya Sailun yang meninggal dalam berpantun, bukan berzikir kepada Allah SWT.

Hal ini barang kali memang hanya anekdot, tetapi siapa tahu hal itu akan terjadi terhadap diri seseorang, karenanya setiap hari berzikirlah banyak-banyak. Tiga ribu kali. Hal ini dapat dilakukan ketika kita sedang berbaring, atau sedang berjalan, lebih-lebih ketika kita menghadapi kemacetan di jalan raya. Cobalah amalkan berzikir ini, iya akan mengusir tekanan jiwa atau stres.

Menurut dr Dadang Hawari, penduduk Jakarta sekarang dilandas stres sudah mencapai dua puluh persen. Bisa jadi, seseorang kelihatan segar bugar diri segi fisiknya, namun di dalam otak atau benaknya berkecamuk tekanan batin, memikirkan bagaimana meraup dunia dan uang sebanyak-banyaknya. Padahal saat ini memperebutan sumber rezeki bertambah ketat. Bila seseorang sudah tidak mampu memperebutkan sumber rezeki yang semakin ketat itu, bisa jadi iya akan dibabat oleh strok. Jika jantungnya tidak tahan bisa jadi iya meninggal secara mendadak.

Menurut dr Yulijar Darwis, Kalsel yang dikatakan agamis ini penduduknya dilandas stres sudah mencapai delapan belas persen, karenanya bagus sekali pada setiap malam kita melaksanakan shalat taubat, shalat hajad dan tahajud. Siapa tahu paparan corona yang melanda negeri kita Ini karena kita kurangnya berzikir. ingatlah zikir yang sempurna ialah melalui shalat. Allah SWT berfirman: “wa aqimisahlata lizikri. Artinya’ dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS Taha).” (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved