Breaking News:

Jendela

Corona, Kentut dan Dosa

Sikap kita yang tak peduli protokol kesehatan, mencemooh vaksinasi bahkan meremehkan kematian adalah ‘dosa’ seperti kentut yang tak tampak itu

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - RABU, 23 Juni 2021 lalu, jam 8 pagi. Saya berjalan kaki ke sebuah rumah sakit swasta dekat hotel tempat saya menginap di Yogyakarta. Saya ingin mendapatkan tes anti-gen agar bisa pulang ke Banjarmasin. Ketika sampai di depan pintu rumah sakit, saya melihat antrean orang-orang sakit di bagian Unit Gawat Darurat. Ada yang di kursi roda. Ada yang berbaring di tempat tidur. Ada yang baru datang dibawa ambulan. Mereka diantar beberapa orang keluarga yang tampak lagi galau.

Melihat pemandangan itu, hati saya jadi kecut. Apalagi media sudah memberitakan bahwa di Yogyakarta kasus Covid-19 sangat tinggi. Namun, saya tetap memberanikan diri bertanya pada petugas. “Saya ingin dites anti-gen, bagaimana caranya?” “Bapak naik kendaraan apa?” tanya petugas. Saya menggeleng. “Di sini layanannya drive thru pak. Bapak bisa naik mobil listrik itu nanti bersama yang lain,” katanya. Saya pun mendekati seseorang yang tampaknya sopir mobil listrik itu. Setelah saya sapa, si sopir tanggapannya dingin, lalu pergi menjauh. Mungkin dia kelelahan.

Saya menelpon adik yang tinggal di Yogyakarta. Dia menyarankan agar saya ke Kimia Farma. Satu jam kemudian, saya mendatangi Klinik Kimia Farma terdekat. Ada banyak mobil parkir di depannya. “Apakah saya bisa mendapatkan tes anti-gen?” tanyaku. “Tidak bisa pak, karena alat tesnya sedang kosong,” kata petugas. Saya mulai gelisah, tetapi urusan anti-gen terpaksa saya tinggal dulu karena ada janji dengan Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Ternyata, justru di kampus saya dibantu. Seorang dokter langganan mereka bersedia mendatangi saya ke hotel untuk tes anti-gen.

Menurut dokter itu, persoalan yang dihadapi sebenarnya bukan sekadar kekurangan alat tes, tetapi banyak tenaga medis yang sudah sangat letih bahkan tumbang diserang Covid-19. Pemerintah menghadapi dilema yang sangat sulit. Menghentikan sementara aktivitas masyarakat dengan resiko ekonomi makin terpuruk, atau membiarkan keadaan seperti ini dengan resiko penyebaran Covid-19 makin tinggi. Jalan tengah yang diupayakan adalah menerapkan protokol kesehatan. Namun, ternyata masih banyak orang yang bandel, tidak memakai masker dan/atau berkerumun.

Sebenarnya bukan hanya di Yogyakarta, di Jawa atau di Indonesia bahkan dunia, orang-orang sudah bosan dengan segala pembatasan akibat virus Corona ini. Meskipun para pakar mengatakan, kita harus membiasakan normal baru, kita tetap saja rindu pada kebiasaan lama. Kita ingin bertemu, bercengkrama, bersalaman dan saling menatap wajah tanpa masker. Kita bosan terus-terusan menatap layar elektronik. Kita rindu senda gurau dan gelak tawa bersama. Apalagi sebagian kita sudah menjalani vaksinasi. Kita makin percaya diri. Di sisi lain, Covid-19 bermutasi dan makin sakti. Varian Delta asal India itu lebih cepat menular. Akibatnya, banyaklah yang terkena.

Dalam beberapa hari terakhir banyak teman-teman saya di pulau Jawa, terutama Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, yang dikabarkan terkena Covid-19. Beberapa orang di antara mereka beruntung sudah divaksinasi dan taat menjaga protokol kesehatan sehingga tidak mengalami sakit parah, bahkan tidak merasakan apa-apa alias Orang Tanpa Gejala (OTG). Namun karena dinyatakan positif, mereka tetap harus melakukan isolasi mandiri. Tentu saja, isolasi mandiri juga menyiksa. Jika memakai masker dan menghindari kerumunan saja rasanya kebebasan kita dipangkas, apalagi jika hanya tinggal di dalam kamar.

Selain banyak yang terkena dengan gejala ringan atau tanpa gejala, ada pula yang mengalami sakit berat bahkan meninggal dunia. Kurang lebih sebulan terakhir, hampir tiap hari ada saja kabar duka mengenai teman, atau temannya teman, khususnya di media sosial, yang dikabarkan wafat karena Covid-19. Lebih menyayat hati lagi, mereka yang wafat itu adalah orang-orang baik yang kita cintai, yang rajin bekerja menebar kebaikan bagi sesama. Kadang dengan pedih kita menghibur diri, dia orang baik yang disayang Tuhan, sehingga cepat dipanggil-Nya. Padahal, mungkin kita juga bersalah. Jika kita sayang sama mereka, seharusnya kita berusaha melindungi mereka jangan sampai terkena.

Lambat laun, krisis ini selayaknya mendorong kita untuk merenung tentang makna di balik peristiwa, hikmah di balik musibah. Ketika kita merasa kesepian, wajah ditutup masker dan berjarak dengan orang lain, tidakkah kita sadar bahwa kita sesungguhnya adalah makhluk sosial, yang tak sanggup hidup sendirian? Lalu, mengapa kita kadangkala egois, mau menang sendiri saja? Ketika kematian semakin sering terjadi, mengapa kita masih saja berpikir seolah kita akan hidup selamanya? Mengapa kita mengejar kuasa dan menumpuk harta dengan menghalalkan segala cara?

Seorang kawan yang terinfeksi Covid-19 menulis status, bahwa dia memohon maaf jika buang angin, mengeluarkan angin yang busuk, sementara dia sendiri tidak sadar karena sudah kehilangan rasa penciuman. Sikap kita yang tak peduli protokol kesehatan, mencemooh vaksinasi atau bahkan meremehkan kematian adalah ‘dosa’ seperti kentut yang tak tampak itu, tetapi akibatnya terasa bagi orang lain. Karena itu, marilah kita semua bertobat, tidak mengulangi dosa-dosa sosial tersebut! (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved