Harga Bitcoin
Harga Bitcoin Hari Ini : Tergerus Melemah 2,27 Persen, Kini di Kisaran 34.454 Dollar AS Per Keping
Harga mata uang kripto bergerak variatif. Penurunan harga terjadi. Beruntung pada perdagangan hari ini terkoreksi tipis, yakni sebesar 0,41 persen.
BANJARMASINPOST.CO.ID - Masih belum juga stabil. Harga mata uang kripto pada perdagangan hari ini bergerak variatif.
Penurunan harga terjadi. Beruntung pada perdagangan hari ini terkoreksi tipis, yakni sebesar 0,41 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama 24 jam yang lalu.
Dikutip dari data coinmarketcap.com, bitcoin diperdagangkan di kisaran 34.454 dollar AS per keping atau sekitar Rp 499,59 juta (kurs Rp 14.500).
Bila dibandingkan dengan harga bitcoin pada waktu perdagangan yang sama sepekan yang lalu, harga bitcoin tersebut melemah 2,27 persen.
Baca juga: Harga Bitcoin Bakal Kembali Melonjak, Stabil di Kisaran US$ 33.000 hingga US$ 36.000
Baca juga: Harga Emas Antam Sepekan Terakhir, Alami Kenaikan di Tengah Pengangguran Meningkat di AS
Dilansir dari Coindesk, harga bitcoin sedikit tertekan lantaran pengaruh dari penenakan kebijakan regulator China terkait aset kripto.
Coindesk memberitakan, pada hari Senin (5/7/2021), bank sentral China, People's Bank of China (PBoC) mempertegas kebijakan mereka yang anti mata uang kripto.
Dilansir kompas.com, Bank sentral pun memberi peringatan kepada institusi untuk tak menyediakan layanan apapun untuk transaksi terkait dengan perusahaan kripto.
Meski bitcoin melemah, harga ethereum justru menguat tipis pada perdagangan hari ini, yakni sebesar 2,05 persen menjadi sekitar 2.341,72 dollar AS atau Rp 33,95 juta.
Bila dibandingkan dengan harga pada periode yang sama sepekan yang lalu, harga ethereum tersebut menguat 10,40 persen.
Harga aset kripto lain yang menguat signifikan yakni Binance Coin, yakni sebesar 5,59 persen menjadi sekitar 328,46 dollar AS atau Rp 4,76 juta.
Baca juga: Kalsel Tawarkan Sejumlah Proyek Infrastruktur ke Investor Korea
Bila dibandingkan dengan harga pada waktu perdagangan yang sama sepekan yang lalu, harga Binance Coin telah menguat 10,79 persen.
Berikut adalan rincian harga 10 aset kripto paling populer dalam 24 jam terakhir seperti dikutip dari coinmarketcap.com:
Bitcoin 34.454 dollar AS atau Rp 499,59 juta (-0,41 persen)
Ethereum 2.341,72 dollar AS atau rp 33,95 juta (2,05 persen)
Tether 1 dollar AS atau Rp 14.500 (-)
Binance Coin 328,46 dollar AS atau Rp 4,76 juta (+5,59 persen)
Cardano 1,43 dollar AS atau Rp 20.735 (-1,58 persen)
XRP 0,671 dollar AS atau Rp 9.729,5 (-0,44 persen)
Dogecoin 0,2353 dollar AS atau Rp 3.411,85 (-1,82 persen)
USD Coin 1 dollar AS atau Rp 14.500 (-)
Polkadot 16,77 dollar AS atau Rp 243.165 (+6,93 persen)
Uniswap 22,72 dollar AS atau Rp 329.440 (+3,09 persen)
Poundsterling Mata Uang Paling Oke
Mata uang poundsterling rupanya berhasil menjadi mata uang utama dengan kinerja paling baik sepanjang semester I-2021. Tercatat, pasangan GBP/IDR berhasil menguat 4,55%, mengungguli USD/IDR yang tumbuh 3,2% maupun SGD/IDR yang tumbuh 1,43%.
Sementara pasangan mata uang EUR/IDR justru terkoreksi 0,13%. Sedangkan JPY/IDR justru melemah hingga 3,65% sepanjang semester I-2021.
Analis Monex Investindo Futures Faisyal menjelaskan, penguatan mata uang poundsterling tidak terlepas dari meredanya sentimen brexit pada awal tahun silam. Selain itu, Inggris juga menjadi salah satu negara yang punya program vaksinasi paling masif dan tercepat sehingga proses pemulihan ekonominya bisa berjalan lebih cepat.
Baca juga: Bakal Diresmikan Presiden Jokowi, Bupati Tanbu Tinjau Pabrik Biodiesel Dengan Investasi Rp 2 Triliun
Di satu sisi, mata uang yen menjadi yang paling terpuruk lantaran Jepang yang masih terus dihantam krisis Covid-19.
Upaya vaksinasi yang lambat pun tidak banyak membantu fundamental yen. Ditambah lagi, mata uang safe haven pilihan investor saat ini adalah dolar Amerika Serikat (AS), bukan yen.
Lantas seperti apa dinamika pergerakan mata uang utama pada paruh kedua tahun ini? Faisyal memperkirakan justru dolar AS akan jauh lebih unggul dari sisi kinerja dibanding poundsterling.
“Inggris saat ini tengah dihantam oleh merebaknya Covid-19 varian Delta yang berpotensi menghambat pemulihan aktivitas ekonomi.
Sementara dolar AS justru sedang di atas angin seiring mulai munculnya pernyataan hawkish dari para pejabat The Fed,” jelas Faisyal
Selain itu, Faisyal juga bilang upaya vaksinasi AS juga merupakan salah satu yang termasif seperti Inggris.
Oleh karena itu, hal ini juga menjadi sentimen positif untuk dolar AS ke depan seiring dengan potensi pemulihan ekonomi AS.
Ditambah lagi, varian delta yang tengah menjadi sentimen negatif bagi poundsterling justru dinilai Faisyal berpotensi menjadi katalis positif untuk dolar AS.
Hal ini lantaran di tengah ketidakpastian dan kekhawatiran investor, maka dolar AS sebagai safe haven yang likuid akan menjadi incaran.
Baca juga: Bantu Negara Tangani Pandemi, Staf Menkeu Ajak Beli Produk Investasi dengan Beberapa Keuntungan
Terpuruknya Saham dan Emas
IHSG belum mampu bangkit sepanjang enam bulan pertama tahun ini di mana hanya mencatatkan pertumbuhan 0,11%.
Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menjelaskan, faktor dari ekonomi global yakni bahwa tahun depan kemungkinan the Fed akan memangkas pembelian aset AS dan kenaikan suku bunga AS masih membebani kinerja saham.
“Ditambah lagi, tak kunjung usainya penyebaran Covid-19 ini membuat Indonesia harus kembali menerapkan pembatasan sosial yang ketat. Dampaknya, pemulihan ekonomi pun kembali terganggu sehingga membuat saham-saham pun lagging,” terang Reza,
Ke depan, perkembangan pasar saham masih akan ditentukan oleh seberapa cepatnya pemerintah mampu menangani penyebaran Covid-19 varian Delta.
Jika PPKM darurat ternyata diberlakukan terlalu lama, tentunya akan menghambat pertumbuhan ekonomi di akhir kuartal II hingga kuartal III-2021.
Oleh karena itu, Reza menilai, pemerintah bisa mengatasi penyebaran Covid-19 dengan efisien dan tidak berlarut-larut.
Selain itu, upaya vaksinasi yang semakin digenjot juga diharapkan bisa membantu mempercepat pemulihan aktivitas ekonomi ke depan. Untuk akhir tahun ini, ia memperkirakan IHSG akan berada di area 5.500.
Sementara nasib emas dinilai Faisyal akan bergantung pada seperti apa laju vaksinasi global. Jika vaksinasi berhasil, tentu harga emas akan kembali berada dalam tren koreksi seiring.
Namun, saat ini penyebaran Covid-19 varian Delta juga patut diperhatikan, apakah vaksin berhasil menghadang penyebaran varian yang satu ini.
“Jika ternyata tidak berhasil dan kasus Covid-19 melonjak tajam, tentu emas sebagai save haven akan kembali menjadi incaran. Otomatis harganya bisa mengalami penguatan,” tutur Faisyal
Faisyal memperkirakan emas akan bergerak pada rentang US$ 1.650 per ons troi-US$ 1900 per ons troi sepanjang sisa tahun ini. (*)