Breaking News:

Fikrah

Azan dan Iqamah

AZAN adalah pemberitahuan awal waktu shalat dengan lapadz-lapadz tertentu, sedang Iqamah adalah pemberitahuan bahwa shalat berjemaah siap didirikan.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC 

Oleh: KH HUsin Naparin

BANJARMASINPOS.CO.ID - AZAN adalah pemberitahuan awal waktu shalat dengan lapadz-lapadz tertentu, sedang Iqamah adalah pemberitahuan bahwa shalat berjemaah siap didirikan. Pada masa-masa pertama Islam, Nabi Muhammad Saw merasa kesulitan untuk memberitahukan waktu masuknya shalat dan waktu dilaksanakan shalat, sedang wahyu tidak turun.

Lalu ada yang mengusulkan bahwa apabila awal waktu shalat tiba dibunyikan saja lonceng. Nabi Saw menjawab, “Kalau itu yang dilakukan maka kita akan sama dengan kaum nasrani.”

Kemudian ada lagi yang mengusulkan agar dinyalakna saja api unggun. Nabi Muhammad Saw menjawab, “Apabila itu dilakukan maka kita akan sama dengan kaum majusi.” Dan ada lagi yang mengusulkan agar dibunyikan saja gendang dan Nabi Muhammad Saw menjawab, “Kalau itu yang dilakukan, kita akan sama dengan kaum yahudi.”

Beberapa waktu kemudian seorang sahabat melaporkan diri kepada Rasulullah Saw, bahwa ia bermimpi, yang mana di dalam mimpinya itu ia didatangi oleh seseorang yang berbaju putih serta mengajarkan kepadanya lapadz-lapadz azan dan iqamah yang kita ketahui sekarang. Para pembaca, umat Islam hendaklah menjawab dengan lapadz yang sama kecuali lafadz “Hayya A’lalfalah” dan “Hayya A’lashshalah” dengan ungkapan “Laa haula walaa Quwwata illa billahi aliyyil Azhim.”

Kalau kita perhatikan di dalam azan itu ada dua kali seruan yaitu “Hayya A’lalfalah” artinya Mari kita merebut kemenangan.” dan “Hayya A’lashshalah” artinya “Mari kita mendirikan shalat.” Maka dalam lima kali azan sehari semalam itu berarti masing-masing ada sepuluh kali seruan “Hayya ‘Alalfalah” dan “Hayya ‘Alashshalah” sedang dalam iqamah seruan “Hayya ‘Alalfala” dan “Hayya ‘Alashshalah” hanya satu kali yang artinya dalam lima kali iqamah sehari semalam seruan “Hayya A’lalfala” dan “Hayya ‘A’lashshalah” masing-masing berjumlah lima kali . Dengan demikian, dalam sehari semalam Allah Swt menyeru kita dengan seruan “Hayya A’lalfalah” artinya : “Mari kita merebut kemenangan.” dan “Hayya A’lashshalah” artinya : “Mari kita mendirikan shalat.” Masing-masing sebanyak lima belas kali.

Di dalam ujung surah Al-A’la , Allah Swt berfirman : “Qad aflaha man tazakka. artinya Beruntunglah orang yang tazakka” yaitu orang-orang yang membersihkan diri lahiriah dari najiz dengan mandi dan berwudu serta membersihkan batin dari kesyirikan dan sifat-sifat tercela. Ini yang pertama, yang kedua adalah “Wadzakaras marabbihi Fashalla” artinya orang yang menyebut atau mengingat nama tuhannnya serta mendirikan shalat.

Jadi, ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh seorang muslim agar dapat memperoleh keberuntungan yaitu : Pertama; membersihkan diri lahir batin. Kedua; tidak pernah lupa mengingat dan menyebut nama Allah , Ketiga; istiqamah dalam mendirikan shalat sehingga dapat meraih kemenangan yaitu selamat dari api neraka dan dapat memasuki surga yang nikmat terpuncaknya adalah dapat memandang wujud Allah Swt serta berjumpa dengan Rasulullah Saw yang mana selama ini kita hanya tahu nama serta gambaran rupa tanpa dapat melihat keindahan itu secara nyata.

Nabi Muhammad Saw adalah anugerah bagi manusia khususnya bagi orang yang mengikuti ajaran-ajaran beliau. Betapa tidak , Allah Swt berfirman di dalam surah Al Anfal : “Wama kaanallahu Liyu-a’dzibahum wa Anta Fihim. Maksudnya Allah tidak akan menurunkan azab kepada umat Nabi Muhammad Saw sedang beliau berada di sana.” Sekarang Nabi Saw sudah tidak ada, ayat ini disambung dengan pernyataan Allah Swt: Wa Maa Kaanalllhu Mu-a’dzdzibahum Wahum Yastagfirun. Maksudnya adalah Allah tidak mengazab suatu umat kalau mereka selalu beristigfar.” Jadi, selama masih mau beristigfar maka azab tidak akan menimpa suatu umat walaupun Nabi Saw sudah tidak berada ditengah-tengah umat itu.

Memang Nabi Muhamamd Saw adalah pembawa rahmat dan sesosok manusia yang istimewa. “Minhuddawabu falam tahrab-wamaa waqa’at dzubaabatun Abadan fii jismihil hasani.” Hewan-hewan tidak pernah lari dari Nabi Saw dan lalat tidak pernah hinggap di tubuh beliau yang tampan itu. “Bikhalfihi ka-amaami ru”yatun tsabatat walaa yaraa Zhillahu fii syamsi dzu fathini.” Nabi Saw mengetahui yang dibelakang sebagaimana beliau melihat kemuka dan bayang-bayangnya tidak terlihat di siang hari. “Wa Qalbuhu Lamyanam wal a’inu qadna-a’sad.” Hatinya tetap jaga kendati matanya mengantuk. “Katfaahu qad a’lataa qauman idza jalasuu.” Bahunya terlihat lebih tinggi dari bahu-bahu orang yang duduk di majelisnya. “Hadzihil khasha-isha faahfazh-Haa takun aamina min syarri naarin wasurraaqin wamin mihani” Ini semua merupakan keistimewaan beliau, hendaknya engkau hapalkan bait tersebut niscaya engkau mendapat perlindunagn dari bencana.

Marilah kita menetapkan diri dan keluarga kita sebagai pewaris amaliah Nabi Muhammad Saw khususnya istiqamah dalam mendirikan shalat lima waktu untuk meraih dan mencapai kemenangan sebagaimana seruan Allah SWT dalam azan dan iqamah. Wallahu A’lam. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved