Breaking News:

Jendela

Covid-19, Frankl dan Kita

Alangkah banyaknya duit yang dikeluarkan! Untuk apa semua ini? Agar kita bisa bertahan hidup menghadapi Covid-19.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SABTU sore, 17 Juli 2021. Sebuah pesan singkat dari penyiar RRI Banjarmasin masuk ke ponsel saya. “Berhubung ruangan RRI mau disterilisasi karena ada pegawai yang positif Covid-19, maka acara malam ini (Bertanya Soal Agama) akan dilaksanakan melalui telepon,” tulisnya. Usai Salat Magrib, saya menerima telpon RRI. “Mohon maaf. Karena ada konferensi pers beberapa orang menteri perihal Covid-19 yang wajib kami siarkan, maka acara kita malam ini dibatalkan,” katanya.

Perubahan adalah hal biasa dalam hidup. Namun, perubahan kali ini berbeda, bahkan sangat berbeda. Dunia tengah mengalami musibah wabah yang belum terkendali. Dunia berada dalam kondisi darurat. Seperti pernah dikatakan Presiden AS, Dwight D. Eisenhower, di masa darurat, “Plans are worthless. Planning is everything” (Rencana-rencana itu tak berguna. Rencana yang terus-menerus adalah segalanya). Kita harus lebih lentur sekaligus waspada. Sikap yang kaku akan membuat kita mati kutu, sedangkan sikap yang ceroboh akan menjerumuskan kita.

Kini jutaan orang telah meninggal. Tiap hari, kita menerima kabar duka bahwa orang-orang yang kita kenal, teman baik kita, bahkan keluarga kita sendiri, telah pergi selamanya, direnggut Covid-19. Dalam acara ‘Doa Bersama’ dengan para dokter POG Kalsel, siang Ahad, 18 Juli 2021 kemarin, saya mendengar langsung bagaimana kegundahan para dokter dan tenaga kesehatan merasakan drama kematian ini. Bagaimana tidak galau mengetahui teman-teman sesama dokter dan perawat hampir tiap hari ada yang wafat, sementara mereka sendiri terjun ke medan yang berbahaya itu? Mereka adalah para pejuang garis depan dan saksi mata atas musibah besar ini.

Situasi darurat dan serba menekan ini mengingatkan saya pada Viktor E. Frankl (w.1997), neurolog dan psikiater yang masuk kamp konsentrasi Nazi Jerman. Dia berhasil bertahan hidup, sedangkan orangtuanya, saudara laki-laki dan isterinya tewas. Saat menyaksikan sesama tahanan satu per satu meninggal karena dibunuh atau akibat lelah dan sakit, Frankl mencoba bertahan. Suatu hari, saat masih lemah dan sakit, dia diminta membantu dokter di kamp yang dihuni tahanan yang terkena tifus. “Saya sadar, bahwa kalau saya kembali bekerja, dalam waktu cepat, saya pasti akan mati. Namun kalau saya memang harus mati, setidaknya kematian saya punya arti,” katanya dalam hati.

“Setidaknya kematian saya punya arti” adalah ungkapan kunci dalam situasi genting itu. Dia ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat, yang mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Keinginan untuk hidup bermanfaat itu memberinya arah dan makna sehingga dia bersemangat untuk hidup. Ternyata dia tetap hidup. Inilah yang kelak mendasari teori logoterapi yang dikembangkannya. Seperti judul bukunya yang telah mengalami cetak ulang ratusan kali dan diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia: Man’s Search for Meaning, pencarian manusia akan makna. Bagi manusia, sekadar hidup saja tidak cukup. Dia harus tahu dan sadar, untuk apa dan mengapa dia hidup. Dia rindu akan makna.

Frankl menemukan, ada tiga hal yang dapat menjadi sumber makna hidup, yaitu kerja, cinta dan keberanian. Orang akan merasa hidupnya berharga dan bermakna, jika dia melakukan sesuatu yang penting, yang bermanfaat dan mendatangkan kebaikan. Orang juga akan menemukan makna hidup ketika dia memberikan kasih sayang dan kepeduliannya pada orang lain. Begitu pula, orang akan menemukan makna hidup ketika dia berani menanggung resiko, mengambil keputusan dan/atau tindakan di saat-saat sulit. Kerja, cinta dan keberanian itu barangkali dapat dirangkum dalam hadis Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Namun, sekuat apapun usaha kita dalam bekerja, mencintai dan mengambil resiko, kita adalah makhluk yang terbatas. Kita dibatasi oleh ruang dan waktu. Pengetahuan dan kekuatan kita juga terbatas. Di sinilah manusia harus sadar dan insaf, bahwa dirinya terbatas, dan hanya Dia Yang Tak Terbatas. Agar hatinya damai, setelah segala usaha dilakukan, dia harus pasrah dan tawakkal kepada Allah. “Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita, harta benda kita ataupun tanah kita. Tapi rasa takut ini akan menguap begitu kita memahami bahwa kisah-kisah hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis oleh tangan yang sama,” tulis Paulo Coelho dalam Sang Alkemis.

Saya kembali teringat dengan konferensi pers para menteri kita Sabtu malam itu. Dalam rangka menghadapi krisis Covid-19 kali ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 744,75 triliun. Dari total anggaran itu, Rp 187,84 triliun untuk perlindungan sosial dan Rp 214,95 triliun untuk kesehatan. Alangkah banyaknya duit yang dikeluarkan! Untuk apa semua ini? Agar kita bisa bertahan hidup menghadapi Covid-19. Kita tahu bahwa semua kita pada akhirnya akan mati juga. Namun kita masih ingin hidup, mengisinya dengan perbuatan baik yang bermanfaat sembari dengan rendah hati mengakui keterbatasan dan kelemahan diri kita di hadapan-Nya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved