Breaking News:

Fikrah

Mendirikan Salat

Adapun mi'raj adalah dinaikkannya Nabi Saw ke hadirat Allah Swt untuk menerima perintah salat.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC 

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEBAGAIMANA kita maklumi bersama bahwa di bulan Rajab terjadi dua peristiwa besar terhadap Nabi kita Muhammad Saw, yaitu Isra dan Mi'raj. Isra adalah diperjalankannya Nabi Muhammad Saw dari masjid Al Haram di Mekkah ke Masjid Al Aqsa di Palestina. Sedang Mi'raj adalah dinaikkannya Nabi Muhammad Saw oleh Allah Swt dari Masjid Al Aqsa di Palestina ke langit menghadap kehadirat Allah SWT, yang secara husus Allah Swt memanggil beliau untuk menerima perintah salat fardu yang lima waktu.

Sebagaimana kita maklumi pula bahwa rukun islam itu ada lima, yaitu mengucap dua kalimah syahadat, mendirikan salat, melaksanakan puasa ramadhan, menunaikan zakat, dan kelima naik haji ke Mekkah bagi mereka yang mampu untuk datang kesana.

Perintah-perintah ini berbeda satu sama lain. Haji cukup dengan ayat Al-qur'an dalam firman Allah Swt, “watimmulhajja wal'umrata lillah dan firman Allah walillahi 'alannasi hijjil baiti manis tata'a ilaihi sabiila. Artinya karena Allah lah diwajibkan bagi manusia berhaji bagi mereka yang mampu datang kesana.” Perintah zakat dengan firman Allah Swt, “waatuzzakah. Artinya tunaikanlah zakat.” Puasa ramadhan dengan firman Allah wahai orang-orang yang beriman, kutiba 'alaikumussiam diwajibkan kepada kalian puasa bulan ramadhan. Disinilah hebatnya perintah salat. Allah Swt sengaja memanggil Nabi Muhammad Saw untuk naik ke langit menghadap hadirat Allah Swt.

Adapun peristiwa Isra, diinformasikan cukup melalui satu ayat yaitu Surah Al Isra ayat pertama. Cukup melalui satu ayat, namun mencakup ilmu orang membuat berita atau informasi. Adapun mi'raj adalah dinaikkannya Nabi Saw ke hadirat Allah Swt untuk menerima perintah salat.

Pada zaman dahulu Rasulullah Saw merasa kesulitan untuk memberi tahukan tibanya waktu salat. Ada yang mengusulkan wahai rasul kita nyalakan saja api unggun. Rasul menjawab jika nyalakan api unggun kita akan sama dengan umat majusi. Adapula yang mengusulkan bunyikan saja lonceng. Rasul bersabda, “Jika bunyikan lonceng kita akan sama dengan ummat Nasrani.” Lalu ada pula yang berkata kita bunyikan saja tabuh atau gendrang. Rasul menjawab, “Jika kita bunyikan gendrang kita akan sama dengan umat hindu.” Dari jawaban-jawaban Rasul ini dapat kita simpulkan bahwa Rasul menginginkan adanya identitas tersendiri bagi ummat islam.

Pada suatu ketika seorang sahabat melaporkan diri kepada Rasulullah Saw, bahwa iya bermimpi didatangi oleh seseorang berbaju putih yang mengajarkan kalimat-kalimat azdan yang kita kenal sekarang. Rasul menjawab kalimat-kalimat ini adalah merupakan ru'ya asshadiqah. Artinya mimpi yang benar. Bila datang waktu salat kalimat-kalimat inilah yang kita kumandangkan. Inilah yang di sebut azdan, yang menyerukan azdan di sebut muazdin. Orang yang pertama kali diperintahkan Rasul untuk mengumandangkan azdan iyalah seorang budak hitam yang bersuara keras dan merdu itulah di Bilal Bin Rabbah.

Mereka-mereka yang mendengar kalimat-kalimat adzan hendaklah mengulangnya dengan kata-kata yang sama, kecuali pada kata hayya 'alasshalah dan hayya a'lal falah dengan jawaban lahaula wal kuwwata illah billah. Sedangkan di waktu subuh adzan fajar dengan tambahan kalimat assalatu hairun minannaum. Artinya salat lebih baik daripada tidur dan yang mendengan menjawab dengan kalimat, “sadaqta wabarirta wa ana minassyahidiin. Artinya engkau benar engkau orang yang baik dan aku siap bersaksi atas yang demekian itu.

Nah, adzan ini dikumandangkan lima kali dalam sehari semalam, berarti kepada kita diseru dengan ungkapan hayya 'alalfalah. Artinya mari mereut kemenangan. Dengan demikian kita diseru sepuluh kali dalam sehari semalam untuk merebut Al-Falah untuk merebut kemenangan. Sedangkan di dalam iqamah seruan hayya alalfalah ada lima kali, sehingga kita diseru untuk merebut kemenangan ini atau Al Falah menjadi lima belas kali. Allah SWT berfirman, ''haafizu 'alasalati wassalatil wostha. Artinya peliharalah salat dan salat Al Wustha (pertengahan). Mengapa demikian? Karena semua salat itu pada kedudukannya semuanya adalah pertengahan.

Di dalam salat sebenarnya seorang muslim berdialog dengan Allah SWT, ada ungkapan bahwa bila engkau ingin berdialog dengan Allah maka dirikanlah salat dimana, engkau membaca surah Al-Fatihah itulah dialog kita dengan Allah. Dan apabila anda ingin Allah yang berbicara dengan anda maka bacalah Alqur'an. Ketika kita salat kita membaca surah Al-Fatihah kita katakan Bismillahirrahmanirrahiim, Artinya dengan anam Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.” Allah SWT menjawab, ''zakarani abdi. Artinya oh, hambaku mau mengingat aku.” Kita katakan alhamdulillahi rabbil'alamiin. Artinya segala puji bagi Allah Tuhan semeta alam. Allah SWT menjawab, ''hamidani abdi. Artinya oh, hambaku mau memuji aku”

Kita katakan arrahmanirrahim. Allah menjawab, “hambaku menyanjung aku.” Kita katakan iyyakana' budu wa iyya kanastaa'in. Ini antara hambku dan aku. Bila kita katakan ihdinassiratal mustakim sampai akhir Allah menjawab ini seluruhnya untuk hambaku. Hambaku akan mendapatkan hidayah daripadaku. demikianlah dialog kita denga Allah SWt dalam Salat. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved