Breaking News:

Jendela

Guru Sufi Pewaris Nabi

seorang ulama yang sudah dididik dalam keruhanian Islam akan sangat berhati-hati. Ilmu agama adalah makanan ruhani, bukan jasmani

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - “MENGAPA kamu tidak membuka pengajian atau pesantren?” tanyaku padanya. Dia adalah sahabat seperjuangan saat sama-sama di pesantren dulu. Setamat dari pesantren, dia melanjutkan belajar ke Bangil dengan Tuan Guru Haji Syarwani Abdan. Kemudian dia nekat ‘terjun bebas’ ke Mekkah, mengaji kitab-kitab klasik di pengajian ulama-ulama tradisional. Sudah 30 tahun dia tinggal di kota suci itu, sambil bekerja sebagai pembimbing ibadah umrah untuk jemaah dari negara tetangga. Dia kadang pulang ke tanah air. Di masa Covid-19 ini, dia sudah beberapa bulan pulang kampung.

“Belum ada perintah atau isyarat dari guruku,” katanya. Saya maklum dengan jawaban ini. Dalam pandangan dunia sufi tradisional, seorang murid yang baik harus mengikuti bimbingan gurunya secara spiritual. Guru ini disebut ‘mursyid’, sang pemberi petunjuk. Jika guru belum memerintahkan atau mengizinkan, maka murid harus taat. Hal ini penting bagi kemaslahatan batin sang murid sebagai seorang pejalan spiritual (sâlik) yang dibimbing gurunya menuju Allah. Meskipun guru sudah meninggal, bimbingan itu terus berlangsung, antara lain melalui mimpi.

“Bukankah gurumu itu sudah meninggal?” tanyaku. “Benar, dan aku sering bermimpi beliau, tapi belum ada perintah untuk membuka pengajian atau mendirikan pesantren,” katanya. Dia kemudian menjelaskan bahwa jika tidak ada perintah dari gurunya, dia khawatir akan melakukan sesuatu hanya karena kepentingan-kepentingan nafsu duniawi. “Mungkin pada awalnya kita ikhlas, ingin berbuat baik. Tetapi karena ruhani kita lemah, lama-lama tujuan kita berubah. Tujuan kita bukan lagi membagi ilmu, tetapi uang dan ketenaran. Ini bahaya yang ingin kuhindari,” katanya.

Saya sungguh tersentuh dengan penjelasannya. Di zaman modern yang serba profesional ini, masih ada orang seperti dirinya. Baginya, mengajarkan agama bukanlah pekerjaan biasa. Ulama adalah pewaris Nabi. Seorang Nabi tidak mengajukan diri untuk diangkat oleh umatnya. Dia dipilih dan diangkat oleh Allah sendiri. Kalangan sufi percaya, guru-guru mereka tersambung secara ruhani sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Karena itu, izin dari guru mursyid merupakan lisensi spiritual yang harus dimiliki seseorang jika dia ingin melaksanakan dakwah. Izin guru adalah lampu hijau bahwa si murid benar-benar siap secara ruhani untuk masuk ke jalur dakwah itu.

Demikianlah, seorang ulama yang sudah dididik dalam keruhanian Islam akan sangat berhati-hati. Ilmu agama adalah makanan ruhani, bukan jasmani. Yang ruhani takkan pernah sebanding dengan jasmani yang akan hancur bersama tanah. Mengajar agama dengan niat mendapatkan harta adalah merendahkan agama. Karena itu, di antara mereka ada yang mandiri secara ekonomi terlebih dahulu baru kemudian membuka majelis taklim. Ada pula yang tidak kuat secara ekonomi, tetapi jiwanya sudah zuhud, asketis terhadap dunia. Diberi upah atau tidak, tidak menjadi soal. Banyak atau sedikit, tidak masalah. Kebahagiaannya adalah manakala bisa menyalakan pelita iman di hati manusia.

Sungguh beruntung jika kita bertemu guru semacam itu. Kata-katanya menembus batin, membuat hati kita bergetar. Nasihatnya membekas, membuat kita ingin mengamalkannya. Jangankan mendengar nasihatnya, memandang wajahnya saja membuat kita ingat kepada Allah. Kehadirannya membuat suasana batin terasa damai. Doa yang dipanjatkannya, yang kita aminkan bersamanya, terasa menembus langit. Semua ini terjadi karena dia tidak hanya pantas, melainkan memang diberi tugas untuk menyampaikan pesan-pesan kenabian. Sebagai manusia, dia tentu memiliki kekurangan, tetapi kekurangan itu tidak sampai membuatnya menjadi budak nafsu dan pengabdi dunia.

Saya pun bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah saya yang berprofesi sebagai guru dengan predikat ‘besar’ pula memiliki sedikit saja dari karakter para pewaris Nabi itu? Sebagai pegawai negeri, saya digaji pemerintah lumayan besar. Jangan-jangan, kinerja saya tidak sebanding dengan gaji yang saya terima. Itu berarti sebagian gaji yang saya terima tergolong syubhat bahkan haram. Harusnya saya bekerja profesional. Kinerja saya sesuai beban kerja yang telah ditetapkan. Ini pun belum cukup. Seharusnya kinerja saya melebihi beban kerja saya, dengan mempersembahkan yang terbaik yang bisa saya berikan. Bahkan, ini pun masih kurang dibanding keikhlasan ulama di atas.

Alhasil, dunia memang terus berubah. Masyarakat modern menuntut keragaman profesi dan keahlian. Namun, karakter guru sufi pewaris Nabi di atas tetap sangat penting untuk dicamkan. Guru bukan sekadar pengajar yang mencari upah. Ucapan dan tindakannya adalah teladan. Ilmu yang disampaikannya adalah pelita bagi hati manusia. Dia mencintai kemuliaan budi, bukan harta duniawi. Jika tidak, maka pendidikan tak lebih dari selembar ijazah. Dakwah tak lebih dari selingan hiburan. Ucapan dan tindakan guru tak mampu lagi menggetarkan hati dan mengubah jiwa. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved