Breaking News:

Jendela

Guru, Lapat dan Makrifat

Lapat adalah makanan untuk tubuh, sedangkan makrifat adalah makanan hati, kita memiliki tubuh yang harus dipelihara dengan makanan, minuman

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - PADA paruh kedua 1980-an, saat saya masih nyantri di Pesantren Al-Falah Banjarbaru, saya sering ke Martapura, mengikuti pengajian Tuan Guru Haji Muhammad Zaini bin Abdul Ghani. Pada saat itu, Guru masih tinggal di Keraton, belum pindah ke Sekumpul. Pengajian dilaksanakan di rumahnya dan Langgar Darul Aman, hanya puluhan meter dari rumahnya. Di samping langgar Darul Aman itu ada warung makan-minum. Salah satu yang saya suka di warung itu adalah lapat atau buras. Harganya murah, rasanya enak dan cukup untuk mengganjal perut yang lapar. Saat pengajian, Guru bercanda, “Kalian suka lapat, sedangkan orang zaman dulu suka makrifat,” katanya. Jemaah pun tertawa.

Lapat adalah makanan untuk tubuh, sedangkan makrifat adalah makanan hati. Sebagai manusia, kita memiliki tubuh yang harus dipelihara dengan makanan, minuman, olahraga dan istirahat. Kita juga perlu pakaian dan tempat tinggal. Tubuh adalah materi yang bisa dirasakan oleh indera kita. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak manusia yang sibuk menumpuk materi, seolah dirinya hanyalah tubuh belaka. Padahal, selain tubuh, ada ruh, selain jasmani, ada ruhani. Makanan ruhani adalah ilmu dan zikir, yakni ingat kepada Allah. Ilmu ruhani yang tinggi disebut makrifat (ma’rifah), yaitu ilmu yang diperoleh melalui penyingkapan tabir-tabir batin sehingga hati dapat melihat kebenaran.

Kita terpesona dengan materi karena ia tampak nyata di depan mata. Kita sering terpukau dengan keindahan tampilannya, kemerduan suaranya, keharuman baunya, kelembutan permukaannya dan keenakan rasanya. Kita ingin memilikinya sebanyak-banyaknya, dan menikmatinya selama-lamanya. Kita ingin kaya raya. Salah satu cara untuk kaya adalah berkuasa. Kita pun ingin berkuasa selamanya. Inilah yang dikatakan Iblis kepada Adam, “Hai Adam, maukah kau kutunjukkan pohon keabadian dan kerajaan yang tak pernah punah?” (QS 20:120). Adam dan Hawa tertipu. Namun mereka segera bertaubat. Kita, anak cucu Adam ini, juga banyak yang tertipu, dan bahkan tidak bertaubat!

Berbeda dengan kita, para Nabi dan para wali Allah, adalah orang-orang yang telah mendapatkan pencerahan ruhani dan kebijaksanaan hidup. Mereka mampu melihat bahaya di balik keindahan dunia yang tampak. Al-Ghazali mengumpamakan, jika ada sepiring makanan enak dengan aroma yang menggoda, setiap orang tentu terbakar seleranya ingin menyantap makanan itu. Namun, jika di antara mereka ada yang mengetahui bahwa makanan itu telah dicampuri racun, dia pasti takkan mau menyentuhnya. Begitulah perbedaan antara orang biasa dengan orang bijak. Yang pertama tergoda dengan keindahan yang tampak, yang kedua sadar akan bahaya yang mengintai.

Bagaimanakah agar kita bisa mereguk kebijaksanaan hidup dan pencerahan ruhani seperti para Nabi dan wali itu? Jawabnya sederhana: ikuti dan amalkan ajaran-ajaran mereka. Jadikan mereka sebagai teladan. Kita mungkin tidak bisa sama seperti mereka, tetapi kita berusaha mendekati mereka. Jika tak bisa juga, paling kurang kita tergolong orang-orang yang mencintai mereka. “Jadilah kamu orang yang tahu, atau belajar untuk tahu, atau pendengar, atau pecinta dan jangan menjadi yang kelima, sebab kau akan celaka,” kata sebuah hadis. Menurut para ulama, hati kita laksana batu api yang akan terpijar jika tersentuh oleh petunjuk kenabian. Tugas kita adalah membuka jendela hati itu.

Dalam pengajiannya, Guru Zaini juga pernah menyinggung sebuah kitab tasawuf karya Tuan Guru Haji Abdurrahman Shiddiq berjudul Risalah ‘Amal Ma’rifat. “Bukan kebetulan jika judul risalah itu adalah ‘Amal Ma’rifat karena untuk meraih makrifat tidak cukup hanya dengan ilmu, tetapi yang lebih penting lagi adalah amal,” katanya. Ilmu itu sulit, dan amal jauh lebih sulit. Di zaman ini, banyak orang malas belajar ilmu ruhani. Ada yang menganggapnya tak berguna karena tak mendatangkan duit. Tak sedikit yang sibuk membaca atau menonton informasi dangkal di media sosial. Banyak pula yang senang berdebat. Kerinduan akan pencerahan hati dan kebijaksanaan semakin langka.

Selain itu, sebagian cendekiawan yang merasa pintar menilai, ajaran-ajaran Sufi itu menjauhkan manusia dari berjuang menghadapi tantangan hidup di dunia ini. Orang selalu diarahkan untuk ingat pada akhirat, padahal kita hidup di dunia ini. Kritik ini muncul dari kekurangpahaman akan ajaran dan amalan Sufi itu sendiri. Kita harus sadar, tanpa didorong pun, manusia mudah sekali cinta pada dunia. Sebaliknya, waspada akan bahaya dunia yang menipu perlu dibangkitkan karena kita sering kali lalai. Kaum Sufi yang beruzlah, mengasingkan diri, bukan berarti lari dari dunia. Mereka mencari pencerahan hati agar kelak kembali ke dunia dengan kekuatan ruhani yang tangguh.

Alhasil, kita memang suka lapat, tetapi jangan lupa makrifat. Paling kurang, kita berusaha mendapatkan bias sinar ruhani dari orang-orang yang tercerahkan. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved