Ekonomi dan Bisnis

Produksi Beras Premium Lokal Kalsel Terus Ditingkatkan dengan Pengepakan

Petani Millenial Utuh Agak Diang Bungas Desa Manarap Baru, Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, ajari petani olah beras lokal tanpa lewat tengkulak.

Tayang:
Penulis: Nurholis Huda | Editor: Alpri Widianjono
ISTIMEWA
Bras lokal, Utuh Agak Diang Bungas dari Manarap Baru, Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). 

ANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Pengelolaan peras premium Beras lokal Provinsi Kalimantan Selatan, terus ditingkatkkan. Termasuk dalam segi pengepakannya. 

Jika dipak dan diolah sendiri, maka harga beras akan jauh lebih mahal dan keuntungan akan berpihak kepada petani lokal. 

Ketua Petani Millenial Utuh Agak Diang Bungas Desa Manarap Baru, Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Adiansyah, Senin (13/9/2021), menjelaskan, pihaknya terus mengedukasi dan mengajak petani dan mengajak petani untuk mengolah gabah lokal menjadi Beras lokal, tanpa melalui pengepul atau tengkulak. 

"Kami jual beras langsung ke kustomer. Kalau pengepul, mereka membeli gabahnya. Jika petani mengolah sendiri seperti di kelompok kami, maka  dari situ kita meminimalisasi penjualan gabah ketengkulak," kata dia. 

Jika petani mengolah beras dan mengemas berasnya sendirim maka akan menjadi nilai lebih. "Jadi kalau perbandingan dari gabah keberas hasilnya 20-30 persen keuntunganya lebih besar beras," urainya.

Baca juga: Produk-produk UMKM Kota Banjarbaru Berpotensi Masuk Ritel Modern

Baca juga: Jalur Darat dari Banjarmasin Terendam Banjir Kalteng, Distribusi Angkutan Bahan Pokok Lewat Sungai

Ardiansyah mencontohkan 1 blek padi harga panen Rp 55 ribu-Rp 60 ribu dalam 1 karung harganya berarti 5 x Rp 60 = Rp 300 ribu. 

Kalau dijadikan beras dengan residu 5 blek gabah digiling menjadi 2,5 blek beras atau 50 liter, sedangkan 2,5 blek beras di jual dengan harga Rp 450 ribu.

"Jadi harga jual beras Rp 450.000 - Rp 300.000= Rp 100.000 margin kotor. Potong upah pengeringan, giling, pengemasan, distribusi margin bersih adalah adalah Rp 70.000 - Rp 80.000," rincinya. 

Masih dari simulasi dia menggambarkan, gabahnya dari petani yang jual petani, jika gabah Rp 300.000/ karung, Kalau dijadikan beras Rp 450.000/karung. 

"Dapat dihitung selisih kenaikan pendapatan petani kita dalam 1 hektare adalah 20-30 persen," tandas dia.

Petinggi Pemkab Tala memperlihatkan beras lokal, Beras Mayang Jambun seusai seremonial launching-nya di Desa Handilbirayang Bawah, November 2020 lalu. Komoditas ini menjadi ciri khas desa setempa
Petinggi Pemkab Tala memperlihatkan beras lokal, Beras Mayang Jambun seusai seremonial launching-nya di Desa Handilbirayang Bawah, November 2020 lalu. Komoditas ini menjadi ciri khas desa setempa (Humpro Pemkab Tala)

Menurut Ardiansyah, sebagai binaannya kini, sudah ada 30 orang yang masuk dalam bina dan semuanya  antusias. 

"Ke depanya kami akan buat 1 produk lagi. Insya Allah, ke depannya, petani kami akan kami gajih setiap bulan  kalau resi gudang kami sudah terbangun," sebutnya. 

Diutarakannya, petani lokal dengan beras kemasan ini melakukan penjualan dengan cara delivery order 1 bulan 300 blek/bulan. Penjualan dengan distributor 500 blek /bulan.

Bukan hanya dia, tapi, para perwakilan petani Kecamatan Gambut, Kecamatan Sungai Tabuk dan Kecamatan Kertak Hanyar berkumpul di Desa Abumbun Jaya, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, juga dilatih pengolahan beras agar berkelas premium.

Namun kali ini pelatihan yang diadakan LPBI Nahdlatul Ulama (NU) Kalsel. Pelatihan ini juga didukung oleh UNDP dalam program perbaikan ekonomi masyarakat pasca bencana banjir.

Baca juga: Belum Panen, Harga Beras Merah Lokal Lebih Mahal Dibanding dari Jawa

Baca juga: 200 Ton Beras Cadangan Pemprov Kalsel Disiagakan untuk Bansos PPKM

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved