Breaking News:

Jendela

Kentut, Korupsi dan Keadilan

Manusia cenderung tidak mengakui kesalahannya, meskipun dia sendiri tahu dirinya bersalah. Ia enggan mengakui karena malu dan takut dijatuhi hukum

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEORANG laki-laki duduk bersama sang Sufi jenaka, Nasruddin Hoja. Rupanya lelaki itu sakit perut dan ingin kentut. Dia pun mencari akal agar tidak malu. Saat kentutnya menembak, dia memukul lantai dengan keras, sehingga suara kentutnya menjadi samar. Nasruddin tersenyum dan berkata, “Kamu bisa saja menyembunyikan bunyinya, tetapi bagaimana dengan baunya?”

Sebagai manusia, kita bisa saja menutup-menutupi kekurangan dan kesalahan kita. Kekurangan tubuh dapat ditutupi dengan pakaian yang indah. Kerutan wajah dapat dihilangkan dengan olesan make up. Rambut yang putih dapat disemir menjadi hitam. Bahkan rambut yang gundul bisa diganti dengan wig. Gigi yang rusak bisa diganti dengan yang palsu. Begitu seterusnya. Apalagi suara hati kita yang memang sudah tersembunyi. Kita bisa saja berpura-pura manis, padahal hati kita marah. Kita bisa saja menunjukkan diri seolah rendah hati, padahal hati kita sebenarnya sombong.

Namun, cepat atau lambat, yang palsu itu akan ketahuan. Lawan kepalsuan adalah kebenaran.Yang palsu itu disebut batil, dan yang benar disebut yang hak. Yang hak artinya sesuai dengan kenyataan, sedangkan yang batil artinya tidak sesuai dengan kenyataan. Kenyataan di sini bisa berarti fakta yang dapat dicerap oleh indera, atau sesuatu yang bisa ditangkap oleh akal dan hati. Karena yang benar itu adalah kenyataan, maka dia lebih kuat dan kokoh dibanding kepalsuan yang ilusif, tidak sesuai dengan kenyataan. Yang hak akan bertahan, sedangkan yang batil akan sirna.

Mungkin begitu pula dengan korupsi. Seringkali korupsi dilakukan secara terencana melalui suatu persekongkolan berbagai pihak alias ‘korupsi berjemaah’. Dengan persekongkolan itu maka semua yang terlibat akan berusaha menutup-nutupi. Semakin banyak yang menutupi, semakin aman. Di sisi lain, semakin banyak yang terlibat akan semakin berpeluang juga untuk terbongkar. Jika salah seorang dari anggota persekongkolan itu tertangkap, besar kemungkinan dia akan ‘bernyanyi’, tak mau menanggung sendiri. Kepalsuan pun terkuak. Yang batil dienyahkan oleh yang hak.

Hanya saja, kadang yang batil itu dapat terus berjaya karena dilindungi oleh orang-orang kuat dan berkuasa. Aparat hukum tak dapat menyentuh mereka. Namun, jika dicermati lebih dalam, yang hak tetaplah kuat dan menang. Yang batil memang dapat dilindungi dari sanksi hukum, tetapi akibat-akibat buruk yang ditimbulkannya tetaplah nyata. Yang nyata itu adalah yang hak. Jika para pejabat negara korupsi, maka akibat buruknya pasti dirasakan rakyat seperti kemiskinan, kebodohan dan tata kelola pemerintahan yang amburadul. Siapapun takkan bisa menyembunyikan kebenaran ini.

Lain lagi dengan kasus yang menyedihkan. Seorang pejabat yang jujur dan bersih, ternyata terseret kasus korupsi gara-gara kesalahan administratif yang dilakukannya. Dia sama sekali tidak berniat apalagi menikmati hasil jarahan uang negara itu, tetapi karena kurang cermat atau ditipu oleh bawahannya, dia membubuhkan tanda tangan. Dia memang tidak memperkaya diri sendiri, tetapi secara tidak sengaja memperkaya orang lain, yakni orang-orang yang sengaja melakukan korupsi itu. Bukankah dalam kasus seperti ini, kepalsuan menang atas kebenaran?

Dalam kasus di atas, bagaimanapun, tetap ada kesalahan sang pejabat. Seharusnya dia berhati-hati dan cermat, jangan sampai secara tidak sadar terlibat dalam tindak korupsi. Di sisi lain, karena dia tidak berniat dan tidak turut serta dalam persekongkolan, dia tergolong orang yang baik dan benar. Apalagi jika ternyata, dia sengaja dijebak oleh anak buahnya. Jika dia akhirnya diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman, dia tentu menanggung malu dan derita. Namun hukuman itu lebih sebagai ujian baginya, bukan balasan atas kejahatannya. Secara psikologis dia terbebas dari rasa bersalah.

Dunia memang tidak selalu adil. Seperti kata Bang Haji, kadang kala “yang benar dipenjara, yang salah tertawa.” Bagi kaum beriman, hal ini tidaklah mengherankan. Dunia adalah ladang perjuangan dan ujian, bukan tempat pembalasan. Di sinilah orang-orang baik itu diuji, apakah mereka tetap yakin dengan kebenaran ataukah tidak. Alqur’an misalnya memaparkan cerita tentang Nabi Yusuf yang difitnah dan dijebloskan ke penjara. Namun, karena dia sabar, dia akhirnya diangkat menjadi menteri. Hal serupa terjadi pada Soekarno, Hatta, Nelson Mandela dan lain-lain.

Sebenarnya dalam perkara hak dan batil ini, hakim yang paling adil adalah diri kita sendiri. “Bahkan manusia itu mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya, meskipun dia melemparkan berbagai alasan,” kata Alqur’an (75:14). Manusia cenderung tidak mengakui kesalahannya, meskipun dia sendiri tahu dirinya bersalah. Ia enggan mengakui karena malu dan takut dijatuhi hukuman. Padahal, di dalam hatinya yang terdalam, dia tahu betul bahwa dirinya bersalah. Akhirnya, alih-alih mengakui, para pelaku kejahatan akan saling menunjuk dan melempar tanggungjawab.

Saya pun teringat permainan anak-anak. Ketika bau kentut menyebar dalam satu kelompok dan tidak ada yang mengakuinya, maka salah seorang akan bernyanyi sambil menunjuk yang hadir satu per satu di akhir tiap kata berikut: “Bang-bang tut, biji cempedak, siapa yang kentut, pantatnya meledak.” Siapa yang terkena tunjuk paling akhir, dialah si terdakwa. Ini hanya permainan, bukan pengadilan. Semua yang hadir akan terhibur dan tertawa. (*) 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved