Breaking News:

Jendela

PTM, Gembira dan Waspada

Jika sebagian anak-anak kehilangan kesempatan belajar efektif selama krisis Covid-19 ini, tugas pendidik ke depan lebih berat dan berlipat

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - PAGI Sabtu lalu, seperti biasa saya dan isteri berolahraga jalan kaki. Menjelang jam 07.30, tiba-tiba jalanan makin ramai dengan kendaraan. Ini sesuatu yang tidak biasa di masa pandemi. Rupanya anak-anak sekolah di Kota Banjarmasin sebagian sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka. Entah mengapa, muncul gelora di hati saya menyaksikan para orangtua yang membonceng anak-anak berseragam menuju sekolah. Ada kesegaran dan gairah yang membuncah di wajah-wajah mereka. Seolah ‘pintu gerbang kemerdekaan’ dari Covid-19 tampak terbuka. Alangkah lega!

Kebijakan pelaksanaan pembelajaran daring memang terasa berat bagi kita. Lebih-lebih bagi anak-anak kita yang masih belia, yang belum mampu belajar secara mandiri, dan sangat perlu bertemu dan berinteraksi dengan guru-guru dan teman-teman mereka. Jelas, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan juga wadah untuk bergaul dan mengembangkan diri. Bagi anak-anak, sekolah juga tempat yang jauh lebih aman dibanding ruang-ruang publik lainnya. Singkat kata, sekolah adalah salah satu ruang publik yang sangat penting bagi pertumbuhan jiwa-raga anak-anak kita.

Secara alamiah, manusia seringkali baru sadar akan nilai sesuatu ketika sesuatu itu tiada. Ketika sekolah berjalan seperti biasa, kita menganggapnya biasa-biasa saja. Kita tidak menyadari betapa besar arti sekolah itu bagi para orangtua dan anak-anak. Pagi-pagi sekali orangtua sudah sibuk membangunkan anak-anak itu, lalu menyiapkan makanan dan pakaian seragam mereka. Didekap udara dingin pagi atau dibakar panas matahari siang hari hingga kadangkala diguyur hujan, anak-anak itu diantar dan dijemput atau pulang pergi sendiri setiap hari ke sekolah.
Rutin seperti itu.

Manakala rutinitas tersebut tiba-tiba harus berhenti, kita pun tercengang. Para orangtua bingung, bagaimana menangani anak-anak di rumah sementara mereka juga harus bekerja mencari nafkah. Anak-anak lebih bingung lagi karena belum tahu bagaimana cara belajar jarak jauh. Guru-guru juga galau, bagaimana cara menggunakan media pembelajaran daring dengan baik. Pemerintah serba salah. Jika tidak daring, kita khawatir Covid-19 makin merajalela, sementara pembelajaran daring belum tentu efektif. Kompetensi guru, kemampuan orang tua, dan fasilitas pembelajaran daring di tiap sekolah dan wilayah jelas berbeda. Kebijakan yang bersifat pukul rata tidak akan efektif.

Kini pintu sekolah itu kembali dibuka, meskipun belum lebar-lebar. Penurunan jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 dan vaksinasi yang sudah dilaksanakan, telah membantu kita sedikit membuka pintu sekolah itu. Dalam keadaan ini, kita sebenarnya berada dalam masa transisi yang rawan. Ibarat masa remaja, kita sudah tidak lagi anak-anak, tetapi juga belum matang sebagai orang dewasa. Jika kita tidak hati-hati, maka sangat mungkin kita akan kembali kepada pembatasan ketat sebelumnya. Seperti remaja yang suka meluap-luap, kita pun bisa berperilaku demikian. Manakala pintu dibuka, kita sudah merasa bebas menerabas, sehingga protokol kesehatan diabaikan.

Salah satu cara agar kita dapat mengendalikan diri adalah ingat akan kesusahan ketika pintu sekolah ditutup rapat-rapat selama hampir satu setengah tahun ini. Apa yang selama ini telah hilang dalam proses pendidikan anak-anak kita akibat pembelajaran daring juga harus kita ingat-ingat. Cukuplah pengalaman pahit sebagai pelajaran agar kita tidak terjerumus ke jurang yang sama. Kita harus sadar bahwa saat ini kita baru memulai dan bisa dikatakan berada pada tahap uji-coba. Jika kita gagal, kita harus kembali lagi dari awal. Nafsu kita yang cenderung tidak sabaran dengan protokol kesehatan harus dikendalikan. Kita harus saling mengingatkan karena ini untuk kepentingan bersama.

Di sisi lain, pendidik yang selama ini bekerja daring, dan mungkin saat bekerja dari rumah cenderung lebih santai, harus kembali bangkitkan semangatnya. Anak-anak, generasi penerus kita tengah menunggu bimbingan dan layanan Anda. Apalagi jika Anda adalah seorang ASN (Aparatur Sipil Negara) yang gajinya dibayar penuh oleh pemerintah selama pandemi ini. Tanggung jawab Anda sungguh besar. Jika sebagian anak-anak kita kehilangan kesempatan belajar yang efektif selama krisis Covid-19 ini, maka berarti tugas para pendidik ke depan lebih berat dan berlipat. Karena itu, sudah selayaknya para pendidik meningkatkan kemampuan dan layanan kepada anak didik mereka.

Alhasil, kita patut bersyukur dengan dibukanya kembali pintu sekolah untuk anak-anak kita. Namun, kita tidak boleh lupa daratan, sehingga melanggar protokol kesehatan. Ini masih tahap permulaan, dan seperti ditegaskan dalam kaidah fiqh, manista’jala bisyai’in qabla awânih, ‘ûqiba bihirmânih (siapa yang mempercepat sesuatu sebelum tiba waktunya, maka dia akan dihukum dengan tidak mendapatkannya). Sudah selayaknya kita bergembira, tetapi tetap harus waspada! (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved