Breaking News:

Jendela

Kawan dan Lawan Muhammad

Ketika manusia menuhankan harta, takhta dan sesama manusia, maka dia adalah musyrik yang sebenarnya

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP bulan maulid, penceramah suka mengutip buku Michael H. Hart berjudul 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah yang menempatkan Muhammad sebagai tokoh nomor satu. Hart menilai, berbeda dengan para ‘pendiri’ agama-agama lain, Muhammad mampu menggabungkan kepemimpinan keagamaan sekaligus kekuasaan duniawi dengan sukses dan gemilang. Sebagai seorang pemimpin, Muhammad tentu memiliki kawan sekaligus lawan, pendukung sekaligus pembangkang. Alqur’an antara lain menyebut mereka mu’min, muslim, musyrik, kâfir dan munâfiq.

Mu’min artinya orang yang beriman, yang percaya. Pada prinsipnya, dia percaya pada keberadaan Allah Yang Esa, kenabian Muhammad dan Nabi-Nabi sebelumnya, serta kehidupan sesudah mati. Dalam hadis tentang rukun iman, ditambah lagi dengan iman kepada malaikat, kitab suci, dan takdir. Kepercayaan adalah fondasi agama. Jika tidak percaya pada ajaran yang dibawa oleh Sang Nabi, maka seseorang tidak tergolong pengikutnya. Kepercayaan akan menjadi keyakinan ketika kebenarannya terbukti dalam pengalaman hidup seseorang. Iman yang menjadi keyakinan itu akan dengan mudah menghalau keraguan sehingga lahirlah rasa aman.

Iman yang terpatri dalam hati itu pun menyembul dalam perilaku. Surah al-Mu’minun menyebutkan ciri-ciri seorang mu’min yaitu khusyu’ ketika salat, menghindari perbuatan sia-sia, mengeluarkan zakat, menjaga kemaluan dari zina, menjaga amanah dan menjaga salat (74:2-9). Seorang mu’min juga peduli pada sesama. “Demi Allah, tidak beriman seseorang jika dia tidur nyeyak sementara tentangganya kelaparan,” kata Nabi. Dia juga bersabda, “Tidak beriman seseorang sampai dia menyukai sesuatu untuk saudaranya apa yang disukainya untuk dirinya sendiri,” dan “Kaum beriman itu laksana tubuh, jika satu anggotanya sakit, seluruh tubuh akan tak bisa tidur dan demam.”

Selain mu’min, ada juga istilah muslim. Muslim artinya orang yang tunduk dan pasrah kepada Tuhan. Alqur’an menyebutkan, seluruh alam semesta juga muslim, tunduk dan patuh kepada kehendak Allah, sehingga lahirlah keteraturan berupa hukum alam. Seluruh agama para Nabi juga Islam, ajaran tentang ketundukan dan kepasrahan kepada Tuhan. Dalam sebuah hadis disebutkan, rukun Islam itu ada lima yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat, salat, puasa, zakat dan haji bagi yang mampu. Fazlur Rahman merumuskan, Islam adalah ketundukan pada hukum moral yang terkandung dalam Alqur’an, dan manifestasinya dalam kehidupan disebut ibadah, yakni pengabdian kepada Allah.

Jika mu’min dan muslim adalah para pengikut dan sahabat Nabi Muhammad SAW, maka musyrik, kâfir dan munâfiq adalah lawan-lawan beliau. Musyrik artinya menyekutukan Allah, menolak tauhid, mengesakan Allah. Secara sederhana, musyrik diartikan sebagai penyembah berhala. Namun, jika didalami lebih jauh, musyrik adalah orientasi hidup manusia yang menyembah apapun selain Allah. Ketika manusia menuhankan harta, takhta dan sesama manusia, maka dia adalah musyrik yang sebenarnya. Dia tidak lagi mu’min, tidak pula muslim, secara hakiki. Hal ini terjadi ketika manusia menuhankan hawa nafsunya, yakni keinginan-keinginan rendah egonya.

Selain kaum musyrik, yang berhadapan dengan Nabi Muhammad adalah kaum kâfir. Kâfir artinya orang yang menolak atau menutupi kebenaran. Dia tahu apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW itu benar, tetapi dia enggan menerimanya karena tergoda hawa nafsu atau sombong. Dia tahu bahwa menipu, berbohong, serakah, menzalimi orang dan merusak alam itu tidak baik, tetapi ketika diingatkan, dia melawan. “Jika dikatakan kepada mereka, janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, mereka berkata, ‘sesungguhnya kami ini orang-orang yang berbuat baik’. Ketahuilah bahwa mereka itu para perusak tetapi mereka tidak (mau) menyadarinya” (QS 2:11) kata Alqur’an.

Yang terakhir adalah munâfiq. Kata ini sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia (munafik). Seorang munafik adalah orang yang pandai berpura-pura dan bersandiwara, seolah-olah dia percaya dan beriman pada Nabi, sementara di dalam hatinya menolak. Alqur’an menyebutkan antara lain, “Sesungguhnya orang munafik itu merasa menipu Allah, padahal Allah-lah yang menipu mereka. Jika mereka berdiri untuk salat, mereka malas berdiri. Mereka pamer kepada orang lain dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit” (QS 4:142). Nabi bersabda, “Ada tiga ciri seorang munafik: jika berbicara, dia berdusta; jika berjanji, dia ingkar; dan jika diberi amanah, dia berkhianat.”

Alhasil, meskipun kita adalah umat Islam, belum tentu kita ini secara hakiki benar-benar pengikut Nabi Muhammad. Boleh jadi kita masih musyrik, kafir atau munafik. Selain itu, belajar dari sejarah kepemimpinan Nabi, seorang pemimpin biasanya tidak hanya memiliki para pengikut yang setia (mu’min dan muslim), tetapi juga anak buah yang kesetiaannya terbelah (musyrik), yang pura-pura setia (munafik) hingga yang terang-terangan melawan (kafir). (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved