Breaking News:

Jendela

Kisah Sopir Taksi

Tak dapat disangkal, krisis kesehatan Covid-19 telah menimbulkan krisis ekonomi dan psikologis yang berat bagi masyarakat, khususnya lapisan bawah

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - “SUDAH mulai ramai penumpang ya pak?” kataku membuka pembicaraan dengan sopir taksi, saat menuju kota dari bandara Soekarno-Hatta. “Ya, mulai lebih baik, tetapi masih belum seperti dulu, sebelum Covid-19,” katanya. Dia bercerita bahwa akibat wabah ini, dia pulang kampung selama setahun karena tidak bisa menarik taksi lagi. Ekonomi keluarganya makin terpuruk, tetapi dia tetap tegar melewatinya dengan sabar dan tawakkal. Saya terkesan dan terenyuh mendengar ceritanya.

“Saya pulang kampung, ke Garut. Rasanya bingung juga hidup ini kalau tidak sibuk bekerja. Kalau di Jakarta saat taksi beroperasi, saya bangun pagi penuh semangat untuk bekerja. Kini di kampung, saya tidak tahu mau mengerjakan apa,” ceritanya. Saya coba menyela, bahwa di kampung banyak tetangga dan keluarga untuk ngobrol dan berbagi cerita. “Benar pak, tetapi ngobrol saja, tidak ada hasilnya, tidak ada duit yang didapat,” katanya tertawa pahit. Akhirnya, pak sopir memutuskan mau mengerjakan apa saja yang baik, meskipun tidak dibayar. Akibat Covid-19, pak sopir ini rupanya sudah menjadi filsuf eksistensialis. Dia seolah berkata, “Aku bekerja, maka aku ada.”

Kebetulan, ada tetangganya yang tengah membangun rumah. Dia meminta izin untuk membantu tukang-tukang yang bekerja. Tak perlu dibayar. Namun, dia bekerja tidak harus mengikuti jadwal tukang. Kalau sudah lelah, dia berhenti. Si tetangga yang maklum, berbaik hati memberikan kesempatan itu kepadanya. Akhirnya keberuntungan pun datang. Dia bertemu dengan tetangga lain yang menggarap tanah PJKA yang terlantar. Si tetangga mengizinkannya untuk menggarap tanah itu. Dengan senang hati, pak sopir menanaminya dengan singkong. Singkong dipeliharanya sampai bisa dipanen. “Alhamdulillah, saya bisa jual singkong itu dan dapat dua juta rupiah,” katanya senang.

“Bagaimana bapak bisa menjual singkong itu?” tanyaku. “Sudah ada orang yang biasa membelinya. Dia beli keseluruhannya, dari daunnya sampai umbinya. Setelah harganya cocok, dia ambil. Namun, dia dengan ikhlas menyisakan sebagian dari pohon singkong itu. Katanya, agar saya juga merasakan hasil tanaman saya,” kata pak sopir. Saya tersentuh dengan kebaikan hati si pembeli. Dia tidak serakah, dan mengerti betapa berarti hasil tanaman singkong itu bagi pak sopir. “Bagaimana dengan tetangga penggarap tanah sebelumnya?” tanyaku lagi. “Saya kasih dia Rp 100 ribu. Dia sudah senang. Katanya, dia tidak mengerjakan apa-apa, cuma memberi kesempatan kepada saya untuk menanami tanah terlantar yang bukan miliknya itu,” terang pak sopir.

“Saya beruntung punya isteri yang pengertian. Susah-senang kami jalani bersama. Isteri saya bisa memaklumi keadaan saya. Dia tidak menuntut macam-macam. Padahal, saudara saya ada yang bercerai gara-gara di masa Covid-19 ini dia tidak punya pekerjaan,” lanjut pak sopir. Suatu hari, dua orang isteri saudaranya datang, mau meminjam uang untuk membeli beras. Mereka benar-benar tidak punya apa-apa untuk dimakan besok! Isterinya pun iba. Sisa uang di tangan isterinya hanya Rp 50 ribu. Harga beras satu kilogram Rp 12 ribu. Jadi, sangat sedikit jika dibagi tiga. Saat uang Rp 50 ribu itu mau dibelikan beras, tiba-tiba ada orang datang menawarkan beras dengan harga lebih murah, yakni Rp 10 ribu per-kilogram. Akhirnya mereka bisa membeli 5 kilogram!

“Selama kita bekerja dengan jujur dan tawakkal, pertolongan Tuhan selalu datang,” katanya penuh yakin. Dia sudah membuktikannya. Ini terjadi sebelum Covid-19. Salah seorang anaknya kuliah. Biaya per-semesternya Rp 6 juta. Waktu pembayaran sudah dekat, sementara uang simpanannya baru Rp 2 juta. Dia terus mencari nafkah. Tiba-tiba, dia mendapatkan penumpang orang asing berkulit putih. Ketika sampai di hotel yang dituju, si penumpang memberinya Rp 1 juta, padahal seharusnya hanya Rp 100 ribu. Dia mengembalikan Rp 900 ribu, tetapi si bule menolak. Dia meminta bantuan resepsionis untuk berbicara bahasa Inggris pada tamunya itu. Ternyata, si bule memang ingin memberi tambahan uang pada pak sopir! Demikianlah, dia terus bekerja sampai akhirnya bisa membayar biaya kuliah anaknya.

Cerita pak sopir taksi di atas sungguh menyentuh hati. Tak dapat disangkal, krisis kesehatan Covid-19 telah menimbulkan krisis ekonomi dan psikologis yang berat bagi masyarakat, khususnya di lapisan bawah. Jumlah orang miskin makin banyak, dan kesenjangan antara miskin dan kaya semakin lebar. Orang-orang yang terkena gangguan jiwa juga makin bertambah. Ini terjadi di mana-mana, termasuk orang-orang di sekitar kita. Kisah sopir taksi tadi adalah kisah tentang perjuangan orang kecil mengais rezeki yang halal dengan susah payah. Pertolongan Tuhan yang datang di saat-saat genting, tidak bisa dijelaskan kecuali dengan iman. Meskipun bukan sarjana yang terpelajar, sopir taksi itu telah menunjukkan bagaimana seharusnya kerja dan tawakkal dilakoni dalam hidup ini.

Bagi kita yang lebih beruntung dari pak sopir taksi tadi, apakah kita bersyukur? Apakah kita masih tamak dan serakah, tak pernah merasa cukup? Apakah kita memiliki kepedulian kepada orang-orang kecil seperti dirinya, yang masih banyak di sekitar kita? Jika kita adalah pemimpin di pemerintahan, apakah yang kita lakukan untuk membantu mereka? (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved