Breaking News:

Fikrah

Mengenal Allah SWT Lewat Alam

pribadi dan sikap orang yang menggunakan akal pikirannya dapat menangkap kebesaran Allah sehingga menjadi orang yang beriman

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Allah SWT memperkenalkan wujud dan keberadaannya lewat alam yang sengaja dia ciptakan. Ada dua kelompok manusia yang dapat mengenal Allah SWT lewat alam. Pertama ialah al aqilun yakni mereka yang menggunakan nalar pikirannya bahwa alam semesta adalah pertanda wujud keberadaan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-baqarah ayat 165, yang berbunyi “inafi kholqissama wati wal ardhi, wah tila fil laili wan nahar’i , wal fulqilati tajri fil bahri bima yan faunnasha wa ma an zallahu minasama i min main faahya bihil ardha bada mautiha wabasha fiha min quli da battin watashri firri yahhi washabbil mus syarkari bainas sama fil wal ardhi la ayatin liqaumin yak qilun”.

Artinya sesungguhnya kejadian langit dan bumi bergantian malam dan siang, dan apa yang allah turunkan dari langit berupa air sehingga menghidupkan bumi yang mati (maksudnya menumbuhkan tumbuh tumbuhan yang tadinya kering dan tandus) dan berkeliarannya hewan hewan (termasuk manusia) serta berhembusnya angin di antara langit dan bumi, serta awan yang ber arak antara langit dan bumi adalah bertanda wujud keberadaan dan kekuasaan Allah SWT.

Kelompok kedua adalah ulul al bag yaitu manusia yang menggunakan nalar pikirannya menyaksikan alam semesta sehingga ia dapat menyimpulkan bahwa Allah itu benar-benar ada serta berpuasa.

Allah SWT berfirman “innafi walqis sama watiwal ardhi wahtila fillaili wan naharri laaiyatil liulil albag”. Artinya sesungguhnya kejadian langit dan bumi dan silih bergantinya antara malam dan siang adalah benar-benar menjadi pertanda bagi mereka yang mau menggunakan nalar pikirannya. Mereka itu adalah “al lazhina yas qurunallaha qiaman, waquudan waalla junubhihim wayata karuna fi khalqisama watiwal ar”. Artinya mereka adalah orang yang dapat menangkap tentang kejadian langit dan bumi ketika mereka berdiri, ketika mereka duduk, sampai ketika mereka sedang berbaring sekalipun.

Mereka pun berkata “rabbana makholakta khaza batila subhannaka faqina azabannar”.

Artinya wahai tuhan kami semua ini tidak ada yang kau ciptakan secara sia-sia, subhanna maha suci engkau faqina adza bannar. Maksudnya engkau hindarkan kami dari siksa neraka. Innaka man tudhilinna faqad ahzaita wama lidzaina min anshor. Artinya maha suci engkau, engkaulah yang memasukan orang yang maksiat ke dalam neraka, bagi orang yang maksiat tidak ada bagi mereka adanya penolong.

Mereka berkata pula rabbana waatina ma waatana innaka la tuhliful mi an yang artinya wahai tuhan kami datanglah apa yang telah engkau janjikan sesungguhnya engkau tidak meningkari janji selanjutnya.

Allah SWT menjawab “wastajabalahum rabbuhum anni laudzi laamala amin maunsha”. Artinya aku tidaklah menyia-nyiakan amal orang yang beramal baik laki laki ataupun perempuan. Ba dukum mimba, sebagian kamu adalah keturunan sebagian dari kamu dari yang lain.
Allah SWT berfirman “fal ladzina khazaru waukhrizu min diarihhim waqatallu waqatillu lauka firnanaha anhum syaiatihim walaud jan natin tajri min taj lihal anhar sawaban min indillah”.

Artinya dan orang orang yang keluar di jalanku, aku hapuskan kesalahan mereka dan mereka aku masukan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai balasan dari Allah SWT. Wallahu indahu khusnul maab dan bagi Allah di sisinya adalah sebaik-baik tempat kembali (yaitu surga).

La yaguranaka thakalubulazina khafaru fil biladi mata un khalillun summa yaslaunaha jahanama wabisamiha. Artinya janganlah kalian tertipu atau terpesona dengan berkeliarannya atau berbolak-baliknya orang-orang kafir di dalam negeri, mereka hanya mendapatkan kesenangan dunia yang sedikit nantinya, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka sejahat jahat tempat kembali.

Selanjutnya Allah SWT berfirmn laqilinilazdimat takaurabhaum lahum janatum tajril ahab sawaban min diillah walauhu indahu khusnul maab ya ayyuhaladzi na yusbiru wasabiru warabbitu qwa taqallaha la allakum tuflihum. Artinya wahai orang orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu serta bersiap siagalah serta bertaqwalah kepada Allah, semoga kamu menjadi orang yang beruntung.

Demikianlah pribadi dan sikap orang orang yang menggunakan akal pikirannya (al aqilun) dan orang-orang yang lubuk jiwanya dapat menangkap kebesaran Allah sehingga mereka menjadi orang yang beriman dan menjadi orang orang yang beruntung. Semoga kita dapat menyimaknya dan membentuk diri kita menjadi kedua orang ini. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved