Opini Publik
Kurikulum Merdeka, Yakinkah Benar-benar Merdeka?
Siswa tidak lagi menjadi kerbau yang dicocok hidungnya, dipaksa menjejalkan berbagai macam ilmu tapi tidak memahami manfaat dan tujuannya.
Namanya kurikulum, metode, cara, pastilah akan ada sisi positif, negatif, kelebihan dan kekurangan masing masing. Sebab setiap Menteri akan selalu mempromosikan kurikulumnya sebagai yang terbaik, yang kemudian akan dibantah oleh menteri selanjutnya, sebab menteri terbaru akan terus mengamati kelemahan kurikulum terdahulu.
Pencetus ide kurikulum baru adalah chef, sedangkan siswa adalah konsumen penikmatnya, sementara guru sebagai asisten chef pelaksana metode memasak. Sebetulnya yang dikejar adalah hasil, yang tentunya diharapkan akan membawa hal positif dan lebih. Anggaplah yang dikejar adalah sapi panggang, diharapkan asisten chef tidak kebingungan dengan metode dan cara tiap chef yang tentunya berbeda satu sama lain, sebab intinya adalah menu sapi panggang yang membuat konsumen suka.
Demikian juga dalam melihat Kurikulum Merdeka yang dibesut Nadiem, menteri yang satu ini tidak memaksakan kurikulumnya, bagaikan chef yang memberi kebebasan pada anak buahnya memakai metode memasak yang dirasakan paling efektif.
Dalam Kurikulum Merdeka, guru sebagai asisten chef memiliki kemerdekaan dalam menerapkan metode pembuatan menu. Boleh saja si asisten memakai metode chef lama, ataupun langsung menerapkan metode chef baru, bahkan asisten juga diberi kebebasan untuk memadukan dua metode chef yang berbeda. Sebab siapa tahu, dia memiliki metode tersendiri yang lebih istimewa dan berhasil guna, tapi akibat posisinya yang hanya berperan sebagai asisten chef, maka mau tak mau idenya kurang terangkat ke permukaan, hingga kemudian tenggelam.
Terpusat pada Anak
Merdeka Belajar sebagai esensi dari Kurikulum Merdeka menjadi konsep yang dibuat agar siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing. Tolok ukur dalam menilai siswa dengan minat berbeda sudah pasti tidak sama, sehingga siswa tidak bisa dipaksakan mempelajari suatu hal yang tidak disukai.
Kurikulum Merdeka pada dasarnya adalah terpusat pada anak, lebih memanusiakan anak, sebab mereka pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu dan keinginan belajar. Terkadang cap malas belajar sering disematkan pada anak-anak yang tidak bisa dalam pelajaran tertentu, padahal sebetulnya mereka bukan pemalas ataupun tidak bisa, melainkan tidak suka.
Kurikulum Merdeka terfokus pada siswa, memanusiakan siswa, yang tentu saja mengingatkan kita pada ajaran Ki Hajar Dewantara, Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayami. Guru jangan hanya banyak omong, tapi berilah contoh, semangat, dan hasil yang mumpuni. Guru yang mengayomi dan melindungi siswa sepenuh hati akan melahirkan siswa-siswa yang berhati tulus, serta menghargai kehidupan di sekitarnya, menghormati rasa-rasa kemanusiaan, menjauhkan adanya kekerasan, sehingga terjalin keharmonisan dalam pendidikan kemarin, hari ini, dan nanti.
Siswa tidak lagi menjadi kerbau yang dicocok hidungnya, dipaksa menjejalkan berbagai macam ilmu tapi tidak memahami manfaat dan tujuannya. Ibarat menyuapi anak, sedikit demi sedikit namun berhasil guna, bukan menjejalkan makanan sampai muntah, tapi anak tak mengerti manfaat dan tujuan makan. (*)