Jendela

Merdeka Bersama Ponsel

Kita harus menjadi tuan dan majikan, bukan budak dan suruhan teknologi. Kita juga tidak mau diperbudak oleh orang-orang yang mengendalikan teknologi

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - “MENGAPA kita suka membicarakan dan membesar-besarkan hal-hal kecil yang tak penting?” tanya seorang pendengar Radio Republik Indonesia (RRI) kepada saya. Pertanyaan menggugat semacam ini juga muncul di media sosial. “Mengapa kita sibuk berdebat soal pernyataan Menteri Agama terkait pengeras suara masjid, namun lupa soal kelangkaan minyak goreng dan harga kedelai yang makin tinggi?” tulis seorang teman di akun facebooknya.

Jawaban sederhana terhadap pertanyaan di atas adalah bahwa tiap orang memegang nilai-nilai tertentu yang menggiringnya untuk memutuskan apa yang utama, primer dan prioritas dan apa yang bukan. Karena itu, sesuatu yang bagi seseorang penting bisa jadi tidak penting bagi yang lain karena yang penting itu tergantung pada apa yang dianggap berharga dan bermakna bagi tiap-tiap orang. Misalnya, mana yang lebih penting, penampilan atau tenang tanpa hutang? Bagi yang menganggap penampilan lebih utama, maka ia mau membeli pakaian dan kendaraan baru meskipun berutang. Sebaliknya, bagi yang kedua, lebih baik tampil sederhana asal tidak berutang.

Namun, teori nilai tadi tidak bisa menjelaskan semuanya, lebih-lebih di era media sosial ini. Kini ada kecenderungan bahwa orang tidak memiliki nilai-nilai yang mantap. Apa yang benar dan baik, tidak jelas lagi kriterianya, sehingga apa saja yang layak diutamakan juga tidak jelas kriterianya. Yang penting sesuatu itu viral dan menjadi trending. Entah itu baik atau buruk, benar atau salah, kulit atau isi, itu tidak penting lagi. Yang penting, orang-orang ramai membicarakannya. Semakin banyak, semakin utama. Kuantitas lebih utama daripada kualitas. Bahkan kualitas ditentukan oleh kuantitas. Seberapa banyak pengikut Anda, akan menentukan siapa Anda, termasuk penghasilan Anda.

Ironisnya, kecenderungan pada yang viral dan trending tersebut terbentuk bukan melalui kesadaran langsung manusia, melainkan melalui benda elektronik dan algoritma. Kecerdasan buatan secara perlahan menentukan pilihan-pilihan kita tentang yang utama dan tidak utama, bahkan yang baik dan yang buruk. Jika kecenderungan ini semakin massif, maka mungkin secara tidak sadar kita telah ‘memberhalakan’ teknologi informasi berupa ponsel dan segala aplikasi yang dikandungnya. Berhala adalah benda yang diciptakan manusia sendiri, tetapi kemudian dia tunduk kepadanya. Teknologi tidak lagi menjadi alat tetapi majikan, dan kita menjadi budaknya.

Selain itu, kini kita mengalami tsunami informasi. Informasi berlimpah ruah dan campur aduk antara yang benar dan salah, sahih dan palsu, bermanfaat dan berbahaya, bersetuju dan bertentangan. Keadaan ini dapat membuat orang galau dan bingung mau memilah dan memilih yang mana. Jika dia belum teguh memegang nilai-nilai tertentu, maka dia akan goyah. Dalam keadaan goyah, orang akan mudah ikut orang banyak, yakni ikut yang sedang viral dan trending. Dia akhirnya tidak berpendirian, tidak memiliki nilai-nilai tertentu yang dipegangteguh. Keadaan ini akhirnya membuat media sosial, terutama orang yang dapat mengendalikannya, menjadi penguasa yang sesungguhnya.

Tantangan di atas mau tidak mau harus kita hadapi. Pertama, kita harus menanamkan nilai-nilai mulia kepada diri kita dan anak-anak kita sedini mungkin melalui pembelajaran dan teladan. Secara garis besar, kita harus memantapkan pandangan hidup. Apa sesungguhnya tujuan dan makna hidup kita? Bagi kaum beriman, kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Tuhan adalah tujuan hidup kita. Hidup yang bernilai dan berharga (karena itu bermakna) adalah jika dijalani sesuai dengan petunjuk-Nya agar kelak kita tiba menemui-Nya dalam keadaan reda dan diredai-Nya. Cara menjalani sesuai petunjuk-Nya itu secara umum disebut berbuat baik atau beramal saleh.

Dengan berpegang teguh pada pandangan hidup tersebut, kita diharapkan dapat memilah dan memilih, mana yang utama dan bukan, mana yang baik dan buruk. Segala informasi yang sejalan dengan makna dan tujuan hidup kita, maka informasi itu bermanfaat. Sebaliknya, informasi yang membuat kita menjauh dari tujuan dan makna hidup, maka informasi itu berbahaya dan wajib diabaikan. Setiap informasi yang kita serap selayaknya membuat kita lebih bijak, memahami hidup secara utuh dan mendorong kita bertindak sesuai dengan kebijaksanaan itu. Inilah ilmu sebagai hikmah, yakni kebijaksanaan yang menjadi pelita dalam kehidupan.

Kedua, kita mengambil langkah pasif dan aktif. Secara pasif, kita bisa mengurangi dan melepaskan diri dari terhubung dengan ponsel atau media lainnya. Kita sekali-kali beruzlah, mengasingkan diri dari keramaian media. Mungkin cukup beberapa jam dalam sehari, misalnya antara Magrib dan Isya atau di akhir pekan. Pada waktu itu, kita fokus beribadah, membaca atau merenung. Di sisi lain, secara aktif, kita juga dapat menciptakan konten-konten yang bermanfaat, baik berupa tulisan ataupun foto dan video, yang mencerahkan pikiran dan hati manusia. Dengan demikian, konten-konten berbahaya, ujaran kebencian dan sejenisnya, akan disaingi oleh konten-konten baik itu.

Alhasil, kita harus menjadi tuan dan majikan, bukan budak dan suruhan teknologi. Kita juga tidak mau diperbudak oleh orang-orang yang dapat mengendalikan teknologi itu. Kita ingin menjadi manusia yang merdeka, yang menjalani hidup dengan perkataan dan perbuatan yang bernilai dan bermakna, bukan dengan menghabiskan waktu secara sia-sia. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved