Fikrah

Menyambut Lebaran Idulfitri

Hari hari terakhir ini masih dalam sebutan Lailatul Qodar yaitu malam penentuan dari Allah SWT untuk gerak kehidupan dan nasib seseorang

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh KH.Husin Naparin Lc. MA (Ketua MUI Prov Kal Sel)

BANJARMASINPOST.CO.ID - HANYA dalam hitungan hari lagi, bulan suci Ramadan akan berakhir. Selamat jalan Ramadan, alhamdulillah kita dapat melaksanakan ibadah puasa Ramadan dengan baik.

Selain itu tidak ada sesuatu terjadi di negara yang membuat kita tidak bisa berpuasa Ramadan. Kendati pandemi covid 19 masih menghantui kita, namun pelaksanaan ibadah sholat tarawih di bulan suci Ramadan berlangsung dengan baik. Malah kian meningkat, dimana kegiatan malam Al-Qodar di sejumlah mesjid tetap ramai diadakan lebih-lebih pada malam ganjil pertiga terakhir bulan suci Ramadan.

Ramadan berasal dari kata ramhado artinya melebur karena dengan berpuasa Ramadan kita umat islam melebur dosa-dosa. dengan demikian kita kembali mendapat kesucian itulah dia fitrah.

Mengakhiri puasa Ramadan kepada kita diwajibkan mengeluarkan atau membayar zakat fitrah, bisa dengan beras dan boleh dengan harganya berupa uang.

Zakat fitrah ini diserahkan kepada fakir miskin, meskipun ada delapan golongan yang berhak menerima zakat fitrah, sehingga pada hari raya semua fakir miskin bisa tersenyum dan bergembira, pada hari raya diharapkan tidak ada orang pengemis meminta-minta. Inilah yang diharapkan.

Tetapi pada kenyataannya bila hari raya tiba, masih banyak pengemis meminta-minta, hal ini terjadi bisa jadi karena pembagian zakat fitrah kurang merata, dan bisa jadi pula karena fakir miskin itu rakus.

Seharusnya dengan zakat nominal umat Islam yang miskin bisa berkurang. Seseorang penerima zakat seharusnya berusaha tidak menjadikan dirinya hanya sebagai penerima zakat pada setiap tahunnya.

Tetapi seharusnya dia berusaha agar tidak lagi menjadi penerima tetapi menjadi muzaki atau orang yang berzakat. Di sinilah bagaimana Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS ) berupaya membagi zakat dengan proposional tidak dibagikan hanya untuk konsumtif tetapi dibagikan, diatur sehingga menjadi produktif seperti menjadi modal usaha fakir miskin berdagang, sehingga mereka tidak lagi menjadi seorang penerima zakat tetapi diharapkan menjadi seorang yang muzaki (mengeluarkan zakat).

Pada hakikatnya, zakat itu adalah daki harta orang kaya, oleh karenanya janganlah sepanjang hidup hanya memakan daki harta orang kaya tetapi juga menjadi muzaki. Dengan berzakat fitrah kepada kita dididik, minimal sehari dalam setahun menjadi orang dermawan.

Nah, bila nantinya hilal shawal telah terbit, itulah 1 Shawal mengakhiri bulan Ramadan dan mengawali hari raya Idulfitri 1 Shawal.

Kepada kita diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah dan waktunya sangat sempit, yaitu bila khatib telah naik mimbar pada hari raya Idulfitri untuk berkhotbah maka habislah waktunya untuk megeluarkan zakat fitrah, maka siapa yang mengeluarkan sesudah itu maka jatuh menjadi sedekah biasa saja.

Dalam menyambut Idulfitri kepada kita disunnatkan mengumandangkan takbir "Allahuakbar Walillahilhan", waktunya setelah nantinya hilal shawal terbit.

Dalam hal ini kita menunggu pengumuman Kementerian Agama. Setelah mereka mengadakan sidang isbat atau penetapan hari raya setelah mereka menerima laporan dari berbagai daerah di Indonesia yang melakukan rukyat hilal, penetapan ini ditetapkan karena sebagian besar umat islam memegang pendapat rukyah.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved