Fikrah

Selamat Jalan Ramadan

Ramadan telah berlalu, namun janganlah Alquran ditinggalkan, bacalah setiap hari jika memungkinkan satu juz, sehingga dalam sebulan 1 khatal Alquran.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh KH Husin Naparin Lc MA (Ketua MUI Provinsi Kalsel)

BANJARMASINPOST.CO.ID - RAMADAN telah meninggalkan kita ataukah kita yang meninggalkan Ramadan. Kita boleh berdoa semoga bertemu lagi dengan bulan Ramadan di tahun depan dengan keadaan sehat dan dapat beribadah kepada Allah SWT dengan baik, bersyukur kita menjadi seorang muslim kita diseru oleh Allah SWT, Ya ayyuhal ladzi na amanu kutiba alallaji kumussiyam kama kutiba alal laldzi na minqablikum laallakum tattakum. Artinya wahai umat beriman berpuasalah kamu di bulan ramadan semoga kamu menjadi orang bertakwa. Dari ayat ini dapat kita pahami bahwa tujuan pokok dari ibadah puasa kepada Allah SWT agar kita menjadi orang yang bertakwa, derajat takwa inilah yang akan menentukan posisi kita di hadirat Allah SWT.

Diturunkannya Alquran kepada Nabi Muhammad SAW adalah untuk membimbing manusia ke arah bertuhan Allah dan taat kepada-Nya. Di dalam ayat yang lain Allah berfirman, Ya ayyuhalladzi na amanut takullaha hakkatukatih walatamutunna illa waantum muslimun. Artinya wahai orang yang beriman bertakwalah kepada Allah SWT, dan janganlah meninggal melainkan dalam islam. Dari ayat ini dapat kita pahami bisa jadi ada orang islam yang meninggal dalam keadaan tidak islam. Inilah peringatan Allah SWT yang pada waktu ayat ini turun banyak para sahabat Nabi SAW yang menangis karena takut kalau-kalau tidak bisa menjadikan diri sebagai orang islam yang benar-benar keislamannya. Kemudian beberapa waktu kemudian turunlah ayat yang meringankannya berbunyi, Fattakullaha masytata'tum. Artinya bertakwalah kalian semampu mungkin (Qs at taqabun). Berulah umat islam merasa lega mendapat keringanan ini.

Demikian lah, Alquran ini turun sewaktu usia Nabi Muhammad SAW mencapai kematangan akal dan fikiran di usia beliau 40 tahun. Memang sejak usia 35 tahun beliau menyendiri atau bertahannus di gua Hira di Jabal Nur. Beliau membawa perbekalan kadang-kadang bisa seminggu atau bisa 40 hari, dengan biaya istri beliau yang kaya Siti Khadijah.

Pintu gua Hira itu menghadap Kota Mekkah. Siang dan malam Rasulullah SAW sebelum diangkat menjadi Rasul telah bertahannus atau menyendiri di gua Hira itu, beliau memandangi Kota Mekkah di malam hari dengan sinaran bulan dan bintang, di siang hari beliau memandangi Kota Mekkah dengan sinaran matahari yang terik.

Sampai pada suatu malam datanglah seseorang yaitu Malaikat Jibril yang berbentuk manusia datang memeluk Nabi Muhammad SAW dan berkata Iqra artinya bacalah. Nabi Muhammad SAW menjawab, Ma anna bikariin (aku tidak pandai membaca), jibril yang berbentuk manusia tadi memeluk lagi dan berkata, iqra bimirabbik allajdzi khalak khalakal ingsana min allaq, iqra warobbokal aqram, alladzi allamal insana bil qalam, allamal insana ma lam ya'lam.

Kalimat-kalimat ini langsung terhunjang ke dalam otak dan benak Nabi Muhammad SAW, dan inilah wahyu pertama yang turun dan sesudah itu selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, ayat yang terakhir turun, adalah ayat yang berbunyi Alyauma akmaltu lakum dinakum waadmantu alaikum ni'mati waradhitu lakumul islama dina. (Hari ini aku sempurnakan agamamu dan aku ridha islam sebagai agama mu). Ayat ini turun pada waktu Nabi SAW mengerjakan haji di Arafah. Haji ini dikatakan sebagai haji wada, karena tahun depannya Nabi tidak bisa lagi berhaji karena diwafatkan oleh Allah SWT pada bulan Rabiul Awal, umur Nabi mencapai 63 tahun.

Dengan kepergian bulan ramadhan dari kita atau kita kah yang meninggalkan bulan Ramadhan, kita tidak tahu apakah tahun depan kita bisa bertemu lagi dengan bulan ramadhan yang akan datang, sehingga kita perlu menangis, mengenang dan merenungi apakah ibadah puasa yang kita kerjakan tahun ini sudah sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah SWT kepada kita.

Karena ibadah puasa itu bisa batal dengan makan dan minum dengan sengaja, dan bisa batal atau hilang pahalanya dengan menggunjing dan berkata kata yang tidak senonoh. Namun demikian kita merasa lega dengan firman Allah di dalam akhir surah at taqabun yang berbunyi Fattakullaha masyta'tum bertakwalah kepada Allah semampu kamu atau semaksimal mungkin.

Maksudnya harus ada usaha kita untuk mencapai derajat takwa ini, derajat takwa inilah yang menentukan posisi kita di sisi Allah SWT "Akrabokum indallahi attakum" Artinya "Posisi kamu yang paling dekat dengan Allah adalah orang yang paling takwa di sisi Allah SWT".

Berdoa lah kita di akhir setiap sholat kita karena akrabukum indallaji wahuwa sajid, artinya "Posisi kamu yang paling dekat dengan Allah ialah ketika kamu sedang sujud", demikian hadis yang disabdakan oleh Nabi SAW. Kita berdo'a Allahumma ij'al al qur'an na fil hayati karina wa fil qobri munisa wafilkiamati syafi a. waminal jannati nura, waminan nari sitran wahijaba, artinya "Ya Allah jadikan lah Alquran itu sebagai teman hidup kami dan di dalam kubur sebagai penghiburku dan di hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagiku dan serta sebagai pendinding diriku dari siksa neraka".

Demikian lah ramadhan telah berlalu namun demikian janganlah Alquran ditinggalkan, bacalah setiap hari jika memungkinkan satu juz sehingga dalam sebulan 1 khatal Alquran di samping membaca surah surah popoler yaitu yasin sebagai penghapus dosa, al waqiah sebagai pengusir kefakiran dan al mulk atau tabarak sebagai penangaman di dalam kubur. Semoga kita bisa bertemu lagi di bulan ramadhan yang akan datang. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved