BTalk Mom & Kids

BTalk - Ajarkan Pentingnya Toleransi Sejak Dini, Ini Saran Psikolog Kalsel Sukma Noor Akbar

Menurut psikolog Kalsel, Sukma Noor Akbar, pembelajaran mengenai toleransi bisa dilakukan orangtua pada anak usia 6-7 tahun dengan memberi contoh.

Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/SALMAH SAURIN
Koordinator Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (Prodi Psikologi FK ULM) yang juga Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Kalimantan Selatan (Himpsi Kalsel), Sukma Noor Akbar, MPsi, jadi narasumber di acara BTalk dalam program Mom & Kids mengenai Ajarkan Pentingnya Toleransi Sejak Dini yang dipandu jurnalis Banjarmasin Post Group, Tania Anggrainy, Sabtu (21/5/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sebagai mahluk sosial, tak bisa dipungkiri manusia harus berinteraksi dengan sesama.

Membina silaturahmi, tentunya menjadi hal penting sehingga bisa hidup berkelanjutan dengan banyak orang.

Perbedaan pastinya selalu ditemui dalam berteman dan berinteraksi. Lalu bagaimana menanamkan dan memupuk sikap toleransi pada anak? Bagaimana pula mengajarkan anak peduli pada orang lain?

Tema mengenai Ajarkan Pentingnya Toleransi Sejak Dini dibahas dalam perbincangan Mom & Kids di kanal Youtube Banjarmasin News Video, Instagram Banjarmasin Post dan Facebook BPost Online, Sabtu (21/5/2022). 

Acara ini menghadirkan Sukma Noor Akbar, MPsi, Koordinator Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (Prodi Psikologi FK ULM) yang juga Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Kalimantan Selatan (Himpsi Kalsel).

Baca juga: Banjir Rob di Banjarmasin, Pengamat Tata Kota Sarankan Pembangunan Berkonsep Water Front City

Baca juga: 10 SMA Terbaik di Kalsel Versi LTMPT, SMAN Banua Masuk Peringkat 22 dari 1.000 Sekolah di Indonesia

Dipandu jurnalis Banjarmasin Post Group, Tania Anggrainy, narasumber menjelaskan bahwa toleransi harus dikenalkan pada anak sejak usia dini, dimulai usia lima tahun. Diawali dengan memberikan contoh-contoh dalam keseharian.

Setelah anak usia 6-7 tahun, pembelajaran mengenai toleransi itu bisa dilakukan secara verbal atau secara penjelasan lisan.

"Apa itu toleransi? Toleransi adalah keterbukaan dalam menghargai perbedaan, baik perbedaan suku, agama, ras dan lainnya," jelas Akbar.

Termasuk pula toleransi gender, antara laki-laki dan perempuan. Toleransi dalam hal intelektual, fisik atau postur badan.

"Bagaimana kita bisa menghargai perbedaan itu? Pendidikan keluarga yang utama," terang Akbar.

Baca juga: Sejumlah Ruang Perawatan di Gedung IGD RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin Retak

Baca juga: Prakiraan Cuaca BMKG Minggu 22 Mei 2022, Jabar, Jateng dan Kalsel Diguyur Hujan Lebat

Didikan keluarga di rumah baik oleh ayah dan ibu, nenek-kakek, paman, saudara akan berdampak pada sikap anak untuk toleransi atau intoleransi (tidak toleransi) terhadap sekitarnya.

"Jika keluarga memberi contoh atau pembelajaran yang salah atau intoleransi, maka anak akan melakukan perundungan atau bullying terhadap orang lain yang berbeda dengannya," papar Akbar.

Ada beberapa kasus yang secara tidak sadar orangtua membandingkan anak-anaknya, apakah soal warna kulit, postur badan, bahkan intelektual.

Membandingkan anak yang satu dengan yang lain soal intelektual mereka, itu juga termasuk contoh intoleransi. Anak akan diajarkan membandingkan tapi dalam frame negatif.

Sangat jelas bahwa orangtua sebagai role model. Makanya jika di unit terkecil atau keluarga ada contoh dan pembelajaran yang baik dari orangtua dan anggota keluarga lainnya, maka anak akan bersikap toleransi pada orang lain.

Baca juga: Dokter Hewan Pastikan Sapi di RPH Basirih Banjarmasin Bebas PMK

Baca juga: VIDEO Wisata Kalsel - Taman Edukasi Desa Harus Tabalong Baru Dibuka untuk Umum

"Jadi tidak bisa sepenuhnya pembelajaran toleransi ini diserahkan pada sekolah. Harus mulai dari rumah dulu," ingat Akbar.

Orangtua harus menjelaskan bahwa kita hidup dalam lingkungan yang banyak perbedaan dan semua itu adalah kuasa Tuhan.

"Belajar berempati, belajar menghormati dan menghargai, bahwa tidak hanya tentang diri kita saja yang utama, tapi juga ada orang lain yang berbeda dan sama-sama ciptaan Tuhan," pungkas Akbar.

(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved