Jendela

Azan Cendekiawan

Roda hidup terus berputar. Satu persatu, mereka pergi. Generasi baru pun datang. Generasi digital dan media sosial.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEPERTI banyak orang, saya turut terkejut dan merasa kehilangan berat, segera setelah mendengar kabar Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Maarif wafat pada Jumat, 27 Mei 2022. Pulang dari kampus, sore itu saya segera mencari buku yang ditulis Fachry Ali dan Bahtiar Effendy berjudul Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru. Buku ini saya beli pada 1992, tetapi sudah saya baca kira-kira pada 1991 dengan meminjam koleksi Perpustakaan IAIN Antasari. Buku ini pertama kali terbit pada 1986, dan mengalami beberapa kali cetak ulang.

Setelah menelusuri buku dalam lemari, saya akhirnya menemukan buku berwarna hitam dengan tulisan judul berwarna kuning itu. Yang mau saya lihat bukan isinya, tetapi tulisan di sampul belakang, yang menyebutkan nama-nama cendekiawan yang dianalisis dalam buku itu. Ternyata dari 10 nama, hanya dua orang yang masih hidup. Yang telah meninggal dunia secara berurutan adalah Nurcholish Madjid (w.2005), Kuntowijoyo (w.2005), Abdurrahman Wahid (w.2009), Adi Sasono (w. 2016), Djohan Effendi (w.2017), M. Dawam Rahardjo (w.2018), Jalaluddin Rakhmat (w.2021) dan Ahmad Syafi’i Maarif (w. 2022). Dua yang masih hidup adalah M. Amien Rais dan A.M. Saifuddin. Patut pula dicatat, salah satu penulis buku ini, Bahtiar Effendy, juga telah wafat pada 2019.

Sebagai mahasiswa di awal 1990-an, buku yang memperkenalkan pemikiran keislaman tokoh-tokoh tersebut cukup berkesan bagi saya. Jika dilihat konteks politiknya, pada masa itu saluran politik Islam dihambat dan dikendalikan rezim Orde Baru sehingga para aktivis organisasi Islam, termasuk para mahasiswa, akhirnya terdorong untuk menggarap pembaruan pemikiran Islam sebagai fondasi kultural menuju perubahan struktural yang diharapkan. Karena itu, kelompok kajian dan diskusi mahasiswa ramai di mana-mana. Berbagai pemikiran baru dan kritis disambut dengan antusias dan rasa ingin tahu yang menyala-nyala. Buku-buku tentang pemikiran Islam, baik yang ditulis oleh cendekiawan Indonesia ataupun luar negeri banyak diterbitkan dan laku keras.

Pada saat itu, saya adalah satu di antara banyak anak muda yang tertarik pada wacana pemikiran Islam. Ketika saya mendapatkan beasiswa Supersemar, saya gunakan uangnya untuk membeli buku dan berlangganan jurnal pemikiran Islam, Ulumul Qur’an. Saya juga sering membaca majalah Panji Masyarakat yang sering mengangkat wacana pemikiran Islam. Kadangkala, saya membeli jurnal Prisma, terutama edisi yang mengangkat pembaruan Islam di Indonesia. Selain itu, semakin banyak orang yang lulus dari Program Pascasarjana IAIN Jakarta dan Yogyakarta, dan ada pula yang kembali dari studi di luar negeri, terutama dari Kanada, Amerika, Belanda, Inggris dan Australia. Di sisi lain, kajian-kajian Islam di kampus umum seperti UI, UGM dan ITB, juga berkembang pesat.

Di antara masalah yang didiskusikan pada masa itu adalah hubungan tradisi Islam dan modernitas. Apakah nilai-nilai modern, termasuk sains dan teknologi, selaras dengan Islam? Bagaimana sikap kita terhadap tradisi pemikiran Islam klasik? Apakah kita perlu menggunakan metode modern untuk mengkaji tradisi itu? Bagaimana pula hubungan agama dan negara? Apa yang bisa kita pelajari dari Revolusi Islam Iran? Bagaimana hubungan Islam dan Pancasila, demokrasi dan HAM? Bagaimana sikap Islam terhadap kesetaraan jender? Fakta bahwa kapitalisme makin berjaya, bagaimana jalan alternatif yang ditawarkan Islam untuk keadilan sosial? Apa yang dimaksud kiri Islam atau teologi pembebasan dalam Islam? Bagaimana sikap Islam terhadap pluralisme agama? Dan seterusnya.

Demikianlah, pemikiran Islam menjadi hidup, karena bergumul dengan masalah-masalah aktual. Pada masa itu, istilah ‘cendekiawan’ mulai dikenal, yang dimaknai sebagai seorang yang tidak hanya memiliki gagasan untuk pembaruan masyarakat, tetapi juga memperjuangkan gagasan itu agar menjadi kenyataan. Cendekiawan adalah pemikir sekaligus aktivis. Tokoh-tokoh yang dibahas dalam buku Merambah Jalan Baru Islam itu adalah sebagian dari mereka. Citra ideal seorang cendekiawan adalah terbuka, mencintai kebenaran, dan asketis, tak tergoda harta dan takhta sehingga dapat memberikan saran dan kritik kepada siapapun dengan penuh wibawa. Mereka adalah idola para aktivis mahasiswa. Mereka juga sering diminta media untuk menanggapi isu-isu terkini.

Pada Mei 1998, Orde Baru jatuh dan tibalah masa Reformasi. Di antara 10 orang itu, ada yang sempat menjadi Presiden (Abdurrahman Wahid), Ketua MPR (M. Amien Rais), dan Menteri (Adi Sasono dan A.M. Saifuddin). Namun ada pula yang tetap bergerak di jalur kultural seperti Nurcholish Madjid, M.Dawam Rahardjo, Jalaluddin Rakhmat dan Ahmad Syafi’i Maarif. Mereka telah berperan sebagai cendekiawan dengan caranya masing-masing. Menurut Aswab Mahasin di Prisma tahun 1984, “Seperti bait-bait azan dari menara, mereka justru datang untuk memulai.” Sekarang, apa yang mereka mulai itu telah dilanjutkan oleh generasi muda yang mengidolakan mereka.

Roda hidup terus berputar. Satu persatu, mereka pergi. Generasi baru pun datang. Generasi digital dan media sosial. Idola mereka juga berbeda. Ahmad Syafi’i Maarif diberkahi usia panjang, sehingga bertemu dengan generasi baru ini. Seperti dikutip Kompas, 28 Mei 2022, dia menilai “Abad medsos adalah abad yang sarat dengan kegaduhan dan hura-hura, di samping banyak pula sisi positifnya jika digunakan oleh manusia beradab dan lapang dada.” Katanya lagi, “Yang muda-muda harus mengerti betul persoalan bangsa berbasis data. Banyak membaca dan ikut terlibat membenahi negeri.” (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved