Jendela

Mengubah Diri dan Dunia

Buat apa kita sibuk menggosip keburukan orang lain, padahal diri kita sendiri penuh dengan keburukan.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seseorang yang berusaha keras mewujudkan perubahan dan perbaikan di masyarakat tetapi dihadang oleh banyak kendala, boleh jadi akan jatuh ke jurang putus asa. Mungkin dia semula terinsipirasi oleh Karl Marx yang berkata, “Para filosof hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara. Padahal masalahnya adalah, bagaimana mengubahnya.” Untuk mendinginkan hatinya, dia mungkin perlu merenungkan pernyataan Jalaluddin Rumi “Dulu saya pintar, karena itu saya ingin mengubah dunia. Sekarang saya bijaksana, karena itu saya ingin mengubah diri sendiri.”

Pernyataan Rumi di atas antara lain menunjukkan bahwa tugas utama kita dalam hidup ini adalah memperbaiki diri sendiri. Buat apa kita sibuk menggosip keburukan orang lain, padahal diri kita sendiri penuh dengan keburukan. Mungkin, dengan menguak aib orang lain, kita merasa dapat menutupi aib kita. Padahal, ini ilusi belaka. Seharusnya, orang lain adalah cermin bagi diri kita. Ketika melihat keburukan di cermin itu, kita segera mencermati diri kita, apakah keburukan itu juga ada pada diri kita? Selain itu, bahaya perilaku suka mencari-cari aib orang lain adalah, diri kita selalu merasa baik dan benar. Akibatnya, kita marah besar jika ada orang lain yang mengkritik kita.

Dari diri sendiri, kita beranjak kepada keluarga. “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari neraka” (QS 66:6). Ini suatu anjuran logis karena umumnya mengajak orang-orang terdekat lebih mudah daripada orang lain. Masyarakat juga akan lebih percaya pada kita jika keluarga kita terlebih dahulu menjadi contoh. Menurut Nurcholish Madjid, setiap calon presiden Amerika Serikat dituntut untuk tampil sebagai pasangan dan keluarga yang harmonis. Jika seorang calon presiden diketahui pernah mengkhianati pasangannya, maka dia akan jatuh di mata publik. Alasannya adalah, jika terhadap orang terdekat saja dia tega berkhianat, apalagi terhadap rakyat!

Namun, kenyataan hidup tidak selalu berjalan lurus-mulus seperti di atas: dimulai dari diri sendiri, keluarga hingga masyarakat. Sebagai individu, kita tidak hanya dipengaruhi tetapi juga memengaruhi masyarakat. Apa yang kita dapatkan dalam interaksi sosial, kita serap dan kita olah dalam pikiran dan perasaan kita. Kita bukan bejana tanpa nyawa yang bisa menampung apa saja yang masuk tanpa mengolahnya. Kita adalah agen, subjek yang menerima, mengolah dan memutuskan untuk diri sendiri. Singkat kalimat, kita adalah diri yang memiliki kebebasan memilih, terutama kebebasan moral, memilih antara yang baik dan buruk, yang benar dan salah, yang dosa dan pahala.

Karena itu, suatu ajakan perubahan kadangkala justru ditolak oleh orang-orang terdekat. Nabi Nuh AS mengajak kaumnya untuk beriman dan meminta ampun kepada Allah, tetapi anaknya sendiri malah melawannya. Sebagian orang yang memusuhi Nabi Muhammad SAW adalah keluarganya sendiri seperti Abu Jahal dan Abu Lahab. “Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya” (QS 28:56). Kaum Muktazilah menafsirkan akhir ayat ini secara berbeda, yakni Allah memberi petunjuk kepada orang yang menghendaki petunjuk itu. Namun, dua penafsiran ini tetap menunjukkan, ajakan yang kita sampaikan bukan satu-satunya penyebab seseorang itu berubah.

Sebenarnya kalau dipikirkan lebih dalam, perubahan yang kita perjuangkan tidak akan terwujud tanpa kesesuaian antara harapan yang dituju dengan tali-temali sebab akibat yang membawa ke tujuan itu. Tugas manusia adalah melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan tali- temali sebab akibat dalam hukum alam dan sosial. Hukum alam dan sosial, keduanya adalah ciptaan Allah. Kita tak bisa melawannya. Kita harus mengikutinya. Karena diri kita terbatas, kita juga tak dapat mengendalikan semua tali-temali sebab akibat di dalamnya. Kita hanya dapat mengusahakan secara maksimal sesuai kemampuan kita, dan selebihnya tetap berada di luar kendali kita.

Kesadaran akan perlunya usaha sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan yang kita miliki di satu sisi, dan keterbatasan diri kita di hadapan hukum alam dan sosial yang diciptakan Tuhan, apalagi di hadapan Tuhan secara mutlak, merupakan fondasi bagi sikap rendah hati dan penuh syukur. Ketika berhasil, kita tak layak menepuk dada sebagai pahlawan penuh jasa, dan ketika gagal kita tidak boleh berputus asa. Yang terpenting adalah, kita wajib berjuang dan berusaha. Patut disebut di sini bahwa ayat yang seringkali dikutip, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu mengubah keadaan diri mereka sendiri” ada sambungannya, yakni “dan jika Allah menghendaki keburukan atas suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya” (QS 13:11).

Alhasil, ungkapan bahwa usaha lebih penting daripada hasil, atau proses lebih utama daripada capaian, selayaknya dihayati berdasarkan kesadaran akan kebebasan dan keterbatasan manusia itu. (*)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved