Jendela

Antara Nabi dan Wartawan

Bagaimana kemiripan nabi dan wartawan? Di sini sangat berguna merenungkan sifat-sifat wajib yang dimiliki seorang utusan Tuhan.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - NABI dan media itu mirip, meski tidak sama. Keduanya mirip karena sama-sama sebagai perantara, penyampai pesan. Kata 'media' seakar dengan 'medium' yang artinya perantara, dan 'medio' yang artinya di tengah. Media adalah sarana perantara, yang berada di tengah antara pihak-pihak yang terhubung. Begitu pula, kata nabî seakar dengan kata naba’, artinya kabar. Nabî adalah orang yang menerima kabar atau pesan dari Tuhan. Jika dia ditugaskan menyampaikan pesan itu kepada masyarakat, maka dia disebut rasûl, yakni utusan Tuhan.

Namun, analogi nabi dan media di atas barangkali kurang pas, sebab yang pertama adalah seorang pribadi manusia, sedangkan yang kedua bukan. Karena itu, mungkin pula dikatakan, nabi itu mirip jurnalis alias wartawan karena keduanya adalah sama-sama seorang pribadi manusia yang berperan sebagai perantara, penyampai pesan atau kabar. Dalam menyampaikan pesan itu, baik nabi atau wartawan, keduanya menggunakan sarana atau alat berupa media. Bagi seorang nabi, media itu adalah bahasa manusia, lisan ataupun tulisan. Bagi wartawan modern, sarana itu adalah media cetak atau elektronik, yang dapat menyampaikan pesan berupa suara, tulisan, gambar dan video.

Kemiripan antara nabi dan media, atau nabi dan wartawan di atas menarik untuk direnungkan. Jika dianalogikan dengan media, nabi sesungguhnya hanyalah wadah, penampung pesan sebagaimana adanya. Ia adalah bejana yang bersih, atau tabula rasa kosong, yang dapat menerima pesan persis sebagaimana dikatakan dan dimaksudkan oleh sumber pesan. Dengan ungkapan lain, pesan berupa wahyu yang diterima nabi adalah asli murni sebagaimana difirmankan Tuhan, kata per kata, verbatim. Inilah sebabnya, dalam Islam ada kepercayaan bahwa Nabi Muhammad itu ummî yang diartikan oleh sebagian ulama dengan orang yang buta huruf, sehingga keaslian Alqur’an itu terjaga.

Media modern sebagai sarana komunikasi publik seharusnya juga demikian. Media menyampaikan fakta sebagaimana adanya. Apa yang dikatakan sumber, jangan ditambah atau dikurang. Fakta dan opini harus dibedakan. Tidak boleh ada upaya penggiringan opini. Tidak boleh berat sebelah, harus berimbang. Singkat kalimat, pesan atau informasi yang disampaikan media wajib akurat, yakni menyampaikan kenyataan sebagaimana adanya. Dengan demikian, media benar-benar berfungsi sebagai perantara atau penengah di antara manusia yang terhubung olehnya. Media tidak memihak apapun kecuali pada yang benar, yakni pada kenyataan sebagai kenyataan itu sendiri.

Namun, dalam hidup keseharian, lebih-lebih di masa tsunami informasi ini, media banyak yang sudah tidak mengikuti etika jurnalistik tersebut. Apalagi medianya memang sejak semula diniatkan untuk membela kepentingan pihak tertentu, dijadikan alat kampanye politik atau sarana memeras orang lain. Keadaan menjadi semakin buruk di zaman digital ini karena masing-masing media beradu cepat dan viral. Karena adu cepat, maka kedalaman seringkali diabaikan. Kompleksitas kejadian, tali-temali peristiwa, akan dengan sendirinya luput dari perhatian. Karena adu viral, tak jarang judul bahkan isi berita pun dilebih-lebihkan. Inilah jurnalisme instan.

Lebih seru lagi, sekarang setiap orang bisa menjadi ‘wartawan’. Dengan adanya media sosial, setiap orang tidak hanya menjadi konsumen tetapi juga produsen berita. Media sosial menjadi hutan belantara yang mengandung segala macam jenis makhluk di dalamnya. Berita palsu menyebar dan bertebaran. Ujaran kebencian seringkali muncul, lebih-lebih saat terjadi pertarungan politik. Orang terbenam dalam post-truth, yakni sesuatu dianggap benar semata-mata karena sesuai dengan selera subjektifnya belaka. Akibatnya, kita semakin dituntut untuk berhati-hati, memilih dan memilah, mana berita yang benar dan mana yang palsu, mana yang bermanfaat dan mana yang mudarat.

Dalam suasana serba tak menentu terkait pesan, berita dan informasi ini, kita perlu mengaca kepada karakteristik pesan yang baik sebagaimana disebutkan Alqur’an. Alqur’an menyebutkan beberapa istilah seperti (1) qawlan sadîda, ungkapan yang lurus, yang benar, tidak bohong; (2) qawlan balîghâ, ungkapan yang bernas, yang berbobot, efektif mencapai sasaran; (3) qawlan karîmâ, ungkapan yang mulia, yakni memuliakan makhluk Allah; (4) qawlan layyinan, ungkapan yang lembut, yang tidak menyakiti atau menyinggung perasaan. Alqur’an juga mengajarkan, jika ada berita yang meragukan, maka kita harus melakukan klarifikasi (tabayyun) terlebih dahulu sebelum menerimanya (QS 49:6).

Jika pesan harus akurat, tepat sasaran dan bermanfaat, maka tampaklah kemiripan antara media dan pesan yang disampaikan utusan Tuhan. Lalu, bagaimana kemiripan nabi dan wartawan? Di sini sangat berguna merenungkan sifat-sifat wajib yang dimiliki seorang utusan Tuhan. Pertama, shidq artinya jujur, berintegritas. Kedua, amânah, artinya dapat dipercaya, bukan pengkhianat. Ketiga, tablîlgh, artinya menyampaikan pesan sebagaimana adanya. Keempat, fathânah, artinya cerdas, tidak dungu. Empat sifat rasul ini memang istimewa, tetapi kita sebagai umatnya, lebih-lebih yang berperan sebagai penyampai pesan seperti wartawan, wajib berusaha mendekatinya.

Alhasil, kedekatan analogis antara nabi dan jurnalis, atau antara media dan nabi sebagai medium penerima wahyu, patut menjadi petunjuk guna menghadapi terpaan badai tsunami informasi yang dahsyat itu.

Selamat Ultah Banjarmasin Post ke-52 (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved