Opini

Etos Pengabdian Guru Honorer

Pengabdian guru honorer penuh dialektika dan romantika. Meski begitu, biarpun gaji rendah, mereka tetap mengabdi karena panggilan jiwa

Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/istimewa
Dr Syaiful Bahri Djamarah MAg, Dosen PAI, PLPG dan PPG Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin. 

Oleh: Dr Syaiful Bahri Djamarah MAg
Dosen PAI, PLPG dan PPG Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin.

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pengabdian guru honorer penuh dialektika dan romantika. Lebih banyak dukanya daripada sukanya. Apalagi jika mengabdi di perdesaan yang serba kekurangan dan setumpuk kesulitan mengadang.

Meski begitu, biarpun gaji rendah, mereka tetap mengabdi karena panggilan jiwa. Hanya dengan komitmen yang kuatlah etos pengabdian guru honorer tidak pernah luntur.

Sebagaimana diketahui, guru di Indonesia jutaan jumlahnya. Tersebar di kota dan di desa. Bahkan di daerah terluar.

Kemendikbudristek mencatat, jumlah guru layak mengajar di Indonesia sebanyak 2,91 juta orang tahun 2020/2021. Dari jumlah tersebut, guru di kota jauh lebih banyak dibandingkan guru di desa.

Menurut Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Irman Gusman, hampir 80 persen jumlah guru tersebar di kota, sisanya 20% di desa.

Dari guru yang berjumlah 2,91 juta orang tersebut diakui ada yang menjadi guru karena orientasi kerja dan ada pula karena panggilan jiwa.

Di antara segelintir guru yang berorientasi kerja karena finansial, masih banyak guru yang mengabdi di desa karena panggilan hati nurani.

Mereka mengabdi tanpa pamrih meskipun dengan gaji rendah, terutama guru honorer, dan siap menghadapi berbagai kesulitan.

Mereka inilah para pejuang pendidikan. Siap, ikhlas mengabdi demi anak didik. Keberhasilan mencerdaskan anak didik adalah kepuasan batin tiada tara.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved