Fikrah

Bersyukur Jadi Umat Muhammad

Sebagai seorang muslim yang pertama sekali harus dikerjakan setelah mengucapkan syahadat ialah mengerjakan salat fardhu lima waktu.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - KITA sangat bersyukur kepada Allah SWT, karena kita telah mendapat petunjuk Islam sehingga disebut seorang muslim. Dua kalimat syahadat yang kita ucapkan itu adalah pintu keselamatan bagi kita. Rasul mengirim surat kepada Raja Heraklius dan dikatakan di dalam surat itu, “Aslim, taslam.” Artinya peluklah Islam kamu akan selamat.

Sebagai seorang muslim yang pertama sekali harus dikerjakan setelah mengucapkan syahadat ialah mengerjakan salat fardhu lima waktu. Salat fardhu ini dilengkapi dengan salat-salat sunnah, ada qabliyah (sebelum) dan ada ba’diyah (sesudah). Karena nantinya yang permulaan diperiksa dan diperhitungkan adalah salat fardhu lima waktu.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Awwalu mayusahabu bihil abdu yaumal qiyamati assalatu Fainsaluha sairul amalih, fain fasadat fasada sairu amalih.” Artinya yang pertama sekali diperiksa di hadapan Allah adalah salat. Bila salat seseorang baik dan benar, maka seluruh amalannya menjadi baik. Apabila salat rusak maka rusaklah seluruh amalannya. Oleh karena itu jika salat kita diperiksa, terdapat yang kurang sempurna, maka Allah SWT menyuruh malaikat memeriksa amalan kita adakah kita melaksanakan salat sunnah. Bila ada maka salat kita yang kurang sempurna itu tadi ditambal dengan salat sunnah, bila tidak ada maka bolonglah salat kita. Karenanya bila salat fardhu itu ada 17 rakaat, maka seyogiyanya salat sunnat kita 17 rakaat pula, jadi salat qabliyah dan ba’diyah ditutup dengan salat witir.

Kedua yang harus kita pelihara dalam keseharian kita sebagai seorang muslim, seyogiyanya kita ada membaca Al-Quran dalam keseharian kita, yang ideal adalah 1 juz dalam sehari, sehingga dalam satu bulan kita khatam Alquran.

Di samping itu kita membaca surah-surah populer yaitu Yasin sebagai penembus dosa, surah Al Waqiah sebagai pemudah mencari rezeki dan Tabarak atau Al Mulk sebagai pengaman di dalam kubur. Kemudian kita sehari-hari seyogiyanya banyak ber-istighfar atau memohon ampun kepada Allah. Ada istighfar rajab yang terdapat di dalam kumpulan buku do’a maj’mu syarif. Istighfar rajab ini baik dibaca sekali dalam sehari karena disitu terdapat ungkapan lengkap dalam memohon ampun kepada Allah, kemudian kita dianjurkan pula membaca syaidul istighfar, dibaca di awal siang sesudah salat Subuh dan di awal malam sesudah salat Maghrib.

Saidul istighfar berbunyi, allohumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. a’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi, faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta.” Artinya: Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.

Ketiga dalam keseharian kita hendaklah banyak bershalawat: Keempat bersedakah, dalam setiap hari seyogiyanya seorang muslim hendaklah bersedekah, pagi-pagi dia sudah bersedekah sehingga malaikat berdiri di upuk timur di waktu pagi itu mendoakan orang-orang yang bersedekah. “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).

Beristighfar waktunya yang terbaik adalah di waktu sahur menjelang subuh. Orang-orang ahli surga itu dahulunya ketika mereka masih hidup, sedikit sekali tidur di waktu malam dan mereka beristighfar di waktu sahur menjelang subuh. Sementara itu diriwayatkan, Rasulullah SAW memanggil Aisyah dan Fatimah kata beliau, “Wahai Aisyah dan Fatimah jangan kamu tidur kecuali setelah membaca Alquran sampai khatam, naik haji dan umrah. Lalu Aisyah dan Fatimah bertanya, “Bagaimana wahai Rasul, kami bisa melakukan amalan-amalan itu dalam waktu yang sangat sempit. Rasul menjawab, “Baca olehmu surah al Ikhlas tiga kali bererti engkau telah menamatkan Alquran, kemudian yakinkan kamu akan mendapat syafaat dariku dan para nabi, lalu ucapkan shalawat Allahumma salli ala sayyidina muhmmadin waala jami’il ambiya wal mursalin, kemudian engkau naik haji dengan membaca tasbih tujuh kali yaitu subhanaullah (Tabih), walhamdulillah(Hamdalah) walaila hailaullah wallahuakbar (Takbir) walahaula kuwwata illa billah (Hauqallah).

Semua ini adalah merupakan tanaman surga yang dipesankan oleh Nabi Ibrahim AS ketika bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dalam mi’raj beliau. Nabi Ibrahim berkata “Ya Muhammad, abliq ummataka minniyassalam wa akhbirhum annal jannata tayyibatutturbah ajbatul ma’ wa arduha assama watu uiddat lilmuttaqin wagirasuha subhaullah walhamdulillah walailahailaullah wallahuakbar walahaula walakuwwata illa billah alali hilajim. Dalam sehari baca oleh mu minimal 100 kali, sehingga area surga yang disediakan oleh Tuhan kepada umat beriman dipenuhi dengan tanaman-tanaman surga itu tadi. Demikian sebagai seorang muslim kita memenuhi waktu-waktu kita dengan tasbih tersebut yang merupakan tanaman surga itu tadi. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved