Jendela

Muhammad Sang Pemimpin

Tugas utama seorang rasul adalah menyampaikan pesan-pesan Tuhan sebagai petunjuk hidup bagi manusia.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - “MALAIKAT itu mendekapku sampai aku sulit bernapas. Kemudian ia melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’ Kujawab, ‘Aku tak dapat membaca.’ Ia mendekapku lagi hingga aku merasa sesak. Ia melepasku dan berkata, ‘Bacalah!’ dan kembali kujawab, ‘Aku tak dapat membaca!’ Lalu, ketiga kalinya, ia mendekapku seperti sebelumnya, kemudian melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah dengan nama Tuhan-Mu yang menciptakan. Dia ciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang mengajari manusia dengan pena. Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya.’ (QS 96:1-5).

Demikianlah cerita saat Muhammad pertama kali menerima wahyu. Kalimat-kalimat indah dan sarat makna itu seperti terpahat di hatinya. Ia sangat ingat. Namun, ia merasa takut dan ragu. Dia bergegas pulang, keluar dari Gua Hira, dan di tengah jalan dia mendengar suara, “Hai Muhammad, engkau adalah Rasulullah dan aku Jibril.” Ke mana pun Muhammad memandang, di cakrawala ada Jibril, sampai akhirnya malaikat itu pergi. Setibanya di rumah, dengan tubuh gemetar Muhammad minta diselimuti isterinya, Khadijah. Muhammad pun beristirahat.

Kemudian, Khadijah menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang dikenal sebagai orang bijak, mengenal kitab suci Yahudi dan Nasrani. “Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, yang mendatangi Muhammad adalah namus yang terbesar, yang dulu mendatangi Musa. Sungguh Muhammad adalah nabi bagi kaumnya,” kata Waraqah. Khadijah pulang ke rumah, dan menyampaikan apa yang didengarnya. Esok harinya, setelah kembali dari Gua Hira, Muhammad juga menemui Waraqah. Waraqah kembali menegaskan apa yang telah dikatakannya, dan menambahkan, “Kaummu akan mendustakanmu, menyakitimu, mengusirmu bahkan memerangimu. Seandainya aku masih hidup saat itu, pastilah aku akan membelamu sekuat tenaga.”

Secara manusiawi, wajar jika Muhammad semula merasa ragu. Kita bisa bayangkan, seorang anak yang sejak lahir sudah yatim, lalu piatu, sebentar dipelihara kakeknya, lalu hidup cukup lama bersama pamannya yang punya banyak anak. Hidupnya sulit dan penuh perjuangan. Kemudian takdir mempertemukan dan menjodohkannya dengan seorang wanita kaya, Khadijah. Mereka hidup bahagia dan tenang. Sudah 15 tahun mereka hidup bersama. Namun, kini tiba-tiba datang tugas berat itu. Resikonya sudah bisa dibayangkan: didustakan, disakiti, diusir bahkan diperangi!

Seorang Rasul adalah seorang pemimpin. Dalam riwayat itu, jelas bahwa Muhammad bukan orang yang ambisius. Dia menjadi pemimpin karena ditunjuk Tuhan. Dia menjadi pemimpin karena panggilan hidup. Orang-orang bijak, kata Fazlur Rahman, memiliki kesadaran moral dan relijius yang lebih tinggi dibanding orang banyak. Muhammad tergolong manusia yang demikian. Karena itu, dia menyepi di Gua Hira, beribadah, merenung dan mendekatkan diri kepada Allah. Ia gelisah saat melihat kerusakan moral masyarakat. Ia ingin mendamaikan hatinya dengan menyendiri. Namun dia tidak bisa egois. Tuhan menugaskannya untuk memperbaiki masyarakat yang bobrok itu.

Tugas utama seorang rasul adalah menyampaikan pesan-pesan Tuhan sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Seorang rasul bukanlah seorang mistikus, yang merasa nyaman dan puas dengan terus-menerus beribadah kepada Allah. Dari Gua Hira, dia turun ke masyarakat. Bahkan, dalam peristiwa Isra dan Mikraj, dari surga dia kembali ke bumi. Pengalaman rohani, yang dialaminya saat berkomunikasi dengan Tuhan dalam kesendirian, bukanlah sebagai tujuan, melainkan penguatan bagi dirinya untuk dapat melaksanakan tugas hidupnya, yakni memperbaiki masyarakat. Muhammad tidak pernah mengajarkan eskapisme, lari dari kenyataan hidup. Sebaliknya, dia mengajak kita menghadapi hidup dan berjuang memperbaikinya.

Keterlibatan Muhammad dalam perjuangan reformasi masyarakat lambat laun membuatnya menjadi pemimpin politik yang disegani. Karena itu, Michael H. Hart menempatkan Muhammad sebagai tokoh pertama dari 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Muhammad, katanya, tidak hanya berhasil menyebarkan agama, tetapi juga sukses sebagai penguasa. Keberhasilan Muhammad tentu tak lepas dari komitmen moral dan spiritualnya serta kesadaran akan tanggungjawab yang diembannya. Dia jelas bukan tipe orang yang memburu jabatan demi hasrat memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya atau mengharap hormat dari masyarakat.

Kita memang bukan nabi dan rasul, tetapi Muhammad adalah teladan kita. Seorang rasul memiliki empat sifat wajib, yaitu shiddîq (jujur), amânah (dapat dipercaya), tablîgh (terbuka) dan fathânah (cerdas). Selain itu, seorang rasul biasanya juga menghadapi perlawanan dan disakiti. Karena itu, setiap pemimpin wajib berusaha meneladani sifat-sifat rasul itu, dan harus siap menghadapi segala macam perlawanan seperti ancaman, fitnah dan caci maki. Beruntunglah kita, jika menemukan pemimpin yang demikian. Celakalah kita jika termasuk orang-orang yang memusuhinya! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved