Jendela
100 Tahun Rakha
Bagi seorang santri sejati, bekerja dan berbuat sesuai tugas yang diemban adalah kewajiban.
Oleh: Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - SUATU hari, saya ditelepon oleh (alm.) K.H. Ahmad Makkie (1938-2016), yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel. Beliau meminta saya untuk menjadi anggota Dewan Pembina Yayasan Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai. “Terima kasih atas penghargaan ini, tetapi saya bukan alumni Rakha,” jawabku. “Betul, tetapi ayahmu adalah alumni Rakha,” katanya. Saya tak dapat menolak. Sejak itulah saya masuk dalam yayasan, meskipun harus saya akui, tidak banyak yang bisa saya berikan.
Ayah saya memang alumni Rakha, dan beliau sangat bersyukur dan bangga dengan statusnya itu. Sebagai seorang anak yatim, yang ditinggal ayahnya pada usia sekitar 7 tahun dengan dua adik bersama ibu yang miskin, pendidikan yang dilaluinya di Rakha itulah yang membuatnya bisa hidup lebih sejahtera. Menurut cerita keluarga, pernah ayah ditemukan pingsan di dekat tong air, dan ternyata dia meminum air itu saat perutnya benar-benar kosong. Pakaiannya pun seadanya. Namun, berkat belajar di Rakha, dia pandai membaca Al-Qur’an dengan fasih dan lantunan suara yang bagus. Dia akhirnya menjadi guru mengaji, yang sedikit dapat membantunya membiayai hidup.
Setelah tamat dari Rakha, ayah kuliah di Fakultas Ushuluddin yang juga di Rakha. Sebagai santri senior, ayah juga mengajar di Rakha. Dia mengajar ilmu tajwid. Saat masih kanak-kanak, kadang saya diajaknya ikut ke Rakha, menemaninya mengajar. Kami naik sepeda. Kaki saya diikat dengan kain agar tidak terjepit kawat-kawat roda sepeda. Saat itu saya menyaksikan betapa ramainya santri, putera dan puteri, yang belajar di Rakha, di ruang-ruang kelas sederhana, yang terbuat dari kayu. Ketika mengajar Al-Qur’an, ayah biasanya melafalkan ayat-ayat terlebih dahulu dengan merdu, baru diikuti oleh murid-muridnya. Saya hanya duduk manis, menyaksikan proses pembelajaran itu.
Di Rakha pula, ayah mengenal organisasi. Suatu hari, ada rombongan drum band, berkumpul di depan rumah kami. Ternyata mereka adalah Gerakan Pemuda Ansor yang berasal dari Pendidikan Guru Agama (PGA), Alabio. Saya menduga, ayah dulu ikut Ansor saat belajar di Rakha, dan kemudian membina mereka ketika mengajar di PGA Alabio. Yang pasti, Rakha pernah dipimpin oleh tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Idham Chalid (1922-2010), sehingga ayah juga bergabung dalam NU. Di masa Orde Baru, orang-orang Rakha umumnya mendukung PPP, karena NU berfusi ke partai ini pada 1973. Demi menghormati para gurunya itu, ayah terpaksa menolak perintah berkampanye untuk Golkar pada Pemilu 1982. Akibatnya, sebagai PNS dia dihukum, dipindah jauh ke Barito Kuala!
Rakha adalah pesantren tua di Kalsel, yang didirikan pada 13 Oktober 1922. Jadi, pada bulan Oktober 2022 ini, genap berusia 100 tahun. Dalam rentang waktu seabad itu, ayah mungkin termasuk generasi ketiga. Generasi keempat dan kelima kini sudah menggantikan. Pesantren ini didirikan oleh H. Abdurrasyid (1884-1934), sepulangnya beliau dari 10 tahun menuntut ilmu di Al-Azhar, Mesir.
Pembelajaran semula dilaksanakan dalam bentuk halaqah, yakni murid duduk di lantai menghadap guru sambil membaca kitab. Orang Banjar menyebutnya ‘mangaji baduduk’. Karena muridnya semakin banyak, dengan dukungan dana dari masyarakat, pada 1928 beliau mendirikan Arabische School (Sekolah Arab) yang ditempatkan di gedung tersendiri lengkap dengan kursi dan meja.
Pada 1931-1942, kepemimpinan Rakha dilanjutkan oleh H. Juhri Sulaiman yang mengganti nama Arabische School menjadi al-Madrasatur Rasyidiyyah. Nama ini merupakan suatu pengakuan dan penghargaan atas pendiri pesantren, yakni H. Abdurrasyid. Kemudian, ketika kepemimpinan Rakha dilanjutoleh Idham Chalid pada 1942, nama pesantren ini diubah lagi menjadi Normal Islam. Dalam istilah Belanda, ‘normaalschool’ berarti sekolah pendidikan guru. Normal Islam berarti pendidikan guru agama Islam. Berkat pengalamannya belajar di Pesantren Gontor, Idham melakukan modernisasi Rakha, antara lain dia mendirikan organisasi kepanduan untuk para santri.
Pada 1963, setelah Idham Chalid lama meninggalkan Amuntai dan sudah menjadi pemimpin nasional di Jakarta, muncul usul agar nama Normal Islam diubah menjadi Rasyidiyah Khalidiyah. Kata ‘Rasyidiyah’ merujuk kepada H. Abdurrasyid, sedangkan kata ‘Khalidiyah’ yang berarti ‘kekal’ merujuk kepada Idham Chalid. Namun, ternyata Idham Chalid menolak. Dia enggan jika kontribusinya untuk Rakha dibesar-besarkan. Akhirnya, setelah negosiasi pihak pengurus dengan Idham, diputuskan bahwa kata ‘Khalidiyah’ merujuk kepada ulama besar yang menjadi guru bagi banyak santri dan pengajar di Amuntai, yaitu Tuan Guru H. Muhammad Khalid, Tangga Ulin.
Demikianlah, akhirnya pesantren itu bernama Rasyidiyah Khalidiyah, yang disingkat Rakha. Kata rakhâ’ dalam bahasa Arab artinya lapang dan bahagia. Sikap Idham yang menolak dirinya dinisbahkan langsung dalam nama pesantren itu mengingatkan kita pada salah satu nilai kesantrian yang penting, yaitu keikhlasan dan kerendahan hati. Bagi seorang santri sejati, bekerja dan berbuat sesuai tugas yang diemban adalah kewajiban. Karena itu, jika ia berhasil mewujudkan kebaikan dalam pekerjaannya, dia tidak pantas mengaku sebagai orang yang berjasa. Bukankah sudah menjadi tugas seorang pemimpin untuk memajukan dan meningkatkan lembaga yang dimpimpinnya?
Dunia terus berubah, dan tantangan kehidupan terus bertambah. Pesantren Rakha bisa bertahan mengarungi gelombang zaman. Para alumninya berkiprah di berbagai bidang. Ada yang menjadi ulama, pengusaha, dosen, birokrat, anggota legislatif hingga kepala daerah. Ada pula alumninya yang kembali ke masyarakat sebagai orang biasa, namun tetap setia kepada nilai-nilai kesantrian. Ia menuntut ilmu bukan untuk tujuan duniawi. Ilmu baginya adalah petunjuk hidup. Mencari nafkah, apapun jenis pekerjaannya, adalah mulia, asalkan halal. Hidup sederhana, suka menolong, ikhlas dan rendah hati, merupakan sifat-sifat kesantrian yang ia pegang teguh.
Selainn Rakha, kini sudah banyak pesantren bertumbuhan, baik di sekitar Amuntai atau di kabupaten tetangga seperti Barabai, Kandangan dan Tabalong. Belum lagi sekolah-sekolah Islam yang makin menjamur. Karena itu, dalam usia seabad ini, sudah selayaknya para pengelola Rakha berpikir ulang tentang masa depan pesantren ini. Dunia kini penuh disrupsi: revolusi digital, bonus demografis, perubahan iklim, Covid-19 hingga formalisme keagamaan. Semua ini adalah sebagian dari kenyataan sosial yang harus dihadapi. Saya percaya, Rakha bisa melakukannya, asal ada kemauan yang tulus dan sungguh-sungguh, sebagaimana dicontohkan oleh para pemimpin Rakha terdahulu.
Andai ayah masih hidup, sebagaimana teman-temannya seperti Arthani Hasbi dan Husin Naparin, dia pasti akan sangat bergairah mendiskusikannya. Selamat Hari Santri! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Prof-DR-H-Mujiburrahman-MA12.jpg)