Fikrah

Amalan Puasa Senin Kamis

Nabi SAW menyunnahkan puasa dua hari dalam seminggu, yaitu hari Senin dan Kamis.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - NABI SAW bersabda, “Summu tasihhu.” Artinya puasalah kamu supaya kamu sehat. Nabi SAW menyunnahkan puasa dua hari dalam seminggu, yaitu hari Senin dan Kamis. Lalu sahabat ada bertanya, “Wahai Rasulullah mengapa kamu menyunnahkah puasa pada hari Senin.” Nabi SAW menjawab, “Jaka yaumun anni ulid tufi.” Artinya hari Senin adalah hari aku dilahirkan.

Dari jawaban Nabi SAW ini dapat kita mengerti bahwa merayakan hari kelahiran adalah dengan beribadah yaitu puasa. Bukan seperti tradisi kita zaman sekarang merayakan hari lahir dengan memotong kue dan bernyanyi berjingkrak-jingkrak. Neno Warisman membuat sebuah lagu tentang kelahiran yaitu kalau umurmu bertambah ucapkan Alhamdulillah niscaya mendapat berkah.

Adapun puasa hari kamis adalah hari diangkatnya catatan amal kehadiran Allah SWT. Rasul bersabda, “Aku ingin hari diangkatnya amalku ini aku dalam keadaan berpuasa.”

Selain pada itu ada juga puasa yang ditradisikan oleh Nabi Daud AS yaitu puasa sehari puasa sehari berbuka. Nabi Daud di waktu berpuasa ia melatih kesabaran dan waktu berbuka ia melatih kesyukuran. Itulah puasa Nabi Daud AS sehari berpuasa sehari berbuka.

Kita juga bersiap-siap untuk menyongsong tibanya bulan Ramadhan, yang kepada kita diwajibkan puasa sebulan penuh. Ketentuan awal dan akhir puasa nantinya dilakukan oleh departemen Kementerian Agama lalu diumumkan kepada kita umat Islam. Karenanya bersiap-siaplah kita menyongsong bulan Ramadhan ini. Allah SWT berfirman, “Ya Ayyuhalladzi na amanu kutiba alaykumussiyam kama kutiba alal ladzi na min mablikum laallakum tattakum.” Artinya wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepada kalian puasa Ramadhan, semoga kamu menjadi orang bertakwa.

Dari ayat ini dapat kita mengerti yang dipanggil untuk berpuasa adalah orang-orang yang beriman, sehingga siapa pun yang merasa dirinya adalah orang beriman, niscaya ia terpanggil hati nuraninya dengan ikhlas timbul untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Tujuan dari pada berpuasa ini yaitu membentuk manusia yang bertakwa. Takwa artinya menaati perintah Allah dan meninggalkan larangannya, yang termaksud dalam rukun islam yaitu mengucap dua kalimat syahadat, mendirikan salat, berpuasa ramadhan, membayar zakat dan naik haji ke Mekkah jika mampu ke sana.

Pelaksanaan rukun islam akan termutipatur dengan memantapkan rukun iman yaitu pendalaman makna dua kalimat syahadat yang diucapkan bahwa seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Kedua mempercayai adanya malaikat-malaikat Allah, ketiga memercayai adanya Nabi dan Rasul, keempat mempercayai adanya kitab-kitab Allah, kelima percaya hari akhir, dan keenam mempercayai adanya takdir (ketentuan baik dan buruk) yang ditentukan oleh Allah SWT.

Dengan kemantapan penghayatan rukun iman ini seseorang beriman akan merasa aman karena memiliki Tuhan yang menciptakan dirinya dan menentukan posisi hidup di dunia ini. Sehingga ia merasa aman dalam hidup ini karena mempunyai Tuhan yang menciptakannya, dan menganugerahkan segala keperluan hidupnya baik berupa makanan, minuman, kesehatan badan untuk beribadah kepada Allah.

Takwa adalah menaati perintah Allah dan menjauhi larangannya. Takwa ini adalah yang menentukan posisi kita di hadapan Tuhan. Allah SWT berfirman, “Inna Aqramakun indaullahi atqaqum.” Artinya orang yang paling dekat dengan Tuhannya adalah orang yang paling takwa terhadap Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita berupaya untuk merajut takwa, karena inilah penentuan posisi kita di hadapan Tuhan. Segala apa yang Allah anugerahkan kepada kita berupa badan atau tubuh jasmani, makanan dan minuman dan segala fasilitas hidup lainnya berupa bumi yang terbentang, lembah dan ngarai yang terlentang, air hujan yang turun untuk kita minum dan bersuci, kesemua itu hendaklah digunakan sebagai sarana dan fasilitas taat kepada Allah, yang nanti kesemuanya akan dipertanggungjawabkan di pengadilan Allah.

Allah dia berfirman, “Summa latusalunna yaumaizin aninnaim (Ujung surah At Takasur). Artinya nanti pada hari itu yaitu hari kiamat di padang masyar kita akan mempertanggungjawabkan segala fasilitas hidup yang kita dapatkan, apakah kita gunakan untuk taat kepada Allah ataukah maksiat kepadanya. Inilah yang harus kita tanamkan dalam otak dan benak kita, apakah kita mampu mempertanggungjawabkannya.

Selalulah kita berdoa, “Rabbana atina fitdunya hasanah wafil akhirati hasanah wakina ajabannar.” Artinya wahai Tuhan kami anugerahkan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkan kami dari siksa neraka. Dan berdoa pula kita taubat nasuha sebelum meninggal dan meninggal dalam husnul khatimah.

Kebaikan di dunia adalah mantapnya iman, pasangan hidup yang menyenangkan dan keturunan yang membahagiakan (kurratuayyun). Kebaikan akhirat adalah meninggal dalam keadaan husnul khatimah dan dapat mempertanggungjawabkan segala nikmat, selamat dari siksa neraka dan masuk surga serta mendengar ucapan Allah SWT Salamun kaulan mirrabbi rrahim. Artinya selamat sejahtera yang diungkapkan oleh Allah Tuhan yang Pengasih Penyayang.

Inilah yang sangat kita dambakan, sehingga perjalanan hidup kita merajut takwa untuk mencapai tujuan itu. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved