Jendela
Kepastian Hidup
Kepastian inilah yang menjadi pegangan kokoh, sebagai alpha dan omega, asal dan tujuan hidup.
Oleh: Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - TUHAN menciptakan banyak hal dalam bentuk berpasang- pasangan. Ada lelaki, ada wanita. Ada langit, ada bumi. Ada siang, ada malam. Ada hidup, ada mati. Karena itu, “jika ada pertemuan, biasanya ada pula acara makan-makan,” tulis Hilman Hariwijaya. Lelucon ini mungkin tepat sebagai pengantar bagi kita untuk merenungkan tahun baru dan tahun lalu.
Pada 2023 ini, kita sudah dapat merayakan tahun baru bersama, berkerumun di ruang publik. Baik di Indonesia atau mancanegara, banyak orang keluar rumah, bahkan dengan membawa anak-anak kecil. Panggung musik dan hiburan disertai kerlap-kerlip cahaya lampu menemani mereka.
Ketika detik-detik terakhir peralihan tahun tiba, orang-orang serempak menghitung, lalu kembang api nan indah dan mahal meledak bertubi-tubi di udara. Orang-orang bertepuk tangan dan terkesima menyaksikan keindahannya. Tahun baru telah datang, dan disambut dengan penuh suka cita. Seolah pintu gerbang masa depan telah terbuka dan kita bersemangat memasukinya.
Setiap tahun baru, media biasanya menampilkan kaleidoskop tahun sebelumnya, yang menampilkan beragam peristiwa penting yang telah terjadi sepanjang tahun. Banyak musibah yang terjadi di tahun 2022 seperti banjir, tanah longsor, gempa dan kebakaran. Ada pula tragedi kematian seperti kasus pembunuhan Joshua Hutabarat dalam kasus Ferdy Sambo dan kematian 130 penonton Sepakbola di Stadion Kanjuruhan. Ada pula yang baik-baik, antara lain pertumbuhan ekonomi Indonesia yang naik pasca-pandemi dan kesuksesan pelaksanaan G-20 di Pulau Dewata, Bali. Tentu masih amat banyak lagi peristiwa yang dicatat ataupun tidak oleh media, yang terjadi selama tahun lalu.
Sejarah umat manusia sepanjang masa selalu diisi oleh suka dan duka, baik dan buruk, komedi dan tragedi. Karena itu, tahun baru tidak menandai apapun jika dilihat dari sudut pandang ini. Namun, perubahan besar dapat juga terjadi yang jarang terjadi di masa sebelumnya. Misalnya, pandemi Covid-19 yang melanda dunia.
Pandemi sudah sering terjadi, tetapi cakupannya yang benar-benar global mungkin baru Covid-19. Perubahan iklim akibat pemanasan global juga sesuatu yang baru, yang menimbulkan bencana alam di berbagai belahan dunia. Begitu pula, kehadiran ponsel pintar telah banyak menimbulkan dampak bagi kehidupan manusia, yang tak terpikirkan sebelumnya.
Dalam menjalani hidup yang terus berubah itu, dan tantangan yang datang silih berganti, adakah kepastian yang dapat menjadi pegangan? Tak sedikit ‘orang pintar’ yang mengatakan bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Pandangan ini tampak ilmiah, berbasis pada kenyataan, tetapi sebenarnya dangkal. Memang benar bahwa apapun di dunia ini mengalami perubahan. Inilah yang dalam bahasa teologis disebut temporal atau baru. Jika Anda pernah belajar teologi Islam versi Sifat 20 rumusan al-Sanusi, Anda akan sering menemukan dalil kebaruan alam versus keabadian Tuhan. Ciri utama kebaruan alam adalah perubahan yang terus-menerus itu.
Lantas, adakah kepastian yang tetap dan tidak berubah dalam hidup ini? Menurut Frithjof Schuon (Muhammad Isa Nuruddin), ada dua kepastian dalam hidup ini, tetapi manusia seringkali lupa atau mengabaikannya. Pertama adalah kematian. Siapapun orangnya, dia akan mati. Orang yang saat ini sedang berbahagia akan mudah lupa pada derita masa lalunya. Apa yang telah terjadi di masa lampau kini sudah tak ada. Dengan kematian, semuanya menjadi masa lalu yang lenyap. Karena kematian berada di masa depan, maka orang yang hidup dalam kesadaran akan kematian akan merasakan ketenangan. Inilah yang disebut kaum Sufi dengan ungkapan ‘mati sebelum mati’.
Kepastian kedua adalah kehendak Tuhan. Kematian menunjukkan bahwa kita ini lemah, tak dapat mengendalikan hidup kita sendiri, sehebat apapun ilmu dan teknologi yang kita miliki. Artinya, ada kehendak yang lebih kuasa dan lebih besar yang mengendalikan hidup kita. Dari sinilah pertanyaan tentang makna hidup itu bermula. Dari mana aku berasal? Apa yang harus kulakukan di dunia ini? Ke mana kelak aku setelah mati?
Sebagaimana kita tak dapat mengindari maut, begitupula kita tak dapat menghindari makna hidup. Dua kepastian ini seharusnya mendorong manusia untuk hidup sesuai dengan petunjuk Tuhan, yang terpatri dalam hati nurani dan agama yang diwahyukan-Nya.
Alhasil, mungkin terkesan ironis bahwa kepastian dalam hidup adalah mati. Namun, justru kepastian inilah yang menggiring kita kepada kepastian kedua, yaitu kuasa kehendak Tuhan. Kepastian inilah yang menjadi pegangan kokoh, sebagai alpha dan omega, asal dan tujuan hidup. Ketika waktu merangkak ke depan, kita pun semakin dekat kepada kepastian itu. Namun, apakah kita mengisi usia yang tersisa sesuai dengan petunjuk-Nya? Selamat Tahun Baru 2023!. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Prof-DR-H-Mujiburrahman-MA12.jpg)