Jendela

Memburu Pembaca Jendela

dunia sudah banyak berubah. Dengan adanya versi online, tulisan kita sudah tidak dibatasi lagi oleh wilayah.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Prof DR H Mujiburrahman MA 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - MENJELANG akhir tahun 2022, saya sempat menghubungi Wapemred Banjarmasin Post, M. Royan Naimi, meminta izin kepadanya untuk membuat survei tentang kolom rutin saya, yang terbit tiap Senin. Dia mendukung dan berharap diberitahu hasilnya kelak. Namun, survei itu hingga kini tak kunjung saya lakukan. Saya masih gamang. Mengapa saya ingin melakukan survei? Apa saja yang ingin saya tanyakan? Siapa saja yang akan jadi responden? Apa manfaatnya?

Tak dapat dipungkiri, saya merasa bersyukur dan beruntung sekali, diberi kesempatan menulis rutin setiap minggu. Kala itu, pada 2009, Pemred koran ini, Yusran Pare, mengatakan kepada saya bahwa berdasarkan survei yang dilakukannya, pembaca rubrik opini sangat sedikit. Padahal ruang itu disediakan agar terjadi dialog intelektual di masyarakat terhadap masalah-masalah sosial, budaya, ekonomi, politik, agama hingga sains dan teknologi. Kolom rutin yang saya tulis diharapkan mampu menarik perhatian para pembaca. Karena itu, ketika saya meminta menulis satu atau dua kali sebulan, dia menolak. “Kalau tiap minggu, tulisan Bapak akan ditunggu-tunggu,” katanya.

Sejak Mei 2009, saya konsisten menulis, tak pernah absen sekalipun. Di mana pun berada, entah di rumah, di hotel, di bandara, di pesawat dan tempat lainnya, saya selalu berusaha mengisi kolom yang diberi nama Jendela itu. Ada gairah yang menggebu untuk terus memanfaatkan waktu, menulis di koran ini. Hasilnya, sampai 2021 lalu, sudah ada lima buku kumpulan kolom ini yang diterbitkan. Sementara itu, masih ada ratusan kolom yang siap untuk disusun ulang untuk diterbitkan menjadi buku. Bagi saya, penerbitannya dalam bentuk buku adalah upaya dokumentasi agar kolom-kolom itu tidak tercerai-berai. Selain itu, sebagai buku, ia juga dapat merambah pembaca yang lebih luas.

Kebahagiaan terbesar bagi saya adalah ketika ada orang yang mengaku suka membaca tulisan saya. Ada yang mengaku rutin mengkliping. Ada pula yang mengaku, tiap Senin rubrik pertama yang dia cari dan baca adalah kolom saya. Ada juga orang yang mengirim surat langsung ke saya, menjelaskan ketertarikannya pada tulisan saya. Pernah pula saya menerima e-mail dari beberapa anak SMA asal Yogyakarta, yang terinspirasi membaca buku kumpulan kolom saya. Saya akhirnya bertemu dengan mereka di sebuah hotel di Yogyakarta. Yang lebih mengesankan lagi adalah, suatu hari saya ditegur tukang parkir. “Pak Mujib, kan? “Ya. Kok Anda tahu.” “Saya sering baca tulisan Bapak.”

Di sisi lain, saya juga pernah mendapat pengalaman buruk. Suatu hari tulisan saya menyinggung seorang tokoh, yang bernuansa politis. Sejumlah orang datang ke kampus, mencari-cari saya sambil marah-marah. Mereka juga datang ke redaksi BPost. Kemudian, mereka menulis kritik terhadap tulisan saya itu. Saya sendiri waktu itu sedang berada di Jepang, untuk menghadiri kegiatan ilmiah di Nagoya dan Tokyo. Atas berbagai pertimbangan, saya tidak merespons balik tanggapan mereka itu. Beberapa bulan kemudian, dalam sebuah acara, seseorang datang dan mencium tangan saya. Dia meminta maaf. Katanya, dialah pemimpin orang-orang yang marah datang ke kampus dulu itu.

Ada pula kejadian lain. Suatu hari, saya menghadiri acara di Bank Indonesia. Saat itu banyak pejabat yang hadir. Tiba-tiba, ada seseorang mendatangi dan menyalami saya dengan erat. “Kenalkan, saya adalah Sekda Kabupaten A,” katanya. “Saya Mujib, Rektor UIN,” kata saya. “Ya, saya sudah kenal Bapak. Saya ingin menyampaikan terima kasih atas tulisan Bapak.” “Yang mana?” tanyaku. Dia lalu menyebutkan judulnya. “Kami tidak berani menyatakan seperti yang Bapak tulis, sehingga tulisan itu dapat mewakili apa yang kami rasakan,” katanya. “Syukurlah. Saya sebagai penulis senang sekali. Orang mungkin tidak akan terlalu marah ke saya, karena saya tidak punya ambisi kekuasaan. Saya mengingatkan saja, dengan segala keterbatasan pengetahuan saya,” kataku.

Sebagian teman ada yang mengatakan, sudah selayaknya saya mencoba menulis di koran nasional seperti Kompas. “Mengapa betah menjadi penulis lokal?” katanya. Saya berterimakasih atas saran itu. Namun, bagi saya, dunia sudah banyak berubah. Dengan adanya versi online, tulisan kita sudah tidak dibatasi lagi oleh wilayah. Buktinya, pernah tulisan saya menjadi viral di nasional, sehingga Mahfud MD waktu itu menanggapinya. Saya mengkritik dia, dan dia meminta maaf, meskipun dia tidak mencabut pernyataannya. Ini bukan berarti saya tidak pernah menulis di media nasional (artinya yang terbit di Jakarta). Kadang-kadang, hal itu juga saya lakukan, meski tidak sering.

Apalagi, kumpulan kolom saya telah diterbitkan menjadi buku oleh beberapa penerbit berskala nasional seperti Grup Kompas Gramedia (Kompas, Quanta Elexmedia) dan Gading. Meskipun buku-buku itu tidak pernah laris-manis, tetapi tampaknya tidak sampai membuat penerbit rugi. Artinya, masih ada orang yang mau membeli dan membaca buku saya. Buku saya juga seringkali diapresiasi oleh orang-orang luar Kalsel dan luar UIN Antasari. Bahkan ada kesan, para mahasiswa UIN Antasari tidak banyak yang tahu kalau saya menulis buku atau rutin menulis kolom. Ini mungkin menunjukkan, sebagai penulis saya bukanlah tokoh populer di kampus sendiri.

Namun, mungkin masalahnya bukan sekadar saya tidak populer di kandang sendiri, melainkan karena perbedaan generasi dan perkembangan media. Dulu koran cetak adalah bacaan kaum terpelajar, termasuk mahasiswa. Kalau tulisan kita terbit di koran, kita sangat bangga. Sekarang, mayoritas mahasiswa tidak lagi membaca koran cetak. Mereka membaca berita online yang sumbernya beraneka ragam, dari jurnalistik profesional hingga abal-abal. Kebanyakan mahasiswa juga lebih suka menggunakan Instagram ketimbang Facebook yang lebih leluasa berbagi informasi serius. Mungkin pula, topik-topik yang saya tulis sudah ketinggalan zaman dan tidak bermutu.

Dalam buku Sihir Gawai, saya katakan, “melempar tulisan di media sosial itu kadangkala terasa laksana melempar sebiji kerikil ke danau yang luas. Ia menimbulkan sedikit riak, tetapi kemudian lenyap. Kadangkala malah terasa laksana menebar segenggam garam di air laut yang sudah asin, seperti tidak ada efeknya sama sekali. Saya tidak tahu berapa jumlah orang yang mau membaca tulisan saya edisi cetak dan juga elektronik.”Inilah antara lain kegalauan saya sebagai penulis. Buat apa menulis jika tidak ada yang mau membaca? Namun, bukankah pembaca itu tidak terbatas waktu? Mungkin saat ini belum dibaca, kelak ada orang lain yang mencari dan membaca.

Namun, jangan-jangan, ini bukan gejala anak muda saja. Kita yang tua pun sudah malas membaca artikel atau kolom, apalagi artikel jurnal dan buku. Kita lebih suka yang ringan dan instan. Karena informasi berlimpah, kini pembaca tidak lagi memburu tulisan. Tulisanlah yang memburu pembaca. Nah, sebagai penulis, saya harus bagaimana? (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved