Fikrah

Rezeki Telah Dijamin Allah

Rezeki kecil dan penuh keterbatasan bisa mendatangkan kebahagiaan dan kenyamanan jika selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPPOST.CO.ID - REZEKI sedikit maupun besar rasanya tidak akan cukup jika tidak mendasarinya dengan rasa syukur. Rezeki kecil dan penuh keterbatasan masih bisa mendatangkan kebahagiaan dan kenyamanan jika kita selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Allah SWT berfirman “Wamaa min daayatin fil ard illa alallah rizquha waya’lamu mustafarraha wamustauda ahaa kullufi kitabin mubin.” Artinya tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak di jamin Allah rezeki nya dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanan nya, semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Rezeki akan mengejarmu seperti halnya maut mengejarmu. Ada sebuah kisah seseorang karyawan pulang dari kantor bekerjanya. Ia mampir sebentar untuk membeli ketoprak titipan istrinya di rumah, ia mencari pesisir jalan dan akhirnya menemukan sebuah gerobak ketoprak. Di dalam hati ia berkata, “Mengapa gerobaknya kosong tidak ada penjaganya?” Lalu ia bertanya kepada tukang cukur yang ada di sebelah gerobak, “Pak kemana penjual ketoprak ini?” Lalu tukang cukur itu menjawab, “Lagi sholat berjamaah di mesjid.”

Karyawan kantor itu menggerutu di dalam hati, “Betapa banyak potensi pembeli yang akan hilang kalau selalu ditinggal lama seperti ini”. Dan tidak berapa lama tukang ketoprak itu pun datang. “Beli ketopraknya satu pak,” kata karyawan kantor itu. Tetapi entah kenapa tiba-tiba pikirannya berubah “Beli dua pak” lanjutnya. Kemudian tidak berapa lama datanglah beberapa orang yang mengantre ingin membeli ketoprak. Entah dari mana mereka datang, tadinya hanya si karyawan yang menunggu sendiri tidak ada orang lain, tiba-tiba banyak orang datang memesan ketoprak.

Maasyaa Allah, tidak sedikit pedagang yang rela meninggalkan salat demi menjaga dagangannya yang belum tentu ada orang beli, apalagi jika pelanggan sedang ramai, atau mungkin pekerja kantoran rela menunda salat bahkan meninggalkan salat hanya karena alasan sibuk kerja, meeting dan lain sebagainya. Mereka seakan-akan lupa kalau Allah lah yang mengatur rezeki. Tukang ketoprak ini dengan yakinnya meninggalkan jualannya untuk salat seakan-akan ia lari meninggalkan rezekinya, padahal sekembalinya dari salat ternyata rezeki datang bagai lebah menggerumuni bunga. Bahkan Allah SWT pun menggerakkan hati banyak orang untuk membeli lebih yang seharusnya.

Sabda Rasulullah SAW, “Lauannabna aadama haraba minrizkihi kamaa yahrubu minal mauti laadrakahu rizkuhu kamayudrikuhulmaut.” Artinya kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezeki nya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.

Jika itu memang rezeki mu maka tidak akan hilang. Seperti seorang penjual tahu yang tinggal di persawahan, pada setiap harinya harus menjual tahunya ke kota. Ia harus berjalan melewati pematang sawah menuju jalan raya. Ada sebuah mobil taksi umum yang langganannya membawanya ke kota bersama penumpang lainnya. Pada suatu hati sesudah sholat subuh ia membawa satu bakul tahu, entah bagaimana kakinya terpeleset dan bakul tahunya terbalik. Dengan perasaan sedih dikumpulkannya tahu itu dan dibawa nya pulang ke rumah. Di dalam hatinya ia bertanya mengapa Allah tidak memeliharanya padahal ia sudah berdoa pada waktu sholat subuh. Menjelang sholat zuhur tersebarlah berita bahwa mobil taksi umum yang biasa membawanya mengalami kecelakaan. Mobil tersebut terbalik, banyak korban jiwa, bahkan ada yang meninggal dunia. Setelah mendengar berita itu ia tersadar bahwa ini adalah merupakan pemeliharaan Allah terhadap dirinya. Seandainya pada hari itu ia menjadi penumpang taksi umum yang terbalik itu, entah bagaimana nasib nya sekarang.

Bagaimana rezekinya hari itu? Ia tidak mendapatkan uang apa apa. Menjelang magrib datang seorang tamu ke rumahnya untuk membeli tahu. Tahu yang diinginkannya adalah tahu yang rusak karena hanya untuk memberi makan ternak itiknya. Maka sebakul tahu yang rusak kini dibeli oleh orang itu sehingga ia mendapatkan rezeki hari itu dan tidak ada kerugian baginya.

Itulah rezeki seseorang yang sudah di tentukan Allah SWT, Dia tahu akan alamat penerimanya. Wallahualam. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved