Jendela

Antara Wali dan Superhero

Orang semakin sulit memercayai dan mengagumi manusia-manusia hidup, lalu mengganti mereka dengan para wali yang telah mati atau superhero yang fiktif

|
Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Prof DR H Mujiburrahman MA 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUATU hari, saya berbincang dengan seorang ulama kharismatik tentang perkembangan kajian-kajian Islam di berbagai majelis taklim di Kalimantan Selatan. Salah satu yang merisaukan beliau adalah kegemaran sebagian ulama menyampaikan kisah-kisah keramat yang terkandung dalam kitab-kitab manakib para wali. Beliau mengkhawatirkan, cerita-cerita ajaib yang melampaui hukum alam itu justru membuat umat malas berpikir dan berjuang. Padahal, yang utama dari kisah-kisah para wali adalah perjuangan moral dan spiritual mereka yang luar biasa, terutama dalam mengalahkan hawa nafsu dan meraih kebijaksanaan hidup.

Secara umum saya setuju dengan pendapat beliau. Manakib memang bukan biografi, gambaran kisah manusiawi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Orang Barat menyebut manakib dengan ‘hagiografi’, yakni cerita tentang orang suci atau santo, yang dalam Islam mirip dengan wali. Informasi dalam hagiografi biasanya bercampur baur antara fakta-fakta historis dan semi-historis, yakni yang benar-benar terjadi dalam sejarah ataupun hanya diduga terjadi. Karena itu, orang-orang modern yang terpengaruh saintisme, yakni pandangan bahwa kebenaran hanyalah yang masuk akal dan dapat dibuktikan dalam kenyataan inderawi, cenderung menolak hagiografi.

Namun, bagi kaum beriman, yang yakin bahwa roda kehidupan dan seluruh semesta ini berputar dalam genggaman kuasa Tuhan, keramat dan mukjizat adalah sesuatu yang wajar dan sangat mungkin terjadi. Tokoh ulama kita di atas juga bukan orang yang anti-keramat. Beliau hanya khawatir akan mental umat, jika diberikan cerita-cerita keramat dalam dosis yang terlalu banyak. Bukankah para ulama mengajarkan, istiqamah atau konsistensi dalam berbuat kebaikan jauh lebih baik daripada seribu keramat? Terkait dengan istiqamah ini, sebuah hadis mengatakan, “Perbuatan baik yang paling disukai di sisi Allah adalah yang konsisten dilakukan, meskipun sedikit.”

Di sisi lain, kita patut pula merenungkan, mengapa masyarakat menyukai kisah-kisah keramat dalam manakib? Apakah sekadar menyukai keajaiban, ataukah lebih dari itu? Saya belum pernah melakukan penelitian, menanyakan hal ini kepada sejumlah orang. Karena itu, di sini saya hanya mencoba menjawabnya dengan perkiraan saja. Pertama, boleh jadi kisah-kisah ajaib yang melampaui hukum alam itu diperlukan sebagai penghibur di tengah hidup yang serba sulit. Ketika berbagai usaha ikhtiyar telah dilakukan tetapi hasilnya masih mengecewakan, orang tentu berharap akan muncul keajaiban. Kisah keramat para wali memberikan harapan di balik kesulitan hidup yang menghimpit.

Selain itu, mungkin ada alasan lain yang lebih serius. Kita kini hidup di tengah arus informasi yang melimpah ruah. Kebanyakan informasi yang menyerbu kita itu bernuansa negatif atau pencitraan belaka. Yang negatif adalah berita-berita buruk yang terjadi di sekitar kita, di negara kita hingga dunia. Kaidah bahwa berita buruk adalah berita yang laku semakin terbukti kebenarannya. Belum lagi berita-berita palsu, bohong dan fitnah yang bertebaran di mana-mana. Hal ini diperparah lagi oleh kecenderungan manusia sekarang yang suka menampilkan diri sendiri dalam citra-citra indah mulia di media sosial. Bagaimanapun, pencitraan sangat dekat dengan kepalsuan.

Arus informasi yang negatif itu, tak ayal lagi menggiring kita kepada pesimisme dan buruk sangka. Sangat sulit bagi kita melihat dunia dengan hati yang lapang dan bersih. Mata kita sudah dihalangi oleh kaca mata hitam. Kita semakin sulit percaya bahwa ada orang baik di dunia ini. Ketika seorang pejabat mengatakan bahwa dia tidak korupsi, kita langsung saja ragu, menganggapnya retorika belaka. Ketika ada orang kaya mengaku mendapatkan hartanya dengan cara yang legal dan halal, kita tidak mudah percaya, bahkan serta merta mendustakannya. Kita bersikap begitu karena informasi yang memenuhi kepala kita adalah berita-berita tentang penipuan, kepalsuan dan kemunafikan.

Dalam awan gelap seperti itu, bukankah aneka cerita tentang orang-orang saleh yang dianugerahi kemuliaan oleh Allah dengan berbagai keramat adalah seberkas cahaya yang memberikan harapan? Apa bedanya dengan film Hollywood tentang superhero, seorang manusia dengan kekuatan ajaib, yang dengan gagah berani membela kebenaran di dunia yang dikangkangi kejahatan? Apalagi, bagi kaum beriman, superhero itu fiksi belaka, sementara wali itu benar-benar ada dan nyata. Namun, mungkin saja ada kesamaan antara superhero dan wali, yakni keduanya mewakili personifikasi kebenaran dan kemuliaan yang makin langka ditemukan dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Alhasil, jika perkiraan saya di atas benar, maka kesukaan masyarakat pada manakib para wali adalah suatu peringatan tentang krisis yang kita alami saat ini, yaitu krisis kepercayaan terhadap kebaikan manusia. Orang semakin sulit memercayai dan mengagumi manusia-manusia hidup, lalu mengganti mereka dengan para wali yang telah mati atau superhero yang fiktif. Di sisi lain, hal ini menunjukkan bahwa, di lubuk hatinya yang terdalam, manusia selalu merindukan kebaikan, kebenaran dan keadilan. Fitrah manusia pada dasarnya adalah baik, sedangkan dosa dan kejahatan adalah penyangkalan terhadap fitrah tersebut sehingga akan melahirkan penderitaan. (*) 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved