Jendela
Paradoks Kesementaraan
Nafsu membuat kita lupa akan perbedaan antara yang baik dan buruk, benar dan salah, pahala dan dosa.
Oleh: Mujiburrahman
BANJARMASINPOST.CO.ID - ADA banyak hal yang dilakukan orang menjelang Ramadan. Ada yang berusaha menyelesaikan berbagai kegiatan agar di bulan puasa nanti lebih santai. Ada yang menyiapkan tabungan untuk biaya hidup agar selama Ramadan bisa total beribadah, tidak repot mencari nafkah. Ada pula yang menyiapkan berbagai barang dagangan yang akan dijual selama Ramadan hingga lebaran, dari rupa-rupa makanan hingga pakaian. Ada lagi yang sibuk merancang jadwal kegiatan keagamaan di masjid, musalla hingga sekolah. Ada pula yang mengajak keluarga ziarah ke kubur orangtua dan leluhur.
Ramadan itu hanya sekali dalam setahun. Meskipun, jika dilihat dalam putaran waktu, ia adalah satu titik dari waktu yang melingkar atau siklus yang terulang setiap tahun. Tahun lalu Ramadan, dan tahun ini Ramadan lagi, seolah ia putaran tiada akhir. Di sisi lain, rentang waktu Ramadan yang hanya sebulan menunjukkan keterbatasan dan kesementaraan yang membuatnya unik. Sebagai bulan puasa, Ramadan adalah sakral. Namun, yang sakral itu selalu hadir bersama yang profan. Ramadan seperti garis sinambung antara yang ukhrawi dan duniawi.
Jika direnungkan lebih dalam, perilaku kita menghadapi Ramadan mencerminkan paradoks sikap kita terhadap kesementaraan, yang bisa positif ataupun negatif. Ketika menghadapi kesementaraan, orang tentu akan berpikir tentang kesempatan yang terbatas dan karena itu mumpung. Paradoks terjadi ketika orang berpikir, mumpung diberi Tuhan kesempatan bertemu Ramadan tahun ini, maka siapkan diri sebaik-baiknya untuk beribadah dan berbuat baik. Namun bisa juga sebaliknya, mumpung belum puasa, puaskan dulu diri dengan segala kenikmatan duniawi, termasuk maksiat.
Sebenarnya, kesementaraan bukan saja watak bulan Ramadan, tetapi seluruh hidup manusia di dunia ini. Hidup kita sementara, ada awal dan akhirnya. Tak ada orang yang hidup selamanya. Ini adalah fakta yang tak dapat ditolak oleh siapapun, entah dia beragama, agnostik atau ateis. Namun, mungkin karena kesementaraan hidup manusia itu bersifat umum, banyak orang melupakannya. Hanya dalam waktu tertentu, seperti saat seorang keluarga dekat meninggal dunia atau ketika seseorang divonis mengidap penyakit yang mematikan, kesadaran akan kesementaraan itu bangkit.
Perhatikan pula perilaku orang ketika berkuasa. Kesementaraan melahirkan aji mumpung, yang bisa positif bisa pula negatif. Seorang yang berpikir positif akan berusaha sekuat tenaga menggunakan kekuasaan yang sementara itu untuk berbuat baik demi kepentingan orang banyak. Sebaliknya, orang yang berpikir negatif akan berusaha sekuat tenaga memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan kelompoknya, serta memanfaatkan fasilitas negara semau-maunya. Karena itu, semakin rentan kekuasaan itu jatuh, semakin tampak pula aji mumpung penguasanya.
Perbedaan antara yang positif dan negatif dalam melihat kesementaraan adalah, yang pertama berpikir jangka panjang, sedangkan yang kedua jangka pendek. Yang jangka panjang adalah perbuatan baik yang bermanfaat di dunia dan akhirat, sedangkan yang jangka pendek adalah perbuatan yang menyenangkan hawa nafsu belaka. Nafsu selalu mendorong kita untuk turun dan jatuh ke lembah terbawah dari kemanusiaan kita hingga kita menjadi seperti hewan. Nafsu membuat manusia mengabaikan makna dan tujuan hidupnya yang sejati.
Selain itu, aji mumpung juga dapat terjadi karena gairah ‘balas dendam’. Karena hidup di dunia ini sementara, maka baik penderitaan ataupun kesenangan, kedua-duanya sementara. Ada orang yang berpikir, karena dulu di masa kecil dan remaja hidup susah, maka ketika sekarang ada kesempatan dan kemampuan, dia ingin memuaskan semua keinginan nafsu yang dulu terhambat. Sebaliknya, ada pula orang yang karena dulu sudah terbiasa hidup susah, dia sanggup mengendalikan nafsu, tidak mudah tergoda dengan gemerlap dunia yang haram meskipun kesempatan itu terbuka.
Selain itu, aji mumpung secara negatif bisa membawa kepada perilaku serba instan dan jalan pintas dalam beragama. Mumpung belum Ramadan, mari puas-puaskan hawa nafsu dulu. Nanti saat Ramadan, coba-coba bertobat. Usai Ramadan, kembali menjadi budak nafsu lagi. Sama seperti orang yang suka maksiat, kemudian sekali atau beberapa kali setahun pergi umrah, karena konon umrah itu dapat menghapus dosa-dosanya. Tuhan seolah bisa dipermainkannya. Lebih buruk lagi, uang yang dipakai untuk umrah itu ternyata uang haram atau syubhat pula.
Nafsu mengatakan, hidup bahagia adalah kaya raya, maksiat berfoya-foya, tetapi mati masuk surga! Padahal, nafsu itulah pangkal segala penderitaan. Nafsu takkan pernah merasa puas. Nafsu membuat kita kehilangan kemanusiaan kita. Nafsu membuat kita lupa akan perbedaan antara yang baik dan buruk, benar dan salah, pahala dan dosa. Kita perlu nafsu untuk hidup, tetapi bukan hidup untuk nafsu. Puasa adalah ajang latihan mengendalikan nafsu, bukan membunuhnya. Menyambut Ramadan berarti bersiap-siap memasuki pelatihan pengendalian nafsu itu.
Alhasil, kesementaraan adalah watak hidup kita. Namun dalam kesementaraan itulah kualitas hidup kita dipertaruhkan: baik-buruk, benar-salah, bahagia-derita. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Prof-DR-H-Mujiburrahman-MA12.jpg)