Fikrah

Beriman kepada Allah SWT

Jika seseorang mengucapnan syahadat tetapi hatinya tidak beriman disebut munafik

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - BERIMAN kepada Allah SWT ada dua bentuk, yang pertama beriman secara ijmal atau global dan kedua beriman secara fatshil atau rinci. Beriman secara ijmal adalah mengiktikadkan bahwa Allah bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan bersih dari segala sifat kekurangan. Adapun beriman secara tafshil atau rinci yaitu mengiktikadkan bahwa Allah bersifat dua puluh yang mustahil dan satu sifat yang jaiz atau boleh-boleh saja.

Jalur pengenalan terhadap Allah ada dua. Yaitu hakiki yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri. Jalur ini tertutup bagi yang lain. Kedua nisbi atau relatif. Jalur ini terbuka sepenuhnya bagi para hamba. Yaitu pertama melalui pengenalan akan asma atau nama-nama Allah yang sebenarnya adalah sifat-sifatnya. Hal ini berdasarkan wahyunya sendiri. Dalil berdasarkan wahyu diistilahkan dengan dalil naqli. Kedua melalui pengenalan terhadap keajaiban alam semesta ciptaannya dan hikmah yang terkandung padanya. Hal ini dibuktikan oleh akal logis, diistilahkan dengan dalil aqli.

Beriman kepada Allah mencakup itikad akan ke Esaan Allah tauhid pada zat sifat dan af’alnya. Tauhid pada dzat ialah mempercayai bahwa dzat Allah wajib ada yang tidak terdiri dari berbagai unsur dan tidak terbagi kepada bagian-bagian. Tauhid pada sifat ialah mempercayai bahwa segala sifat yang di miliki Allah hanya dia yang memilikinya sedangkan selain dia tidak ada yang memilikinya menyamai ataupun mendekatinya.

Tauhid pada af’al ialah mempercayai bahwa segala perbuatan Allah hanya dia yang mampu memperbuatnya. Sedangkan yang lain tidak mampu, baik menyamai atau mendekatinya apalagi melebihinya. Wujud dan eksistensi dzat Allah diyakini akan adanya. Karenanya dikatakan Allah SWT adalah Dzat Wajib Al Wujud artinya Dzat yang wajib ada. Dia adalah khaliq atau pencipta. Gambaran sifat Allah terlukis di alam semesta. Sedang af’alnya dihayati dalam menata dan meniti kehidupan ini. Karenanya kita diperintahkan untuk membaca ayat-ayat atau bukti Allah yang tertulis di dalam wahyunya dan terlukis di alam semesta bahwa sifat-sifat Allah tidak terhingga hanya dia yang mengetahui.

Ada 99 nama terbaiknya yang menggambarkan sifat-sifatnya. Diajarkan kepada Nabi Muhammad SAW dan siapa yang membilangnya masuk surga. Ada dua puluh sifat yang tasyabbuh atau terkecoh pada pemikiran atau logika. Sifat-sifat ini diformulasikan oleh Imam Abh Hasan Al Asyari dengan yang wajib, mustahil dan jaiz, populer disebut sifat dua puluh. Ada tiga sifat populer Allah yaitu Jamal atau segala yang indah, Kamal atau segala yang sempurna, dan Jalal atau segala yang hebat. Ada dua sifat yang paling dirasakan oleh manusia adalah Rahman dan Rahim. Ada satu sifat pamungkas yaitu Laitsa kamitsilihi syaiun (tidak ada suatu pun yang setara dengannya).

Dimaksudkan ayat Allah ialah atsar atau hasil sifat. Itulah dia alam semesta barangkali dapat dikatakan ayat adalah hasil karya Allah yang menjadi bukti akan wujud kebesaran dan kekuasaannya. Seseorang yang menyaksikan alam semesta seyogiyanya berkesimpulan logis bahwa ia alam semesta mesti ada yang menciptakannya. Pencipta itu disebut Tuhan. Dia bernama Allah SWT. Dengan menyaksikan alam semesta kita mengetahui bahwa Allah adalah hebat atau Jalal, sempurna dan indah.

Allah adalah dzat sedang kehebatan adalah sifat dan alam semesta adalah atsar sifat yang menjadi ayat atau bukti. Dengan menyaksikan alam semesta berarti seseorang merasa melihat Allah bukan melihat zatnya. Tetapi melihat bekas sifat (Kehebatan, kesempurnaan dan keindahannya). Lewat alam semesta Allah menampakkan eksistensi dirinya yang diistilahkan dengan tajalli. Yaitu tajalli sifat atau afal bukan tajalli dzat. Bacalah dengan nama tuhan mu bahwa alam semesta adalah ayat atau bukti akan wujud eksistensi Allah. Bila seseorang tidak mampu membaca hal ini ia dituduh buta mata tetapi buta hati yang ada di dalam dada.

Pengakuan dengan ucapan Iqrarun bil lisan harus dibarengi dengan pembenaran di dalam hati tashdiqun bil janan dan dibuktikan dengan amal perbuatan yaitu mengamalkan apa yang di perintahkan menurut ajaran agama atau amalun bil arkan. Iman sejatinya adalah keyakinan yang ada di dalam hati. Pengakuan melalui lidah, menghasilkan diberlakukannya seseorang sebagai seorang muslim seperti sahnya ia menjadi imam dinikahkan dan dikuburkan secara islam dan lain sebagainya.

Jika seseorang mengucapnan syahadat tetapi hatinya tidak beriman disebut munafik namun ia tetap dipergauli sebagai seorang muslim kecuali jika ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran islam seperti menyembah berhala atau menghinakan mushaf. Jika seseorang beriman di dalam hati. Tetapi tidak mengucapkan dua kalimat syahadat ia tidak bisa diberlakukan sebagai seorang muslim karena tidak ada bukti penentuan muslim tidaknya seseorang dilihat dari segi lahiriah nya sedangkan batiniah nya urusan allah swt. Wallahualam. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved