Fikrah
Dosa dan Tobat
Ada pula yang berpendapat tidak ada yang dikatakan dosa besar apabila segera diiringi dengan istighfar
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA, Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - DARI apa saja seseorang bertobat? Dan apakah yang disebut dengan dosa? Dosa adalah penyelewengan dari ketentuan atau hukum hukum Allah yaitu dengan meninggalkan apa yang diperintahkan atau mengerjakan apa yang dilarang. Dosa dibagi menjadi dua, dosa-dosa besar atau Kaba-ir dan dosa kecil atau Al-shaga-ir. Dosa besar ialah setiap sesuatu yang dilarang atau diharamkan Allah SWT berdasarkan nash Al Qur’an.
Pelakunya diancam dengan laknat Allah SWT dihari kiamat diberi sebutan fasik dan di dunia dihukum had berdasarkan Al Qur’an hadist dan ijma sahabat. Ada yang berpendapat dosa dilihat dari segi akibat yang timbul karenanya apabila banyak kerusakannya disebut dosa besar tapi bila kerusakannya sedikit disebut dosa kecil.
Ada pula yang berpendapat tidak ada yang dikatakan dosa besar apabila segera diiringi dengan istighfar dan tidak ada yang dikatakan dosa kecil apabila maksiat terus menerus dikerjakan. Para ulama berbeda pendapat menentukan besar kecilnya suatu dosa.
Menurut Abu Thalib Al Makki, dosa besar ada tujuh belas macam yaitu ada empat macam di dalam hati, syirik terhadap Allah SWT, terus menerus maksiat kepadanya, putus asa akan rahmatnya dan merasa aman dari murkanya Allah.
Ada empat macam terletak di lidah, bersaksi palsu, menuduh wanita baik baik berzina, sihir, bersumpah palsu yang dapat memutar baik masalah sehingga yang salah menjadi benar dan sebaliknya. Tiga macam ada di perut, yakni meminum minuman keras dan memabukkan, memakan harta anak yatim, memakan riba sedangkan ia mengetahuinya.
Dua macam ada di kemaluan, zina, liwath atau berhubungan seks sejenis. Dua macam ada di tangan membunuh dan mencuri. Satu macam ada di kaki, yakni lari dari peperangan. Satu macam ada di seluruh tubuh, yakni jika durhaka terhadap ibu dan bapak.
Dosa-dosa kecil akan membesar apabila dikerjakan terus menerus, dianggap remeh dimana seseorang mengerjakannya tanpa ada perasaan berdosa sedikitpun. Dikerjakan tanpa penyesalan, dan digampangkan dengan anggapan Allah SWT yang maha pengasih akan mengampuni dan melindungi. Dikerjakan dengan ditampak-tampakkan kepada orang lain baik dengan perilaku maupun dengan perkataan. Pelakunya seorang panutan yang diikuti oleh orang lain.
Sekecil apapun dosa seseorang tidak ada yang lolos dari pada azab Allah SWT, kecuali dengan istighfar dan tobat.
Syekh syams al Din al Zahabi waiat tahun 1348 M. Di dalam kitabnya kitab Al Khabair menulis tujuh puluh macam dosa besar antara lain “Menyekutukan Allah atau syirik, membunuh orang dengan sengaja, sihir, meninggalkan salat fardhu, enggan membayar zakat, buka puasa Ramadan tanpa uzur, meninggalkan haji saat mampu, durhaka kepada kedua orangtua, bermusuhan dengan kerabat, berzina, liwath atau hubungan sejenis atau homo seksual, memakan riba, memakan harta anak yatim dengan zolim, berbohong atas nama Allah SWT dan rasulnya, melarikan diri dari peperangan membela agama Allah SWT, penipuan dan kezaliman pemimpin terhadap rakyatnya, sumpah palsu, berjudi, sombong takabur dan rasa tinggi diri dan lain-lain.
Ketaatan dan kemaksiatan seorang hamba tidak ada pengaruhnya terhadap Allah SWT. Seandainya semua makhluk taat kepada Allah SWT kebesaran dan kemuliaannya tidaklah bertambah. Demikian pula sebaliknya seandainya semua makhluk maksiat kepadanya, kebesaran dan kemuliaanya itu sama sekali tidak berkurang. Dosa dan kemaksiatan berbahaya bagi hamba baik secara individual maupun masyarakat karenanya istighfar dan tobat harus dilaksanakan. Dosa dan kemaksiatan dapat menghancurkan umat.
Sejarah telah membuktikan bahwa kehancuran suatu bangsa adalah karena kemaksiatan seperti yang terjadi pada bangsa Romawi, Yunani, Perancis pada waktu dahulu. Bangsa-bangsa ini jatuh karena maksiat yang merajalela. Perbuatan dosa pun dapat mendatangkan murka tuhan secara umum, terjadinya bencana semua karena kemaksiatan manusia seperti topan, banjir, kelaparan, gempa dan lain-lain. Dosa dan kemaksiatan dapat menghancurkan seseorang yang mengakibatkan terhalangnya mendapatkan ilmu yang bermanfaat karena ilmu adalah cahaya yang Allah limpahkan ke dalam jiwa seseorang. Namun dosa dan kemaksiatan dapat memadamkan cahaya itu.
Tertutupnya jalan dan segala pintu apabila berhadapan dengan suatu problema sehingga sulit untuk diselesaikan. Keterasingan jiwa dari Allah SWT sehingga hidup lebih jauh daripadanya, gelapnya jiwa dan hati, lemahnya fisik dan mental, tertutupnya pintu hati dan hapusnya berkat umur, tertancapnya kehinaan didalam diri dan piciknya akal pikiran.
Hilangnya nikmat dan munculnya kesengsaraan “tidaklah sirna suatu kenyamanan melainkan lantaran dosa dan tidaklah datang kesengsaraan melainkan akibat kemaksiatan. Wallahualam.” (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-lc-ketua-mui-kalsel.jpg)