Jendela
Ibadah Wisata Umrah
Jika seseorang berbuat dosa kepada sesama manusia, maka dia juga harus meminta maaf kepadanya.
Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari
BANJARMASINPOST.CO.ID - DALAM dua minggu terakhir, beberapa orang yang saya kenal bercerita tentang sulitnya mendapatkan pesawat dari Jakarta ke Banjarmasin. Penumpang hampir selalu penuh. Semula saya mengira mereka adalah sisa-sisa pemudik lebaran atau para pekerja di proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di provinsi tetangga. Ternyata tidak. Mereka adalah jemaah umrah yang ramai-ramai mengisi pesawat.
Kini ibadah (wisata) umrah kembali bangkit setelah terbenam lebih dari dua tahun akibat pandemi Covid-19. Ibarat tanggul yang jebol, semangat orang untuk pergi umrah mengalir deras tak tertahankan. Agen-agen perjalanan haji dan umrah kian sibuk, termasuk beberapa yang tega menipu dan merampas uang jemaah. Biasanya agen itu menawarkan biaya yang cukup murah disertai janji-janji indah. Akibatnya, yang tertipu seringkali orang-orang kelas bawah, yang menabung rupiah demi rupiah. Dapat dibayangkan, betapa besar kesedihan yang mereka alami.
Meski kasus penipuan itu kadang terkuak satu dua, agen-agen perjalanan yang baik dan terpercaya jauh lebih banyak. Mereka sudah berpengalaman puluhan tahun dalam mengelola haji dan umrah, dengan jaringan yang kuat hingga di tanah suci. Karena itu, walau tetap harus berhati-hati terhadap penipuan, gairah orang untuk umrah tetap menggebu. Apalagi, sejak beberapa dasawarsa terakhir, antrean naik haji di negeri kita cukup lama bahkan sangat lama. Umrah merupakan alternatif bagi mereka yang sudah ingin ke tanah suci sementara antrean haji masih terlalu lama untuk ditunggu.
Selain itu, umrah tampaknya bukan sekadar ibadah, melainkan juga wisata, plesiran atau rekreasi, terutama bagi kelas menengah dan atas. Mereka tidak hanya umrah ke Mekkah dan Madinah dan menginap di hotel-hotel berbintang, melainkan juga jalan-jalan ke Turki, Yaman atau Mesir. Mungkin mereka mengalami stres, lelah dan bosan dengan aneka tuntutan hidup zaman ini, sehingga ‘sakit’ dan perlu rekreasi sebagai healing. Rekreasi yang memadukan ibadah dan wisata adalah pilihan yang menarik bagi masyarakat kita yang sering menonjolkan simbol-simbol keagamaan.
Umrah juga bisa berupa perpaduan ibadah dan politik. Seorang calon penguasa yang ingin terpilih (lagi) kadang memberi hadiah umrah kepada tokoh-tokoh yang berpengaruh di masyarakat dengan harapan ketika pemilu nanti mau mendukungnya dan mendongkrak suaranya. Bagi sebagian orang, umrah gratis itu ibarat durian runtuh, kebetulan yang tertalu sayang untuk ditolak. Mereka tak sungkan dan malu jika uang yang dipakai adalah uang rakyat, meski tujuannya belum tentu untuk kepentingan rakyat. Doa-doa pun dipanjatkan di tanah suci agar sang calon nanti menang.
Sebagai ibadah, umrah adalah sarana untuk meningkatkan kualitas keberagamaan seseorang. Tak jarang, ada orang yang pergi umrah berharap dosa-dosanya akan diampuni Tuhan. Kesadaran bahwa diri banyak melakukan dosa dan ingin bertobat adalah suatu kemajuan rohani. Dengan berada di tanah suci, mungkin orang berharap Tuhan terasa lebih dekat dan mudah menerima tobatnya. Apalagi dikatakan bahwa umrah dapat menjadi penebus dosa. Seorang pembimbing ibadah umrah suka mengutip hadis berbunyi “Umrah ke umrah adalah penebus dosa di antara keduanya.”
Namun patut diingat, menurut Imam Nawawi dalam Riyâdh al-Shâlihîn, tobat yang benar harus memenuhi beberapa syarat: berhenti melakukan dosa, menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan dan bertekad tidak akan mengulanginya. Jika seseorang berbuat dosa kepada sesama manusia, maka dia juga harus meminta maaf kepadanya. Karena itu, jika seseorang beranggapan bahwa dengan umrah dosa-dosanya otomatis terhapus sehingga setelah pulang tetap melakukan dosa-dosa (karena toh nanti umrah lagi), maka sesungguhnya dia telah mempermainkan Tuhan.
Namun, apapun kiranya motivasi manusia, secara fisik umrah adalah sebuah perjalanan menuju ‘rumah’ Allah. Tubuh atau jasmani adalah kendaraan bagi roh. Tubuh itu lahir, roh itu batin. Tubuh itu materi, roh itu kesadaran. Manusia adalah perpaduan dari kedua-duanya. Meskipun mungkin saja gerakan tubuh terjadi tanpa kesadaran, pada umumnya kesadaran membersamai tubuh. Karena itu, perjalanan tubuh menuju Allah, yang dalam umrah dan haji disimbolkan dengan Ka’bah sebagai pusat/kutub kehidupan, sedikit banyak juga adalah gerakan kesadaran menuju kepada-Nya.
Pada akhirnya, manusia akan rindu kepada asal-usulnya yang sejati. Yang membedakan manusia satu sama lain adalah kadar lemah dan kuatnya tarikan kesadaran untuk kembali kepada-Nya itu. Ada yang berhasil melonggarkan dirinya dari ikatan-ikatan godaan duniawi, dan adapula yang masih sangat terikat sehingga panggilan-Nya hanya terdengar jauh dan sayup. Namun, jika orang memang sungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya, maka seperti Hamzah Fansuri yang “mencari Tuhan di Bait al-Ka’bah”, dia “akhirnya bertemu di dalam rumah”, yakni di dalam hatinya sendiri.
Dalam konteks lain, Jujun Suriasumantri berpuisi:
Telah jauh perjalanan kita
Namun berakhir di situ jua
Kita bertemu dengan diri kita sendiri
Di mana pun kita berada
Dan pulang ke rumah semula
Betapa jauh pun kita berkelana
Sebab di mana pun kita betah
Di sanalah rumah kita
Di mana pun kita berumah
Kita tetap memijak bumi yang sama
Dan di mana langit dijunjung
Di situ pulalah Tuhan berada (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Prof-DR-H-Mujiburrahman-MA12.jpg)