Opini
Membaca Sikap Mendua Jokowi
BELAKANGAN ini publik gaduh isu politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) bermain politik dua kaki. Awal mula tudingan bermain politik dua kaki bermula.
Oleh: Paulus Mujiran
Pengamat Politik dan Alumnus Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang
BELAKANGAN ini publik gaduh isu politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) bermain politik dua kaki. Awal mula tudingan bermain politik dua kaki bermula dari endorse Jokowi kepada Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Sementara di kesempatan yang berbeda meng-endorse calon presiden (capres) PDIP dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Sinyal pernyataan Jokowi tersirat seperti, “bisa jadi pada Pilpres 2024 justru Pak Prabowo bakal keluar sebagai pemenang dan terpilih sebagai presiden” (Kompas, 7 November 2022). Sementara terhadap Ganjar menurut Jokowi, “Seorang pemimpin yang memikirkan rakyatnya akan terlihat dari rambutnya. Jokowi juga menyinggung ‘rambut putih’ yang disebutnya sebagai pemimpin yang memikirkan rakyat”. (Detik.com, 22 November 2022).
Ketiganya pun kerap tampil di acara-acara yang diadakan pemerintah. Kemesraan Jokowi, Prabowo dan Ganjar tak berhenti disitu. Sinyal endorse Jokowi diperkuat dengan sikap anak-anak Jokowi yang ditengarai mendukung Prabowo Subianto. Anak bungsu Jokowi Kaesang Pangarep misalnya memakai kaos bergambar Prabowo Subianto dan viral di media sosial.
Sementara si anak sulung Walikota Solo Rakabuming Raka selain menggelar pertemuan dengan Prabowo juga pernah menyatakan kalau relawan Gibran ada yang mendukung Ganjar dan ada yang mendukung Prabowo. Sikap Jokowi dan anak-anaknya yang dikesankan di satu sisi mendukung Prabowo sekaligus mendukung Ganjar membingungkan publik.
Pertama, Jokowi ingin memastikan bahwa baik Prabowo maupun Ganjar benar-benar maju sebagai calon presiden karena keduanya telah memiliki kendaraan politik untuk maju. Ganjar Pranowo sudah diusung oleh PDIP Perjuangan, PPP, Hanura dan Perindo sementara Prabowo Subianto sudah diusung oleh Partai Gerindra dan PKB. Saat ini Prabowo dan Ganjar berada di urutan pertama dan kedua elektabilitas capres yang dilakukan beberapa lembaga survei.
Sikap mendua yang ditunjukkan kepada publik dengan mendukung Prabowo dan Ganjar bisa jadi merupakan sikap hati hati Jokowi. Untuk tidak menyebut sikap main aman. Ganjar adalah kader PDIP yang sudah ditunjuk langsung oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi bakal capres. Sebagai kader PDIP Jokowi tegak lurus mendukung apapun keputusan ketua umum.
Namun di saat yang sama Jokowi tidak ingin menunjukkan rivalitas itu di internal kabinet. Hingga saat ini Prabowo adalah Menteri Pertahanan dalam Kabinet Jokowi. Tentu Jokowi tidak ingin membuat kegaduhan seperti halnya waktu Megawati terlibat konflik terbuka dengan Menkopolhukam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang akhirnya justru SBY lah yang mendapat simpati publik dan memenangi Pilpres.
Meski terkesan bermain dua kaki Jokowi di satu sisi mendukung Ganjar di saat yang sama tetap menunjukkan perhatian kepada Prabowo Subianto adalah strategi untuk ngemong keduanya. Satu karena anak buah di kabinet sementara satunya kader yang ditunjuk ketua umum partainya. Dengan total mendukung Prabowo akan dianggap merugikan PDIP yang sudah membesarkannya.
Sebab bisa jadi rivalitas terbuka justru menguntungkan Prabowo dan merugikan Ganjar Pranowo. Selain itu, sikap mendua pasti secara internal keluarga sudah dibicarakan. Ini mengingat baik Gibran maupun Kaesang tidak menunjukkan respon bermusuhan terhadap Prabowo Subianto. Kaesang mau memakai kaos bergambar Prabowo dan Gibran beberapa kali bertemu dengan Prabowo meski akhirnya ditegur DPP PDIP.
Kedua, endorse baik kepada Prabowo maupun Ganjar juga terkait dengan kesinambungan pembangunan yang telah dicanangkan Jokowi. Ini semacam ketidakpercayaann kalau yang terpilih bukan berasal dari kubunya gagasan besar pembangunan akan berantakan. Jokowi perlu memastikan bahwa pembangunan terutama infrastruktur, pembangunan ibu kota negara (IKN) benar-benar dilanjutkan oleh penggantinya. Jokowi juga belum dapat memastikan siapa yang akan memenangi Pilpres 2024 apakah Ganjar, Prabowo atau Anies karena mereka harus bertarung dulu dalam Pilpres.
Ketiga, Jokowi ingin memastikan bahwa presiden mendatang tetap melindungi Jokowi sebagai mantan presiden dan keluarganya. Oleh karena itu diperlukan sosok yang mengerti dan mau diajak kerjasama. Maklum Jokowi bukan ketua umum partai dan hanya petugas partai. Jokowi juga bukan elit salah satu partai politik. Dinamika politik dapat berubah sewaktu-waktu dengan cepat.
Keempat, endorse terhadap Prabowo karena boleh jadi Jokowi ingin memberi kesempatan kepada Prabowo satu periode saja 2024-2029 dan setelah itu diharapkan Prabowo Subianto memberikan kesempatan kepada Gibran Rakabuming Raka - sulung Jokowi menjadi presiden periode berikutnya saat usia Gibran sudah 40 tahun sesuai undang-undang. Sementara mendukung Ganjar jika langsung 2 periode Gibran baru dapat maju pada 2034 itupun saat pesona politik dan kharisma Jokowi sudah memudar.
Saat ini permainan politik dinasti tengah dimainkan Jokowi yang tanpa sadar memanfaatkan para ketua umum partai untuk mendukung gagasan besar ini. Apakah langkah Jokowi bermain dua kaki salah? Tidak juga sepanjang tidak mencampuri Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu yang independen. Namun mempengaruhi pemilih dengan mengarahkan pilihan rakyat mudah dituding menyalahgunakan kekuasaan.
Endorse terhadap Ganjar dan Prabowo bukan tidak menyisakan persoalan. Jokowi dapat dianggap turut “cawe-cawe” alias campur tangan dalam Pilpres 2024. Meski tidak melanggar aturan dan undang-undang tetap akan dianggap mengotori demokrasi. Legasi Jokowi sebagai pemimpin demokratis juga rentan diterpa isu miring. Jokowi rentan dituduh konflik kepentingan dan menyalahgunakan kekuasaan termasuk penyalahgunaan fasilitas negara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Paulus-Mujiran-Pengamat-Politik-Direktur-The-Soegija-Foundation-di-Semarang.jpg)